Mahabharata

Mahabharata (Sansekerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi. Continue reading

Posted in Mahabharata | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Mendung Di Atas Mandaraka

“Cinta terlarang sepanjang hidup. Cinta lewat belakang dijalani Arjuna dengan Banuwati hampir sepanjang kedewasaan keduanya. Perselingkuhan cinta keduanya bukanlah sebuah rahasia, tetapi keniscayaan ini telah menjadi rahasia umum. Bahkan suami Banuwati-pun sebenarnya mengetahuinya secara terang benderang”.

Bagi para muda atau bukan “suku wayang”, terkadang sulit untuk mencerna pertunjukan wayang karena keterbatasan pengenalan mengenai bahasa yang dipergunakan dalam pegelaran wayang. Untuk itu kami mencoba untuk mengenalkan wayang dengan segala aspeknya, baik alur cerita dengan banyak tokoh didalamya beserta silisilah dengan bahasa Indonesia. Cerita wayang yang demikian kompleks dengan segala macam kejadian pertentangan, konflik, intrik yang tentunya dibumbui dengan romantisme disana sini memang menjadi kendala bagi para muda atau bukan “suku wayang” tadi yang tadinya ingin mengetahui tentang wayang tetapi banyak yang tidak lagi berminat karena terbentur oleh masalah komunikasi, dalam hal ini bahasa. Cerita tentang kepahlawanan dari pewayangan akan kami beberkan dengan bahasa yang sebisanya mudah, sehingga gampang dimengerti.
Satu hal lagi, cerita ini kami rangkum dan kami ceritakan kembali dengan bebas, dari pagelaran Ki Nartosabdo. Kami anggap dalang ini yang dikenal piawai menceritakan detail alur cerita dan yang kami anggap runtut dan benar menurut pewayangan Indonesia. Cerita dari Ki Narto ini, juga banyak ditingkahi oleh dialog dialog dari para tokohnya yang kadang liku likunya tak terduga. Namun demikian, alih bahasa dari sastra pedalangan Ki Narto yang demikian tinggi dan indah, tidaklah akan dapat kami uraikan dalam bahasa Indonesia dengan utuh. Mohon kritiknya atas kekurangan kami dalam menyampaikan cerita ini karena kekurangannya itu.
Sumber : nn
Klik disini untuk melanjutkan membaca Mendung Di Atas Mandaraka
Posted in Mahabharata | Leave a comment

Ringkasan Perang Baratayuda

PERANG BARATAYUDA HARI KE 1-18 DI KURUSETRA INDIA

KURAWA ANGKATAN DARAT & SEKUTU MEREKA :

  • Bhagdatta, Kerajaan Pragjyotisha – 1 Akshauhini
  • Salya, Kerajaan Madra – 1 Akshauhini
  • Bhorisrawa, Kerajaan Bahlika – 1 Akshauhini
  • Kritawarma (Bhoja, Dwaraka tentara Kresna Klan Wresni & Andaka) – 1 Akshauhini
  • Jayadrata (Saindhava) – 1 Akshauhini
  • Sudakshina, raja Kambhoja – 1 Akshauhini (memiliki Yavanas & Sakas dalam pasukannya)
  • Winda dan Anuwinda (dari Awanti) – 1 Akshauhini
  • Nila, dari Mahishmati – 1 Akshauhini (dari selatan)
  • Lima Kekaya bersaudara – 1 Akshauhini
  • Bhisma, Resi Drona, Duryudana Kurawa Brothers – 2 Akshauhini Hastinapura, Indraprasta dan kerajaan lain

PANDAWA ANGKATAN DARAT & SEKUTU MEREKA :

  • Satyaki dari klan Wresni & Yadu, Kerajaan Youdheya – 1 Akshauhini
  • Kuntibhoja, Surasena – 1 Akshauhini (Kerajaan Kunti, Mathura dan Surasena jadi satu)
  • Dhrishtaketu, raja Chedi – 1 Akshauhini – anak dari Sisupala sepupu Kresna dan Pandawa    ketika Rajasuya di indraprasta di penggal kepalanya oleh Kresna.
  • Jayatsena, anak Jarasanda – 1 Akshauhini (dari Magadha) – Jarasanda, yang dibunuh oleh Bima sebelumnya, tapi anak itu memihak pembunuh ayahnya!
  • Drupada dengan anak-anaknya, Kerajaan Panchala – 1 Akshauhini
  • Wirata raja Matsya dengan anak-anaknya – 1 Akshauhini
  • Arjuna, Bima Pandawa Brother dan kerajaan lain – 1 Akshauhini (dijadikan satu Pandya, Malawa, Anarta, Chola, Kerala)

