Mahabharata

Mahabharata (Sansekerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi. Continue reading

Posted in Mahabharata | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Sumpah Sang Kesatria Kurusetra

Dari atas sini semua tampak indah dan menawan. Pegunungan terhampar membiru seperti dinding kokoh yang memagari bumi Kurusetra. Sungai meliuk-liuk membelah rimba belantara menghantarkan airnya dari belahan gunung ke persawahan petani di kaki bukit. Kabut yang sebagian menutupi pegunungan dan lembah dibawah sana menambah keindahan bumi ini. Ditambah dengan nyanyian burung dan sinar matahari yang terhalang oleh awan tipis, membuat hati terasa enggan beranjak melewatkan ke-eksotisan bumi Kurusetra.

Selengkapnya baca disini

Posted in Mahabharata | Leave a comment

Jamadagni Menyuruh Ramabargawa Membunuh Ibunya

Ramaparasu juga bernama Ramabargawa , karena bersenjatakan Bargawastra. Ia juga bernama Ramawadung, karena bersenjatakan kapak (wadung). Ramaparasu adalah putra bungsu dari Brahmana Jamadagni yang beristrikan Dewi Renuka. Jamadagni semula adalah seorang raja, tetapi kemudian ia mengambil keputusan akan hidup sebagai pertapa. Meraka meninggalkan hidup kemewahaan duniawi dan ingin hidup damai dalam sebuah padepokan. Namun tak lama kemudian datanglah suatu malapetaka yang tidak terduga-duga menimpanya.

parasurama

Pada suatu hari, datanglah seorang raja Citrarata namanya yang sedang berburu dan kemudian singgah mandi di telaga dekat padepokan. Ia adalah seorang raja yang tampan dan cakap, serta memiliki suara merdu yang mampu menggoncangkan iman tiap gadis yang melihat dan mendengarnya. Pada saat itu Renuka kebetulan sedang memetik sayur-sayuran. Ia mengarahkan pandangan matanya kepada seorang laki-laki cakap yang polos sedang berdendang dalam telaga. Dewi Renuka yang sudah bertahun-tahun tersekap di tengah hutan, gugurlah imannya. Saking “kepencutnya” akhirnya timbul pikiran yang nekat. Lupalah ia akan norma-normal susila yang sudah bertahun-tahun dianutnya. maka dilepaskanlah busananya dengan perlahan-lahan dan dengan polos ia berenang mendekati sang satria menuruti birahinya yang sedang bergolak membentur-bentur dadanya.

Tak perlu diceriterakan lebih lanjut, maka tiba-tiba awan menjadi mendung, matahari berhenti menyinarkan cahaya, dan gelap gulitalah di kanan kiri telaga. Guntur, guruh, geledek gemuruh suaranya membelah angkasa, sedang dua insan yang sedang dimabuk asmara telah tenggelam dalam alunan asmara. Pendek kata “No comment”. Sedang Jamadagni; sebagai seorang yang sudah mencapai tingkat Brahmana, sudah tidak was-was lagi terhadap malapetaka yang menimpa kepada keluarganya.

Namun ia harus dapat menutupi kemarahan hatinya dan tidak boleh menuruti emosi gugatan lahirnya, maka dipanggilnya isterinya. Untuk waktu yang lama ia tidak berbicara sepatahpun. Kemudian berkatalah Jamadagni:

“Adinda Renuka, kini bunga melati yang tumbuh di tengah-tengah pertapaan telah layu. Tunjukkanlah aku, jalan apa untuk menyelamatkan bunga tersebut?”

Dewi Renuka tak dapat menjawab hanya menundukkan kepala dan tiba-tiba badannya menggigil, parasnya pucat sambil mencucurkan air mata. Hampir ia jatuh pingsan karena tak kuasa menahan getaran jiwanya.

Tiba-tiba kelima putra termasuk Ramabargawa, datang menghadap. Brahmana Jamadagni kemudian menceritakan kejadian yang telah menimpa ibunya. Kepada putra-putranya berkatalah Jamadagni:

“Hai putra-putraku, ibumu ini telah tersiksa hatinya, karena itu agar ibumu terlepas dari siksaan, bunuhlah ibumu sekarang juga.”

Bukan main terkejutnya putra-putra Jamadagni mendengera perintah ayahnya yang kejam itu. Satu persatu putranya yang diperintah tiada mau melaksanakannya, maka Jamadagni berkata dengan upatanya:

“Jika engkau sekalian tidak mau melaksanakan perintahku, kalian itu tak ubahnya binatang. Seketika itu juga keempat putranya menjadi binatang. Kini Ramaparasu lah yang mendapat perintah. Kata Jamadagni:

“Hai Ramaparasu, sanggupkah kau melaksanakan perintah ayahmu?”

Ramaparasu hanya menganggukkan kepala. Ia segera berdiri menyembah dihadapan ibunya. Ditariknya tali busur dan terlepaslah anak panah menembus dada ibunya jatuh terkulai ditanah tak bergerak. Darahnya menyembur membasahi seluruh lantai pertapaan. Ramaparasu datang bersembah kepada ayahnya dan sesudah itu Jamadagni berkata:

“Hai Ramaparasu, engkau satu-satunya putraku yang sanggup melaksanakan perintah ayahmu. Karena itu mintalah lima hal kepadaku, Dewa akan mengabulkan.”

Apakah permintaan Ramabargawa, marilah kita ikuti kisah selanjutnya….