KERAJAAN PIHAK KURAWA

11 Aksauhini (11 divisi) atau 2.405.700 tentara.

Kerajaan Hastinapura ; Kerajaan Indraprasta (Milik Pandawa di kuasai Kurawa)
Kerajaan Dwaraka (Pinjaman tentara & Ksatria dari Kresna) ; Kerajaan Bhoja
Kerajaan Bahlika ; Kerajaan Madra ; Kerajaan Pandya ; Kerajaan Kekaya
Kerajaan Angga ; Kerajaan Pragjyotisha ; Kerajaan Awanti
Kerajaan Madhyadesa ; Kerajaan Gandhara ; Kerajaan Kamboja
Kerajaan Kalingga ; Kerajaan Saurashtra ; Kerajaan Gurjara
Kerajaan Karusha ; Kerajaan Dasarna ; Kerajaan Sindhudesa
Kerajaan Mahishmati ; Kerajaan Trigarta ; Pasukan Raksasa (Knight Alambusa)

KERAJAAN PIHAK PANDAWA

7 Aksauhini (7 divisi) atau 1.530.900 tentara,

Kerajaan Matsyah ; Kerajaan Panchala ; Kerajaan Kuntibhoja
Kerajaan Kerala ; Kerajaan Chedi ; Kerajaan Mathura
Kerajaan Pandya ; Kerajaan Chola ; Kerajaan Magadha
Kerajaan Youdheya ; Kerajaan Surasena ; Kerajaan Kasi
Kerajaan Malawa ; Kerajaan Anarta ; Pasukan Naga (Knight Irawan)
Pasukan Raksasa (Knight Gatotkaca) ; Kerajaan Salwa

Netral (Tidak Ikut dalam Perang)

- 1 Ksatria Dari Kerajaan Mathura (Baladewa Kakak Kresna)

- Kerajaan Widharba (Rukmi Kakak Ikpar Kresna, Kakak Rukmini)

Perhitungan lengkap untuk Akshauhini :

Sr. Unit Composition Foot soldiers Horses Chariots Elephants
1 Patti 3 —— ——- 5 3 1 1
2 Sena-mukha 3 Patti ——- 15 9 3 3
3 Gulma 3 Sena-mukha ——- 45 27 9 9
4 Gana 3 Gulma ——- 135 81 27 27
5 Vahini 3 Vahini Gana 405 243 81 81
6 Pritana 3 Pritana Vahini 1,215 729 243 243
7 Chamu 3 Chamu Pritana 3,645 2,187 729 729
8 Anikini 3 Anikini Chamu 109,350 65,610 21,870 21,870
9 Akshauhini 10 Akshauhini

Pasukan tersebut dibagi ke dalam aksohini (divisi). Setiap aksohini berjumlah 218.700 prajurit yang terdiri dari:

  • 21.870 pasukan berkereta kuda
  • 21.870 pasukan penunggang gajah
  • 65.610 pasukan penunggang kuda
  • 109.350 tentara darat (infantri)

Perbandingan jumlah mereka adalah 1:1:3:5. Pasukan Pandawa memiliki 7 divisi, dengan total pasukan 1.530.900 prajurit. Pasukan Korawa memiliki 11 divisi, total 18 Akshauhinis dengan total pasukan 2.405.700 prajurit. Total seluruh pasukan yang terlibat dalam perang adalah 3.936.600 orang

FORMASI PERANG :

  • KrauncaWyuha (formasi Bangau)
  • CakraWyuha (formasi Cakram / Melingkar)
  • KurmaWyuha (formasi kura-kura)
  • MakaraWyuha (formasi Buaya)
  • TrisulaWyuha (formasi trisula)
  • SarpaWyuha (formasi ular)
  • KamalaWyuha (formasi Bunga)
  • PadmaWyuha (formasi Teratai)
  • CandraWyuha (Formasi Bulan Sabit)
  • GarudaWyuha (formasi Garuda)
  • PalemWyuha (formasi Pohon Palem)
  • MandalaWyuha (formasi Perisai)

PANJI PERANG :

  • Bhisma (Pohon Palem & Lima Bintang),
  • Resi Drona (Mangkuk Pendeta & Busur Kuning).
  • Aswatama (Singa),
  • Duryudana (Ular cobra),
  • Resi Kripa (Banteng),
  • Jayadrata (Babi Hutan),
  • Abimanyu (Pohon Karnikara Emas),
  • Arjuna (Kera Putih).
  • And ALL ?????

PERANG HARI PERTAMA:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN : Kurawa (Dursasana) ; Pandawa (Bima)

FORMASI PERANG : Kurawa (KurmaWyuha) ; Pandawa (SarpaWyuha)

JALANNYA PERANG :

(Arjuna meminta kresna menjalankan Kereta ke tengah medan perang
untuk melihat kedua kubu, Arjuna ragu untuk perang, kresna menasehati
arjuna dalam Bhagafat Gita, Kresna menunjukkan wujud ketuhanannya
sebagai Wisnu pada arjuna )

(Yudistira melepaskan jubah perang dan pergi ke klan kurawa memohon restu pada Bhisma, Resi Drona, Resi Kripa & Raja Salya)

(Yudistira mengumumkan siapa ksatria dan pasukan yg mau berpindah baik dari klan pandawa atau klan Kurawa, Yuyutsu saudara Tiri Duryudana berpindah dan memihak Pandawa)

-          Kritawarma (lost) VS Abimanyu (win)

-          Raja Salya (lost) VS Abimanyu (win)

-          Durmaka (lost) VS Abimanyu (win)

-          Bhisma (win) VS Abimanyu (lost)

-          Duryudana (lost) VS Abimanyu (win)

-          Bhisma (win) VS Bima & Drestadyumna (lost)

-          Bhisma VS Arjuna = Draw

-          Raja salya (win) VS Uttara (Anak Raja Wirata) dead

-          Raja salya (win) VS Gajah wahana Uttara (dead)

-          7 Kaurava brothers (lost) VS Sweta (win)

-          Bhisma (win) VS Sweta (Kakak Uttara) dead

-          Duryudana (win) VS Bima (lost)

HASIL PERANG :

Kurawa (win) ; Pandawa (lost)

PERANG HARI KE 2:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN : Kurawa (??????) ; Pandawa (???????)

FORMASI PERANG : Kurawa (??????) ; Pandawa (??????)

JALANNYA PERANG :

-          Bhisma (draw), Pasukan Hastinapura (lost) VS Arjuna (Draw)

-          Resi Drona (win) VS Drestadyumna (lost) saved Bima

-          Resi Drona (win) VS Bima (lost)

-          Pasukan Kalinga (dead) VS Bima (win)

-          Bhisma (lost) VS Abimanyu & Setyaki (win)

-          Resi Kripa, Aswatama, Wikarna (win) VS Pasukan matsyah (lost)

-          Duryudana VS Bima (Draw)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 3:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN :

Kurawa (depan=Bhisma, belakang=Duryudana)

Pandawa (kiri=Bima, kanan=Drestadyumna)

FORMASI PERANG :

Kurawa (Garuda Wyuha) ;

Pandawa (Candra wyuha)

JALANNYA PERANG :

-     40 Kaurava brothers (lost) VS Arjuna (win)

-     Pasukan dwaraka (win) VS Drestadyumna (lost)

-     Pasukan dwaraka (lost) VS Setyaki, Srikandi (win)

-     Sangkuni (win) VS Setyaki (lost)

-     Sangkuni, Pasukan Gandara (lost) VS Setyaki & Abimanyu (win)

-     Resi Drona, Bhisma VS 3 Pandava brothers (Yudistira, Nakula, Sadewa) (draw)

-     Duryudana, pasukan hastinapura (lost) VS Bima, Gatotkaca (win)

-     Bhisma VS Arjuna (draw)

-     (Kresna marah mengeluarkan Cakra untuk membunuh Bhisma dan di cegah Arjuna)

-     Bhisma VS Arjuna (Survive)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 4:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN : Kurawa (???????) ; Pandawa (???????)

FORMASI PERANG : Kurawa (???????) ; Pandawa (???????)