Posted in Arjunasasrabahu | 1 Comment

Satiawan dan Sawitri

Satiawan dan Sawitri

Pada jaman dahulu kala di negeri Madra bertahtalah seorang raja bernama Prabu Aswapati yang berbudi luhur, adil dan bijaksana. Beliau mempunyai seorang putri yang bernama Dewi Sawitri yang cantik parasnya, laksana dewi Sri dari Kahyangan. Akan tetapi walaupun Sawitri mempunyai paras yang elok, tubuhnya yang indah menggiurkan, matanya seperti bunga saroja, namun Prabu Aswapati selalu bermuram durja, karena Dewi Sawitri yang sudah dewasa itu belum ada seorangpun yang meminangnya. Maka pada suatu hari Prabu Aswapati bersabda kepada putrinya: “Hai putriku Sawitri, waktu ini sudah saatnya kau harus bersuami. Tetapi karena sampai sekarang tak ada yang meminangmu, maka pilih dan carilah sendiri seorang sujana yang patut menjadi suamimu.”

Mendengar sabda ayahnya, Sawitripun segera bersujud dan pergi dengan tanpa berpikir lagi, karena malu atas perkataan ayahandanya itu. Dengan diiringi oleh beberapa pengawal berangkatlah Dewi Sawitri dengan kereta kencana memasuki hutan belantara menuju ke tempat pertapaan para Brahmana. Di tengah hutan tersebut Dewi Sawitri berjumpa dengan seorang pria yang tampan, Setiawan namanya. Ia putra dari seorang Brahmanaraja yang bernama Jumatsena. Brahmanaraja tersebut semula adalah seorang raja di negeri Syalwa, tetapi kemudian menjadi Brahmana karena cacat buta matanya, pada waktu
putranya masih kecil beliau cacat meninggalkan tahtanya yang telah dirampas oleh musuh. Setiawan yang dibesarkan di tengah hutan pertapaan itulah yang menjadi pilihan Dewi Sawitri.

Setelah seksama pengamatannya, kembalilah Dewi Sawtri menghadap ayahandanya dengan menceritakan pengalamannya. Tetapi betapa menyesalnya ketika mendengar sabda betara Narada yang saat itu berkunjung ke negeri Madra. “Aduhai raja Madra, putrimu ternyata kurang teliti memilih suami, walaupun Setiawan lurus dan luhur budinya, tetapi ia mempunyai cacat yang akan menghilangkan segala kebajikannya. Cacatnya itu hanya satu, yaitu “Setahun lagi Setiawan akan sampai pada ajalnya.”

Maka setelah mendengar sabda betara Narada itu raja Aswapati segera memerintahkan dewi Sawitri untuk memilih orang lain, agar kelak tidak menjadi janda. Tetapi apa jawab dewi Sawitri: “Duuh, ayahanda. Sekali patik memilih tidak akan lagi memilih orang lain, karena yang diputuskan oleh hati harus diucapkan dengan suara, kemudian dinyatakan dengan perbuatan, itulah pedoman hamba.”

Karena Sawitri tidak mau mengubah pendiriannya, maka Prabu Aswapati menyediakan peralatan perkawinan menurut adat. Dan dikawinkanlah Sawitri dengan Setiawan, sejak saat itu Sawitri diboyong ke hutan pertapaan. Sawitri selalu menyenangkan suaminya dengan perkataan manis dan kebaktian serta kesetiaannya yang luar biasa. Tetapi tubuh Sawitri makin hari makin susut karena siang malam selalu ingat akan perkataan yang disabdakan oleh betara Narada.

Hari berganti hari, maka sampailah hari yang keempat sebelum Setiawan meninggal, Sawitri telah berjanji akan berdiri tegak selama 3 hari 3 malam. Walaupun Brahmanaraja Jumat Sena telah meminta untuk mengubah janjinya namun Sawitri tetap dalam pendiriannya. Tepat pada hari Setiawan akan menemui ajalnya, pagi – pagi Dewi Sawitri menghampiri suaminya dan berkata, “Janganlah kakanda hari ini pergi seorang diri ke hutan karena adinda tak kuasa bercerai dengan kakanda. Perkenankanlah hamba bersama kakanda pergi ke hutan mencari kayu.” Ujar Setiawan sambil mendelik, “Hai adinda, kau belum pernah menempuh hutan selebat itu, bagaimana adinda dapat berjalan? Padahal adinda terlalu lemah akibat terus berpuasa dan bertapa.”

Jawab Dewi Sawitri, “Hamba tidak lelah oleh puasa dan apa yang telah hamba putuskan harus hamba kerjakan.” Brahmaraja Jumat Sena dan Setiawan setelah mendengar ucapa Dewi Sawitri itu terpaksa mengabulkan permintaannya, karena selama berada di pertapaan Dewi Sawitri belum pernah mengajukan sesuatu permintaan. Maka berjalanlah Dewi Sawitri di belakang suaminya dengan rasa pilu dan teriris – iris sambil menantikan saat yang telah ditetapkannya itu. Setelah mengumpulkan buah – buahan di keranjangnya, maka mulailah Setiawan membelah kayu. Tetapi tiba – tiba keluarlah peluh yang membasahi tubuhnya dan menyebabkan terasa sakit di kepalanya.

Dengan sempoyongan Setiawan menghampiri Dewi Sawitri sambil berkata, “Adinda, kepala kakanda bagai ditikm lembing rasanya, sehingga kakanda tak kuasa berdiri, biarlah kakanda tidur sejenak.” Maka Dewi Sawitri menghampiri suaminya, kemudian duduk bersimpuh di tanah. Kepala Setiawan diletakkannya di haribaannya. Lalu ia teringat akan sabda batara Narada, serta sadar bahwa inilah saat ajal Setiawan jam dan harinya telah tiba. Pada saat itu juga datanglah seorang yang bermahkota merah, matanya merah, seram sikapnya dengan sebuah jerat di tangannya, sungguh – sungguh menakutkan
ujudnya. Ia adalah batara Yama dan berdiri di sisi Setiawan.