JALANNYA PERANG :

-    Pasukan Hastinapura (lost) VS Abimanyu (win)

-    5 knights (Aswatama, Burisrawa, Raja salya, Citrasena, Putracala) (lost) VS Arjuna & Abimanyu (win)

-    Putracala (dead) VS Drestadyumna (win)

-    Cala, Raja Salya, Pasukan Madrah (win) VS Drestadyumna (lost)

-    Raja salya (win) VS Abimanyu (lost)

-    Raja Salya (lost) VS Irawan (win)

-    Kaurava brothers, Pasukan Gajah (lost) VS Bima (win)

-    8 Kaurava brothers (dead) VS Bima (win)

-    Duryudana (win) VS Bima (lost)

-    Resi Drona (lost) VS Gatotkaca (win)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 5:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN :

Kurawa (Wikarna, Burisrawa, Resi drona) ; Pandawa (Cekitana, Raja wirata)

FORMASI PERANG :

Kurawa (TrisulaWyuha) ; Pandawa (MakaraWyuha)

JALANNYA PERANG :

-     Resi Drona (win) VS Setyaki (lost)

-     3 knights (Resi Drona, Raja salya, Sudaksin) VS Bima, Srikandi, Drestadyumna (Survive)

-     Bhisma (lost) VS Srikandi (win)

-     Resi Drona (win) VS Srikandi (lost)

-     Duryudana (lost) VS Setyaki, Pasukan Youdheya (win)

-     Burisrawa (win) VS 10 Anak of Setyaki (dead)

-     Burisrawa (win) VS Setyaki (lost) Saved Bima

-     Duryudana, Pasukan Hastinapura (lost) VS Arjuna (win)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 6:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN :
Kurawa (Bhisma & Duryudana) ; Pandawa (Bima & Arjuna)

FORMASI PERANG :
Kurawa (KraunchaWyuha) ; Pandawa (MakaraWyuha)

JALANNYA PERANG :

-     12 Kaurava brothers (Dursasana, Durwisaha, Durmata, Dursaha, Jaya, Jayasina, Wikarna, Citrasena, Sudarsana, Curucitra, Suwarma, Duskarna) (win) VS Bima (Lost) Saved Drestadyumna

-     11 Kaurava brothers (lost) VS Drestadyumna (win)

-     Duryudana (win) VS Bima & Drestadyumna (lost)

-     Duryudana (lost) VS Abimanyu & Kekaya (win)

-     Resi Drona (win) VS Drestadyumna, pasukan Panchala (lost)

-     Resi Drona (win) VS Bima, Pasukan Matsyah (lost)

-     Duryudana (lost) VS Bima (win)

-     Bhisma (win) VS Bima (lost)

-     Duryudana VS 5 Panchawala Brothers (Pratiwindya, Sutasoma, Srutakarma, Satanika, & Srutakirti.) (Survive)

HASIL PERANG :

Kurawa (win) ; Pandawa (lost)

PERANG HARI KE 7:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN :

Kurawa (Aswatama, Kritawarma, Resi Drona) ; Pandawa (Arjuna, Setyaki)

FORMASI PERANG :

Kurawa (MandalaWyuha) ; Pandawa (BajraWyuha)

JALANNYA PERANG :

-     Bhisma VS Arjuna (draw)

-     Resi Drona (win) VS Raja Wirata (lost) saved Sanga

-     Resi Drona (win) VS Raya Wirata & Sanga (lost)

-     Aswatama (win) VS Srikandi (lost)

-     Raja Salya (win) VS Nakula (lost)

-     Raja Salya (lost) VS Sadewa (win)

-     2 Prince Awanti (Winda & Anuwinda) (lost) VS Yudhamanyu (win)

-     Kritawarma, 3 Kurava (Citrasena, wikarna, Durmasha) (lost) VS Bima (win)

-     Raja Bhogadetta (win) VS Gatotkaca (lost)

-     Raksasa Alambusa (lost) VS Setyaki (win)

-     Burisrawa (win) VS Dristaketu (lost)

-     Srutayu (lost) VS Yudistira (win)

-     Resi Kripa (fainting) saved sakuni VS Chekitana (fainting) saved bima

-     Resi Drona (win) VS Sanga Anak Raja Wirata (dead)

-     Duryudana (lost) saved Sangkuni VS Drestadyumna (win)

-     3 Kourava brothers (lost) VS Abimanyu (win)

-     Bhisma (lost) VS Srikandi (win)

-     Bhisma (win) VS Pasukan Srinjaya (lost)

-     Bhisma (win) VS Abimanyu (lost)

-     Bhisma VS 5 Pandawa Brothers (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) (Draw)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 8:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN :

Kurawa (Bhisma, Aswatama ,Dursasana, Curucitra)

Pandawa (Kanan=Bima, Tengah=Yudistira, Kiri=Setyaki)

FORMASI PERANG : Kurawa (KurmaWyuha / Kura-kura) ; Pandawa (TrisulaWyuha)

JALANNYA PERANG :

-     8 Kourava brothers (Sunaba, Adityaketu, Wahwasin, Kundadara, Mahodara, Aparajita, Panditaka dan Wisalaksa) (dead) VS Bima (win)

-     (Duryodana perintahkan para saudaranya yang masih hidup untuk membunuh Bima. Namun tak satu yang berani maju menghadapi Bima setelah mereka menyaksikan kematian 8 saudaranya.)