Kemudian ia berkata, “Hai Sawitri, suamimu hidupnya telah habis.” Dan barata Yama pun berjalan pergi dengan menjerat serta membawa nyawa Setiawan. Dewi Sawitri, istri yang setia yang telah memenuhi
janji itu dengan rasa pilu mengikuti batara Yama. Maka sabda batara Yama, “Kembalilah hai Sawitri, berbuatlah untuk merawat mayat suamimu, kau telah memenuhi segala kewajiban terhadap suamimu.” Jawab Sawitri, “Ke mana junjungan patik dibawa, ke situlah patik pergi.

Oleh karena itu janganlah ditolak perjalanan patik.” “Perkataanmu sungguh tinggi artinya, oleh karena itu mintalah sesuatu pasti akan kukabulkan asalkan jangan minta mayat suamimu dihidupkan kembali.” Jawab Sawitri, “Kembalikan kerajaan, kekuasaan, dan kesehatan mertua patik sehingga beliau dapat melihat kembali.” Sabda batara Yama, “Permintaanmu akan kuberi, dan kembalilah kamu supaya tidak payah di jalan.” Tetapi kata Dewi Sawitri, “Patik tidak akan payah selama berdampingan dengan suami patik, karena sekali patik bercampur dengan seorang yang berbudi, selama itulah patik akan mengabdi.” Sabda sang betara Yama, “Perkataanmu sungguh menyenangkan orang budiman, oleh karena itu mintalah sekali lagi, asal tidak minta hidupnya kembali Setiawan.” Jawab Dewi Sawitri, “Mohon
kami diberi 100 orang putra dan hidup di suatu kerajaan yang panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah tata tentram karta raharja.” Sabda batara Yama, “100 orang putra yang gagah perkasa,
bahagia sempurna akan kuberi dan sekarang kembalilah Sawitri, karena kau telah berjalan terlalu jauh.”

Dewi Sawitri berucap, “Bagaimana patik dapat berputra 100 orang, apabila patik tidak bersuami, tak ada gunanya patik selamat dan bahagia, jika suami patik tak ada. Oleh karena itu hidupkanlah Setiawan junjungan patik.” Batara Yama bersabda, “Baiklah kulepas nyawa suamimu, berbahagialah engkau dengan junjunganmu. Dan Setiawan akan kuberi usia 100 tahun.”

Sesudah mengabulkan permintaan Dewi Sawitri, maka lenyaplah batara Yama dan pergilah Sawitri ke tempat suaminya berbaring. Dengan perlahan – lahan duduk bersimpuh dan mengangkat kepala Setiawan ke haribaannya. Tak lama kemudian Setiawan membuka matanya bagaikan orang tidur terlalu lama. Dewi Sawitri dengan perasaan haru, sambil menyanggul rambutnya memelukkan tangannya kepada suaminya.

Waktu itu hari telah larut malam. Kedua insan yang berbahagia itu sedang bersiap – siap hendak pulang ke pertapaan. Sementara itu Prabu Jumat Sena yang berada di pertapaan sangat terkejut karena tiba – tiba ia dapat melihat kembali. Dengan rasa bersyukur dan bahagia kepada Yang Maha Kuasa, beliau menanti kedatangan putra – putranya. Tak lama kemudian datanglah Setiawan dengan Dewi Sawitri dan sambil bersujud, berceritalah Dewi Sawitri di hadapan mertuanya apa yang telah dialaminya selama di hutan, serta perjumpaannya dengan batara Yama.

Posted in Arjunasasrabahu | Leave a comment

Arjuna Sasrabahu Dan Ramabargawa Mencari Wisnu

Tak terhitung jumlah golongan satria yang telah dibunuh dengan senjata kapak dan Bargawastranya.

1-ramaparasu

Nama Ramaparasu sangat ditakuti oleh segenap satria diseluruh penjuru dunia. Akibatnya setiap ada kabar, bahwa kampung dan kotanya akan dilalui oleh Ramabargawa terjadilah evakuasi yang “semrawut” secara besar-besaran. Pekerti Ramabargawa ini sebetulnya sadis dan kejam, bahkan melanggar sumpahnya sendiri. Mengapa? Ramabargawa telah bersumpah akan membunuh setiap satria yang ia temui karena ia menganggap bahwa golongan satria yang melakukan pembunuhan diklasifikasikannya sebagai pembunuh. Karena itu golongan satria harus dimusnahkan. IA benci kepada pembunuhan. Nah, disinilah letak ironi dan kalutnya pemikiran Ramabargawa.

Ia lupa bahwa apa yang dianggapnya benar itu sebetulnya malahan justru yang ia kutuk sendiri. Ia lupa bahwa dirinya sendirilah sebagai pembunuh yang sadis, kejam dan tak mengenal perikemanusiaan. Kalau ia konsekwen, seharusnya ia harus membenci dirinya sendiri, bahkan ia harus membunuh dirinya sendiri. Dan memang demikianlah akhirnya yang terjadi atas dirinya.

Pada suatu saat mencapai puncak kecapaian, Ramabargawa lalu istirahat. Ia duduk “ongkang-ongkang” sambil merenungi segala perbuatannya yang sadis itu. Di sinilah terjadi dialog yang dahsyat membentur-bentur dadanya, hampir-hampir ada serangan jantung menyerang dirinya. Ia mulai ragu-ragu dan skeptis atas tindakannya sendiri.

Pikirnya : “Kalau tindakanku ini benar, mestinya tidak lagi dilahirkan golongan satria. Tetapi kenyataannya, walaupun golongan satria sudah banyak yang kubunuh, tetapi toh sampai kini tetap dilahirkan satria, bahkan makin banyak jumlahnya. Kalau begitu mungkin akulah yang salah dan berdosa. Jadi kalau begitu sia-sia belaka pekerjaanku selama ini.”

Demikianlah ia mulai ragu. Pendek kata Ramabargawa mulai bimbang, ragu, dilemma, skeptis, putus asa, “nglokro”, murung, sesak nafas dan mulai ia terjangkit maag, sakit perut, psikosomatik, pening kepala, migraine, tekanan darah tinggi bahkan cholesterol naik sampai 400. Pendek kata terjadi komplikasi, baik dalam fisik maupun dalam mentalnya. Akhirnya ia membenci kepada dirinya sendiri.

Karena ia sudah terlanjur sumpah, bahwa hanya dapat mati oleh tangan Wisnu, maka ia berdiri sambil menyandang senjatanya menantang sejadi-jadinya berteriak mengumpat dan mengaum sebagai harimau lapar dan menghilang dalam kegelapan untuk mencari Wisnu. Ramabargawa ingin membunuh dirinya sendiri, ia mengembaara tak tahu tujuannya. Tak lama kemudian ia mendengar ada seorang raja Agung Binatara di Maespati, Harjuna Sasrabahu namanya. Prabu Harjuna Sasrabahu dipastikan olehnya sebagai penjelmaan Wisnu, karena Sang Raja mempunya ciri-ciri khas sebagai titisan Wisnu. Ia dapat tiwikrama menjadi Brahala, memiliki senjata cakra dan awas, waskita, tajam pandangannya (ngreti sakdurunge winarah), mengerti segala kejadian yang akan datang. Kalau sekarang orang semacam itu namanya “futuroloog”.

Dilain pihak Prabu Harjuna Sasrabahu pada saat itu juga sedang frustasi dilemma, bingung, tidak puas terhadap segala yang ia lihat ia rasakan dan ia alami. Ia telah jatuh dan tertimpa tangga. Karena Patih Sumantri yang ia sayangi telah gugur oleh Rahwana. Isterinya Dewi Citrawati yang ia cintai telah “nglalu” (bunuh diri) oleh tipu Kalamarica. Negara yang dibangunnya telah hancur lebur oleh bencana alam dan perang melawan Alengka. Ia pergi meninggalkan istana mencari mati. Oleh karena ia percaya bahwa hanya dapat mati oleh Wisnu, maka ia juga mencari Wisnu.

Secara lahiriah keputusan Harjuna Sasrabahu adalah suatu keputusan yang konyol. Namun apa yang hendak dikata. Itulah hidup. Harga, derajat dan semat kemuliaan serta kemewahan kadang kala membuat rasa bahagia, tetapi kenyataannya kalau salah penerapannya lebih banyak membawa malapetaka.

Suatu kenyataan, bahwa harta menyebabkan orang menjadi mentala (samapai hati) terhadap sesamanya, yang oleh filsuf Heidegger (Jerman) disebut ” “Homo homini lupus”. Yaitu bahwa sesungguhnya manusia (kalau sudah sampai pada harta, wanita dan kedudukan) merupakan serigala bagi sesamanya. Pendek kata kini Ramabargawa dan Harjuna Sasrabahu “concruent” sama dan sebangun, yaitu sama-sama mencari mati. Yang satu Wisnu dan yang lain mencari Wisnu atau kedua-duanya mencari Wisnu, atau kedua-duanya sama-sama hanya manusia biasa, atau malahan Wisnu kedua-duanya. Jadi dengan demikian kedua-duanya sama-sama mencari dirinya sendiri, apakah itu mungkin? Mungkin sekali, karena Wisnu berada di dalam dirinya sendiri. Bukankah kitab suci mengajarkan : Barang siapa mengenal dirinya sendiri, niscaya mengenal “Tuhannya”.

Kalau demikian halnya, kita telah memulai memasuki wilayah mistik. Memang benar, bahwa perjalanan Ramabargawa dan Harjuna Sasrabahu mencari Wisnu itu melambangkan orang sedang menjalankan “laku” (tao/tarekat). Karena pada hakekatnya mistik adalah suatu cara berjalan dan beramal, untuk sampai berada dekat dan bersatu dengan Sang Penciptanya.

Apakah yang terjadi bila nanti Ramabargawa dan Harjuna Sasrabahu sudah bertemu?

Posted in Arjunasasrabahu | Leave a comment

Asal Usul Candrabirawa

Bermula sejak jaman Arjuna Sasrabahu dari riwayat Sumantri / Patih Suwanda. Patih Suwanda sebenarnya adalah anak Resi Wisanggeni bernama Sumantri dan mempunyai seorang adik yang berbadan kontet dan bermuka seperti raksasa bernama Sukrasana. Resi Wisanggeni adalah kakak Resi Bhargawa yang melanglang buana mencari Ksatria untuk bertarung dengan dalih mencari kematian bagi dirinya sendiri — pada akhirnya Resi Bhargawalah yang membunuh Arjuna Sasrabahu dan dikemudian hari gugur ditangan Rama. Sumantri menjelma menjadi seorang ksatria yang sakti gagah perkasa berkat ajaran Resi Wisanggeni, sementara Sukrasana biarpun berbentuk seperti raksasa mempunyai budi pekerti yang sangat luhur.