-     Wrisna (adik sangkuni) (dead), Raja Hredika, Wresaba, Pasukan Kamboja, Pasukan Mahi, Pasukan Aratha (lost) VS Irawan, Pasukan Berkuda, Pasukan Naga (win)

-     6 Knight (Shatrunjaya, Chandraketu, Mahawegha, Suwarcha , Suryabhasa, Kalikeya) (anak Subala) (dead) VS Abimanyu & Irawan (win)

-     Raksasa Alambusa (win) VS Irawan (putra Arjuna) (dead)

-     Raksasa Alambusa (win) VS Pasukan Naga (lost)

-     Raksasa Alambusa (win) VS Abimanyu (lost)

-     Raksasa Alambusa (lost) saved Duryudana VS Gatotkaca (win)

-     Duryudana (win) VS tentara Raksasa (lost)

-     Duryudana & Raja Wanga (win) VS Gatotkaca (lost)

-     Bhisma VS Bima & Gatotkaca (draw)

-     16 Kourava brothers (dead) VS Bhima (win)

-     Buri & Sala (adik Burisrawa) (dead) VS Setyaki (win)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 9:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN :

Kurawa (Dursasana, Duryudana, Aswatama) ; Pandawa (Bima, Irawan)

FORMASI PERANG :

Kurawa (SarpaWyuha) ; Pandawa (KurmaWyuha)

JALANNYA PERANG :

-     Pasukan Hastinapura (lost) VS Abimanyu (win)

-     Raksasa Alambusa (win) VS 5 Pancawala Brothers (lost)

-     Raksasa Alambusa (lost) VS Abimanyu (win)

-     Bhisma VS Abimanyu (draw)

-     Drigalochana (dead) VS Abimanyu (win)

-     Wasatiya (dead) VS Abimanyu (win)

-     Resi Kripa VS Arjuna & Setyaki (draw)

-     Aswatama VS Setyaki (draw)

-     Aswatama & Resi Drona VS Setyaki (lost)

-     Aswatama & Resi Drona VS Setyaki & Arjuna (draw)

-     Resi Drona (lost) VS Arjuna (win)

-     Bhisma & Dursasana (win) VS 4 Pandava brothers (Yudistira, Bima, Nakula, Sadewa) (lost)

-     (Kresna menjadi marah. turun dari keretanya sambil membawa cemeti dengan tujuan membunuh Bisma. Arjuna sekalilagi mencegahnya)

-     Dursasana (lost) VS Arjuna (win)

-   Bhisma (win) VS Arjuna (lost)

-   Raja Somadatta (Ayah Burisrawa) dead VS Setyaki (win)

HASIL PERANG :
Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 10:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN : Kurawa (Bhisma) ; Pandawa (Arjuna, Srikandi)

FORMASI PERANG :
Kurawa (Bhisma), (Dursasana=Kanan), (Sangkuni=Kiri), (Duryudana=Belakang)
Pandawa (Arjuna, Srikandi 1 Kereta), (Drestadyumna=Kanan, Setyaki=Kiri), (Yudhamanyu, Uttamaujas=Belakang)

JALANNYA PERANG :

-     3 Knight (Resi Drona, Anggada, Kritavarman) VS Uttamaujas & Yudhamanyu (draw)

-     Duryodana (win) VS Uttamaujas (lost) saved Yudhamanyu

-     Sushena (putra Karna) dead VS Uttamaujas (win)

-     Bhisma (Lost Forever) VS Srikandi (defense) & Arjuna (Attack) = (win)

-     (Meskipun tubuhnya ditancapi ratusan panah, Bisma masih mampu bertahan hidup Sampai Akhir Perang sebab ia diberi anugrah untuk bisa menentukan waktu kematiannya sendiri.)

HASIL PERANG :
Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 11:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Resi Drona) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN : Kurawa (?????) ; Pandawa (??????)