arjunasasrabahu0

Suatu ketika, Sumantri dan Sukrasana sedang berjalan didalam hutan. Sukarsana yang bertubuh kecil merasa cape dan minta istirahat. Ketika beristirahat, Sukarsana tertidur pulas dan saat itu juga datanglah sebuah raksasa lapar yang ingin memakan Sumantri dan Sukarsana. Sumantri dengan sigap membopong adiknya yang tertidur lelap dan melarikan diri kedalam hutan. Setelah cukup jauh, Sukarsana dibaringkan di tempat yang aman sementara Sumantri berusaha menghadang raksasa tersebut. Walau bertarung sekuat tenaga, Sumantri tidak bisa mengalahkan raksasa tersebut. Sumantri hampir kehabisan tenaga ketika Betara Indra datang dan mempersembahkan panah Cakrabiswara kepadanya. Sumantri segera melepas panah itu kearah sang raksasa dan dalam sekejap raksasa tersebut mati. Setelah berhasil membunuh raksasa, Sumantri teringat pada adiknya dan segera mencari Sukarsana. Sumantri sangat terkejut melihat binatang2 buas di dalam hutan ternyata berkumpul disekililing Sukarsana demi menjaga keselamatannya. Sumantri bertanya kepada Sukarsana ajian apa yang dimiliki olehnya sehingga bisa menguasai binatang2 buas. Sukarsana menjawab bahwa ia tidak memiliki ajian apapun, hanya selama hidupnya dia tak pernah menganggu ataupun melukai binatang2 sekecil apapun. Kedua bersaudara kemudian pulang ke padepokan untuk menceritakan kejadian ini kepada Resi Wisanggeni. Oleh sang resi diceritakan bahwa orang yang memiliki Cakrabiswara merupakan kekasih Betara Wisnu, sementara yang dilindungi binatang2 liar artinya adalah orang yang berbudi luhur dan merupakan kekasih Betara Dharma.

sumantri_solo

Tak lama setelah itu, Sumantri bertanya kepada Resi Wisanggeni mengenai kesaktian ilmunya. Sang resi berkata bahwa Sumantri telah menjadi ksatria yang gagah perkasa dan hanya beberapa orang yang bisa melawan kesaktiannya. Sumantri kemudian berkata bahwa ilmunya harus digunakan untuk melayani sesama umat manusia dan dia meminta ijin kepada Resi Wisanggeni untuk meninggalkan padepokannya. Dengan berat hati Resi Wisanggeni memberi ijin, tapi Sumantri diharuskan mengabdi kepada Raja Mayaspati/Maespati (*ngga yakin namanya*) – Prabu Arjuna Sasrabahu yang terkenal adil bijaksana. Karena kesian pada adiknya, Sumantri sengaja tidak mengajak Sukarsana karena takut dia akan dicemooh akibat bentuknya. Sumantripun berangkat menuju Mayaspati ketika Sukarsana sedang tidur.

Ketika bangun, Sukarsana bingung karena kakaknya telah menghilang. Sukarsana bertanya kepada Resi Wisanggeni kemana kakaknya menghilang. Ketika diberitahukan, Sukarsana tidak rela berpisah dengan kakaknya dan memutuskan untuk mencari kakaknya di Mayaspati. Dalam perjalanannya, Sukarsana merasa capai dan berisitrahat di sebuah pohon besar yang teduh. Tiba2 dia dikejutkan oleh suara besar dari dalam pohon itu. Suara itu berasal dari Candra Birawa yang sedang menunggu kedatangan kekasih Betara Dharma supaya dirinya bisa menitis kedalam tubuh Sukarsana. Sukarsana menjadi bingung dan bertanya mengenai asal usul Candra Birawa. Candra Birawa pun menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya diciptakan dari gabungan raksasa2 yang menyerang Swargaloka. Raksasa2 itu punah dikalahkan oleh para dewata tapi oleh Betara Guru dihidupkan kembali menjadi satu badan dan diberi nama Candra Birawa. Tapi Candra Birawa tidak boleh sembarangan berkeliaran di mayapada, dia diharuskan bersatu dengan kekasih/keturunan Betara Dharma karena di tangan orang yang salah, Candra Birawa sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kekacauan di mayapada. Setelah dijelaskan asal usulnya, Sukarasana masih sangsi untuk memperbolehkan Candra Birawa untuk masuk berdiam dalam tubuhnya. Candra Birawa kemudian menjelaskan bahwa jika tubuhnya menjadi satu, Sukarsana akan menjadi lebih sehat dan kuat, selain itu jika dalam kesulitan Sukarsana tinggal singkep memangil Candra Birawa dan dirinya akan segera muncul untuk membantu. Dalam pertarungan, Candra Birawa sangat sakti karena setiap tetes darahnya akan menjadi Candra Birawa baru. Sukarsana pun setuju dan memperbolehkan Candra Birawa untuk masuk ke dalam tubuhnya. Dalam hatinya, Sukarsana berpikir bahwa Candra Birawa ini lebih cocok jika diberikan kepada saudaranya Sumantri.

citrawati_solo

Sementara itu, Sumantri telah mengabdi kepada Arjuna Sasrabahu dan berhasil merebut Dewi Citrawati. Sumantri juga sempat bertarung dengan Arjuna Sasrabahu dan yakin bahwa Arjuna Sasrabahu merupakan raja yang gagah sakti tanpa tandingan (Sumantri sempat seri melawan Arjuna Sasrabahu tapi langsung ketakutan begitu sang prabu menjadi marah dan bertiwikrama, ini merupakan bukti bahwa Arjuna Sasrabahu merupakan titisan Betara Wisnu). Dewi Citrawati kemudian mempunyai permintaan kepada Arjuna Sasrabahu, yaitu untuk memindahkan taman Sri Wedari dari swargaloka ke dalam Mayaspati. Tanpa berpikir panjang, Sumantri mengiakan permintaan Dewi Citrawati. Kemudian Sumantri ditinggal oleh Arjuna Sasrabahu dan Dewi Citrawati kedalam istana. Sumantri menjadi bingung, karena jangankan memindahkan taman Sri Wedari, letaknya saja dia tak tahu. Dalam keadaan linglung, Sumantri bertemu dengan adiknya Sukarsana yang sedang mencari dirinya. Sumantri bahagia melihat adiknya tapi kaget bahwa adiknya bisa sampai ke Mayaspati dengan selamat karena perjalannya jauh dan juga berbahaya. Oleh Sukarsana diceritakan mengenai Candra Birawa yang bersemayam di dalam dirinya. Sumantripun bahagia mendegar cerita adiknya tapi ketika teringat janjinya untuk memindahkan taman Sri Wedari dia kembali muram. Sukarsana sangat mengerti kakaknya, dalam sekejap dia tahu bahwa kakaknya sedang kepikiran sesuatu. Ketika ditanyakan, Sumantri menceritakan janjinya untuk memindahkan taman Sri Wedari. Sukarsana berpikir bahwa Candra Birawa bisa membantu abangnya untuk menyanggupi permintaan itu. Dengan singkep sebentar, Candra Birawa segera tampil dihadapan Sukarsana dan Sumantri. Sukarsana memberitahukan kesusahan kakaknya kepada Candra Birawa. Candra Birawa segera tahu bahwa yang meminta taman Sri Wedari pastilah titisan istri Betara Wisnu. Candra Birawa berkata bahwa dia bisa melakukan tugas tersebut tanpa masalah, Sukarsana dan Sumantripun diminta singkep menutup seluruh panca indra sementara Candra Birawa memindahkan taman tersebut. Dalam sekejap Candra Birawa menjadi ribuan dan taman Sri Wedari pun dipindahkan dari swargaloka ke Mayaspati.
Setelah berhasil, Sukarsana berniat untuk ikut dengan kakaknya mengabdi di Mayaspati. Sumantri kembali tidak tega dan menyuruh Sukarsana kembali ke padepokan. Tapi Sukarsana tetap bersikeras, Sumantripun mengeluarkan Cakrabiswara untuk menakut nakuti adiknya. Tanpa disangka2, Sukarsana tersandung dan tubuhnya tertusuk Cakrabiswara. Sebelum meninggal Sukarsana berkata pada kakaknya bahwa dia tidak sempat memberikan Candra Birawa kepada Sumantri dan memohon kepada dewata agar di kehidupan selanjutnya Sukarsana bisa kembali dekat dengan kakaknya.

candrabirawa1

Di kemudian hari, Sumantri menitis kepada Narasoma (Prabu Salya) sementara Sukarsana (+ Candra Birawa) menitis kepada Resi Bagaspati yang juga berbentuk seperti raksasa hanya tidak kontet.

Resi Bagaspati mempunyai seorang putri bernama Dewi Pujawati, suatu ketika Narasoma sedang berburu dan ketika melihat Dewi Pujawati langsung terkesima oleh kecantikannya. Narasomapun mengikuti Dewi Pujawati untuk bertemu Resi Bagaspati.

bagaspati_ensik

Ketika keduanya ditanya oleh Resi Bagaspati, mereka berkata bahwa telah mencintai satu sama lain. Narasoma dan Pujawati pun dinikahkan saat itu juga oleh Resi Bagaspati. Narasoma sangat sayang pada istrinya Pujawati, tetapi ketika ditanya seperti apa cintanya kepada Pujawati, Narasoma berkata bahwa cintanya seperti beras putih yang bersih. Kemudian Narasoma menambahkan bahwa sayang beras putih pun ada gabahnya. Pujawati sangat bingung oleh perkataan Narasoma dan dia bertanya kepada Resi Bagaspati. Sang resi yang bijaksana segera tahu bahwa yang dimaksud oleh Narasoma ialah dirinya, karena tidak mungkin seorang pangeran penerus tahta kerajaan mempunyai mertua seorang raksasa. Sang resi menenangkan Pujawati dan menyuruhnya untuk memanggil Narasoma. Ketika Narasoma menghadap Resi Bagaspati, dijelaskan bahwa dalam tubuh Resi Bagaspati bersemayam Candra Birawa sebuah mahkluk berbadan halus yang sangat sakti.

bagaspati

Karena Narasoma kini bertanggung jawab akan keselamatan Pujawati, Resi Bagaspati akan memberikan Candra Birawa kepadanya. Mereka berdua kemudian bersemedi dan terlihat Candra Birawa pindah dari Resi Bagaspati ke tubuh Narasoma. Sang resi kemudian lanjut semedinya dengan menahan napas, tak lama kemudian tubuh Resi Bagaspati menghilang dari pandangan. Pujawati yang melihat kejadian ini menjadi kaget dan menangis. Sementara itu Narasoma mendegar suara sang resi yang menjelaskan bahwa dia sebenarnya adalah titisan Sukarsana yang ingin dekat pada kakanya Somantri yang menitis pada tubuh Narasoma. Resi Bagaspati bersemedi untuk mendapat anak perempuan yang bisa dijodohkan dengan dirinya dan juga supaya bisa mewariskan Candra Birawa tapi sayang pada akhirnya Narasomapun telah berbuat salah kepada Resi Bagaspati seperti Somantri bersalah kepada Sukarsana. Narasoma kemudian diwanti2 bahwa mulai saat itu dia harus berhati2 kepada titisan/kekasih betara Dharma yang berikutnya karena pada saat itu dia akan gugur. Narasoma kemudian perganti nama menjadi Prabu Salya setelah menjadi raja.