FORMASI PERANG : Kurawa (??????) ; Pandawa (??????)

JALANNYA PERANG :

-     (Karna pertama kalinya melibatkan diri dalam perang dalam pihak Kurawa)

-     Sengkuni VS Sadewa (draw)

-     Wiwimsanti VS Bima (draw)

-     Raja Salya (lost) VS  Nakula (win)

-     Resi Kripa (win) VS Dristaketu (lost)

-     Kritawarma VS Setyaki (draw)

-     Karna (win) VS Raja Wirata (lost)

-     Paurawa (lost) VS Abimanyu (win)

-     6 Mentri Karna (dead) VS Abimanyu (win)

-     Jayadrata (lost) VS Abimanyu (win)

-     Resi Drona (win) VS 3 Knight (Wrika, Pancala, Setyajit) (dead)

-     Resi Drona (win) VS Kasiraja (lost)

-     Resi Drona (win) VS Satanika putra Raja wirata (dead)

-     Resi Drona (win) VS Ketama (dead)

-     Resi Drona (win) VS Washudana (dead)

-     Resi Drona (win) VS 4 knight (Yudhamanyu, Uttamaujas, Setyaki, Srikandi) (lost)

-     Somadatti Adik Burisrawa (dead), Anak Burisrawa (dead) VS 2 Pancawala (Pratiwindya, Srutasena) (win)

-     Resi Drona (win) VS Yudistira (lost) saved Arjuna

-     Resi Drona (lost) VS Arjuna (win)

-     Resi Kripa (lost) VS Arjuna (win)

-     Karna & Resi Krepa (lost) VS Uttamaujas (win)

-     Pangeran Asmaka, Susena (anak dari Karna) (dead) VS Abimanyu (win)

-     Kundhawedhin (dead) VS Abimanyu (win)

HASIL PERANG :
Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 12:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Resi Drona) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN :
Kurawa (Duryudana, Bhogadetta) ; Pandawa (Arjuna, Bima, Setyaki)

FORMASI PERANG :
Kurawa (??????) ; Pandawa (??????)

JALANNYA PERANG :

-     Duryudana, Pasukan Gajah (lost) VS Bima (win)

-     Raja Bhogadetta & Gajah Supratika VS Bima (draw)

-     Raja Bhogadetta & Gajah Supratika (win) VS Raja Dasarna & Pasukan Gajah (lost)

-     Raja Bhogadetta & Gajah Supratika (win) VS Setyaki (lost)

-     Pasukan Trigarta (lost) & 35 Anak Susarma (dead) VS Arjuna (win)

-     Susarma (lost) VS Arjuna (win)

-     Raja Bhogadetta & Gajah Supratika (win) VS Bima (lost)

-     Gajah Supratika (dead) VS Arjuna (win)

-     Raja Bhagadetta (dead) VS Arjuna (win)

-     Wrisna (dead), Achala (dead) VS Arjuna (win)

-     Sengkuni (lost) VS Arjuna (win)

-     Duryodana & Resi Drona VS Yudhamanyu (draw)

-     Kritawarman (lost) VS Yudhamanyu (win)

-     Karna & Resi Krepa (win) VS Yudhamanyu (lost)

-     Chitrasena (kakak ikpar Karna) dead VS Yudhamanyu (lost)

-     Rukmarata (putra Salya) (dead) VS Abimanyu (win)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 13:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Resi Drona) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN :

Kurawa (Resi Drona, Susarma, Jayadrata) ; Pandawa (Arjuna & Abimanyu)

FORMASI PERANG :

Kurawa (CakraByuha) ; Pandawa (???????)

JALANNYA PERANG :
-     Susarma & Pasukan Trigarta VS Arjuna (draw)

-     Resi Drona (win) VS Yudistira (lost) saved Bima

-     Resi Drona (win) VS Bima (lost)

-     Resi Drona (win) VS 3 knight (Chekitana, Drestadyumna, Raja Kuntibhoja) lost

-     Resi Drona (win) VS 8 Knight (Raja Drupada, Gatotkaca, Yudhamanyu, Srikandi, Uttamaujas, Raja Wirata, Raja Kekaya, Srinjayas) lost

-     Resi Drona (lost) VS Setyaki (win)

-     (Resi Drona & Pasukan Kurawa menggelar Formasi CakraByuha).

-     (Abimanyu menerobos masuk di ikuti pasukan Pandawa di blakangnya).