Dalam perang Bharatayuda, Prabu Salya diangkat menjadi panglima perang Hastina sebagai pengganti Karna (urutannya: Bisma,Dorna,Karna,Salya).
Begitu melihat Prabu Salya turun ke medan danalaga, Sri Kresna segera mawas bahwa dia akan menjadi lawan yang berbahaya. Seluruh pasukan Pandawa diwanti2 supaya jangan gegabah melawan ksatria yang satu ini. Bimapun dengan sombongnya berkata bahwa Prabu Salya sudah tua dan kesaktiannya berkurang bisa dikalahkan oleh dirinya. Sri Kresna segera menceritakan kepada Bima dan Arjuna bahwa Prabu Salya memiliki Candra Birawa yang sangat berbahaya dan tidak boleh dianggap remeh.
Ketika perang dimulai, Bima segera menggasak tentara Kurawa. Prabu Salya sebagai panglima perang memajukan dirinya untuk mencegah Bima. Prabu Salya kewalahan melawan kekuatan Bima dan memutuskan untuk memanggil Candra Birawa. Bimapun bertarung dengan Candra Birawa tapi semakin lama Bima menjadi capai sementara Candra Birawa tetap mengganas. Arjuna yang melihat kakaknya dalam bahaya segera melepas panah. Sayangnya panah Arjuna melukai Candra Birawa, dan setiap tetes darahnya menjadi Candra Birawa baru. Bima semakin kewalahan melawan ratusan Candra Birawa, dan barisan pasukan Pendawa juga semakin hancur diobrak abrik.
Melihat kejadian ini Sri Kresna segera mendatangi Arjuna dan mencegahnya untuk memanah Candra Birawa. Kemudian Sri Kresna bergerak ke garis belakang untuk bertemu Yudistira. Sri Kresna berkata bahwa Yudistira harus maju ke medan perang untuk mengalahkan Prabu Salya demi kemenangan Pendawa karena hanya Yudistiralah yang bisa mengalahkannya sebagai titisan Betara Dharma. Yudistira yang dikusiri oleh Nakula segera memasuki medan perang dan bertemu langsung dengan Prabu Salya. Yudistira segera memohon ampun kepada Prabu Salya atas kelancangannya berani melawan Prabu Salya. Prabu Salya menjawab bahwa dalam medan perang tidak perlu merasa lancang karena ini merupakan tugas Yudistira sebagai raja untuk membela tentaranya. Yudistira pun menjawab bahwa seumur hidup dia tidak bisa melukai orang, dia rela mengorbankan dirinya asalkan Candra Birawa ditarik kembali kedalam tubuh Prabu Salya. Sayangnya Candra Birawa tidak bisa ditarik kembali sebelum tugasnya selesai yaitu memusnahkan tentara Pendawa. Yudistira dengan berat hati mengambil busur dan panah. Tapi Yudistira tidak berani mengarahkan panahnya kepada Prabu Salya, panahnya kemudian diarahkan ke bawah. Dengan ajaib, panah Yudistira yang menyentuh tanah langsung memantul dan mengenai Prabu Salya. Prabu Salyapun gugur, sesuai dengan yang dikatakan Resi Bagaspati.

salya_solo2

Sekedar tambahan, sebenarnya Candra Birawa pernah sekali ditarik sebelum tuntas tugasnya. Kejadiannya ketika Narasoma bertarung melawan Pandu untuk memperebutkan Dewi Kunti. Pandu telah memenangkan sayembara dan Narasoma menantang Pandu dengan taruhan Dewi Madrim adiknya menjadi istri Pandu jika Narasoma kalah. Ketika bertarung, Narasoma kewalahan melawan kesaktian Pandu dan memanggil Candra Birawa. Akibatnya Pandu menjadi terdesak karena keris pusakanya tidak mempan terhadap Candra Birawa dan malahan menambah jumlah Candra Birawa. Pandu kemudian mengejek bahwa Narasoma tidak bisa bertarung sendiri perlu minta bantuan. Narasoma dengan sombongnya berkata bahwa Pandu juga bisa meminta bantuan kedua sodaranya, bahkan mengejek bahwa Dasarata disuruh maju kedepan biar diinjak2 oleh Candra Birawa. Mendengar ejekan Narasoma, Dasarata menjadi marah dan menyuruh Widura untuk menuntunnya kearah pertarungan. Setelah ditutun, Dasarata segera menyuruh Widura untuk menyingkir dan kemudian berteriak kepada Pandu supaya datang ke arah Dasarata. Pandu yang cerdas segera tahu rencana kakaknya itu dan segera melesat ke arahnya. Ketika Candra Birawa mengejar Pandu ke arah Dasarata, Pandu segera berdiri di belakang kakaknya dan Dasarata segera mengeluarkan Ajian Kumbalageni. Ajian Kumbalageni merupakan ajian dashyat yang membuat apa saja yang disentuh oleh Dasarata hancur menjadi debu. Candra Birawa tidak kuat melawan kesaktian ini dan kembali kedalam tubuh Narasoma. Pandu pun bergerak secepat kilat menyerang Narasoma, pukulan Pandu menyebabkan Narasoma terpental. Narasoma akhirnya mengaku kalah kepada Pandu dan berangkat menjemput Dewi Madrim untuk diberikan kepada Pandu.

Posted in Arjunasasrabahu | Leave a comment

Ramabargawa Bersumpah

Ramabargawa Bersumpah Akan Membunuh Semua Golongan Satria

romobargowo

“Permintaan hamba, pertama hidupkan kembali ibuku, kedua kembalikan keempat saudaraku seperti semula, ketiga hilangkan dosaku terhadap ibuku, ke empat berilah aku umur panjang, ke lima berilah aku kesaktian yang tiada tanding yang tiada taranya dan hanya dapat mati oleh tangan Dewa Wisnu sendiri”.

Demikian permohonan Ramabargawa kepada ayahnya setelah membunuh ibunya.

Permintaan Ramaparasu dikabulkan. Pendek kata ibu dan keempat saudaranya kembali seperti semula dan hidup rukun tak kurang suatu apa. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Malapetaka kedua menyusul menimpa keluarganya. Prabu Hehaya telah datang ke pertapaan dan merampas semua lembu, kerbau dan semua harta miliknya bahkan hampir juga akan memperkosa Renuka. Tentu saja Resi Jamadagni ingin mempertahankan apa yang telah dikumpulkan dan apa yang telah dimilikinya. Ada pepatah “senyari bumi sedumuk batuk”. Namun Prabu Hehaya dengan sangat kejam, sadis dan tanpa perikemanusiaan membunuh Jamadagni di depan isterinya. Ratap tangis menjerit membelah angkasa sampai terdengar oleh Ramaparasu yang ketika itu sedang berada di telaga pertapaan. Bukan main sakit hatinya ketika dilihat ayahnya yang sangat dihormati dan dicintainya telah meninggal dengan hina. Maka ia memeluk mayat ayahnya sambil sujud dan menciumi sejadi-jadinya.

Setelah sadar Ramaparasu berdiri tegak sambil berteriak bersumpahlah ia.

“Mulai saat ini aku bersumpah, bahwa demi kesejahteraan dan keselamatan manusia, aku ingin membunuh seluruh manusia yang telah datang membunuh ayahku. Aku membenci dharma satria yang sangat memuliakan perang. Padahal perang adalah jahat. Karena yang membunuh ayahku juga golongan satria, maka aku berjanji dengan senjata kapak, panah, dan Bargawastra ini akan kubunuh semua satria yang bertemu dengan aku”.

Setelah sujud dan memohon diri kepada saudara-saudarana, ia mengambil senjatanya dan menghilang dalam hutan belantara untuk melampiaskan sumpahnya.

Dapatkah Ramabargawa memaklumi sumpahnya? Baiklah kita lihat nanti.

Yang jelas dari lakon ini dapat diambil pelajaran bahwa: Jamadagni membenci kepada kehidupan laku raja dan apa yang disebut duniawi dan laku Satria.

Ceritera tersebut mengandung petuah: hidup janganlah melarikan diri dari sesuatu kesukaran yang dibenci. Karena kemanapun manusia pergi menyembunyikan diri, disitu pulalah akan berjumpa dengan apa yang dibencinya.

Oleh karena itu manusia harus berani menatap hidup dan mampu menjadi saksi bagi dirinya sendiri secara konkrit eksistensiel.

“Jangan menghendaki sesuatu yang melebihi kemampuanmu; mereka yang menginginkan sesuatu diatas kemampuannya sendiri berarti melakukan sesuatu yang mengandung kepalsuan yang penuh dosa.”

Disamping itu dalam cerita ini digambarkan bahwa manusia selalu dihadapkan suatu dilemma atau pilihan.

Jamadagni harus memilih, “membunuh isterinya atau membiarkan istrinya tersiksa”.

Sebaliknya Ramaparasu juga harus memilih “membunuh ibunya atau menentang ayahnya.”

Itulah yang dinamakan hidup. Manusia akan terus menerus dihadapkan kepada suatu pilihan dan harus memilih. Tidak memilihpun sudah berarti memilih.

Resi Ramabhargawa
Resi Ramabhargawa adalah putra dari seorang Resi yang bernama Wisahagni dan ibunya bernama dewi Renuka .urutan silsilahnya adalah:
Resi Wisahagni berputera 2 orang yaitu : R.Swandagni dan R.Ramabhargawa.
Raden Swandagni mempunyai 2 orang putera yaitu: R.Sumantri dan R.Sukasrana, dan setelah menjadi brahmana bergelar Resi Swandagni.
R.Ramabhargawa kemudian menjadi brahmana dan bergelar Resi Ramabhargawa.hidupnya berada di hutan,dan tidak ada yang boleh masuk hutan tanpa seijin darinya.banyak satria dan raja yang sedang berburu hewan dihutan itu.tanpa pandang bulu dibunuhnya.tahun demi tahun berlalu sampai akhirnya ada satria dari Ayodya yang bernama R.Rama reghawa (Ramawijaya) dan R.Lesmana yang memasuki hutan itu karena akan mengikuti sayembara di keraton Manthili.dihadanglah satria itu,perkelahianpun terjadi.karena R.Rama reghawa adalah titisan Dewa Wisnu , maka matilah Resi Ramabargawa.atas kehendak dewa, maka sukma Resi Ramabhargawa diangkat menjadi dewa dan diberi gelar Sang Hyang Rama Parasu atau Parasurama.

Posted in Arjunasasrabahu | Leave a comment

Prabu Dasamuka / Rahwana

Prabu Dasamukha / Rahwana,arogan tapi konsekwen

dasamuka (1)
Raja yang satu ini sangat kejam , arogan dan bengis , tapi tegas , konsekwen dan komitmen dari apa yang diucapkan dan dilakukan.kalau ada yang salah tetap disalahkan dan dihukum .bernama Dasamukha karena disaat tiwikrama atau marah kepalanya menjadi sepuluh dan tangannya pun menjadi sepuluh.punya keinginan harus terwujud dan terpenuhi.dimanapun akan dikejar sampai dapat.dan menghalalkan segala cara dan upaya.dan punya komitmen harus bisa menguasai 3 alam tanpa tertandingi , yaitu alam para dewa , manusia , dan jin.disaat mudanya gemar bertapa, sampai mendapat kesaktian berupa Aji Pancasonya 3 unsur alam ,yaitu : unsur api,angin(udara),dan air.belum puas dengan yang pernah didapat,Dasamukha bertemu dengan Resi Subali yang kebetulan permaisuri dari Dasamukha yang bernama Dewi Tari adalah adik dari Dewi Tara,permaisuri dari Resi Subali. Dasamukha meminta kepada Resi Subali agar mengajarkan aji Pancasonya unsur tanah.jadi Dasamukha mempunyai aji Pancasonya 4 unsur alam, api,angin(udara), air , tanah. selama masih ada 4 unsur alam itu , Dasamukha tidak mati.dari sinilah mulai arogan dan serakah dan angkara murka menjadi-jadi.dan semua sifat-sifat dan watak dari manusia ada pada tokoh ini.sampai akhirnya kalah juga oleh Prabu Ramawijaya atas bantuan Raden Hanuman.tubuh Dasamukha tertancap panah dan menembus ke tanah dan masih ditimbun dengan batu-batu yang sangat besar dan tanah yang tingginya sampai menyerupai gunung.Dasamukha tidak hidup dan tidak mati.Dasamukha tidak berkutik dan tidak dapat bergerak sedikitpun.

Posted in Uncategorized | Leave a comment