-     (Abimanyu berhasil masuk formasi, jayadrata menutup puntu formasi, pandawa tertahan di luar formasi oleh Jayadrata dan Pasukannya).

-     Jayadrata (Anugrah Siwa) VS 15 Knight (Nakula, sadewa, bima, Yudistira, Setyaki, Srikandi, Raja Kuntibhoja. Raja wirata, Raja Drupada, drestadyumna, Uttamaujas, Yudhamanyu, chekitana, Srinjayas, Yuyutsu) Draw

-     Duryudana (lost) VS Abimanyu (win)

-     Asmaka (lost) VS Abimanyu (win)

-     Dursasana (lost) VS Abimanyu (win)

-     Karna VS Abimanyu (draw)

-     Laksmana putra Duryudana (dead) VS  Abimanyu (win)

-     9 Knight (Resi Durna, Resi Kripa, Raja salya, Brihatbala, Burisrawa, Kritawarma, Wikarna, Srutayuda, Srutayu) VS Abimanyu (draw)

-     7 Knight (Duryudana, Dursasana, Anak Dursasana, Aswatama, Sengkuni, Karna, Chitraksa) win VS Abimanyu (dead)

-     Jayadrata (Anugrah Siwa) win VS 15 Knight (Nakula, Sadewa, bima, Yudistira, Setyaki, Srikandi, Raja Kuntibhoja. Raja wirata, Raja Drupada, Drestadyumna, Uttamaujas, Yudhamanyu, Chekitana, Srinjayas, Yuyutsu) lost

-     Susarma (dead) VS Arjuna (win)

HASIL PERANG :

Kurawa (win) ; Pandawa (lost)

PERANG HARI KE 14

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Resi Drona) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN :

Kurawa (Resi Drona, Duryudana, Jayadrata) ; Pandawa (Arjuna, Bima, Syaki)

FORMASI PERANG :

Kurawa (PadmaWyuha) ; Pandawa (PalemWyuha)

JALANNYA PERANG :

-          Resi Drona (lost) VS Arjuna (win)

-          (Arjuna Berhasil menembus Formasi PadmaByuha)

-          Kritawarma, Pasukan Bhoja, Sudaksina (lost) VS Arjuna (win)

-          Duryudana (lost) VS Arjuna (win)

-          Srutayuda (dead) VS Arjuna (win)

-          Raja Kamboja (dead) VS Arjuna (win)

-          Srutayu (dead), Asrutayu (dead) VS Arjuna (win)

-          2 Anak Srutayu (dead) VS Arjuna (win)

-          Winda, Anuwinda (lost) VS Arjuna (win)

-          Duryudana (magic armor giving Drona) lost VS Arjuna (win)

-          Resi Drona (lost) VS Setyaki (win)

-          (Setyaki berhasil menembus Formasi PadmaByuha)

-          Resi Drona (win) VS Pasukan Panchala (lost)

-          Resi Drona (win) VS Drestadyumna (lost)

-          Resi Drona (lost) VS Bima (win)

-          (Bima berhasil menembus Formasi PadmaByuha)

-          11 Kurawa Brothers (dead) VS Bima (win)

-          Pasukan Dasarna (lost) VS Bima (win)

-          Resi Drona (win) VS Pasukan Matsyah, Pasukan Panchala (lost)

-          Duryudana, Pasukan Hastina (lost) VS Arjuna (win)

-          Karna VS Bima (survive)

-     Durjaya adik Duryudana (dead) VS Bima (win)

-     Durmaka adik Duryudana (dead) VS Bima (win)

-     5 Kurawa Brothers (Durmasa, Dussaha, Durmata, Durdara, Jaya) dead VS Bima (win)

-     7 Kurawa Brothers (Chitra, Upachitra, Chitraksa, Curucitra, Surasena, Citrayuda, Citrawarma) dead VS Bima (win)

-     9 Kurawa Brothers (dead) VS Bima (win)

-     Wikarna Adik Duryudana (dead) VS Bima (win)

-     Karna (win) VS Bima (lost)

-     Karna (lost) VS Arjuna (win)

-     Resi Drona VS 3 Knight (Yudistira, Drestadyumna, Yuyutsu) (draw)

-     Burisrawa (lost) VS Setyaki (lost) (Setyaki Pingsan)

-     (Arjuna memotong tangan kanan Burisrawa)

-     (Burisrawa memarahi Arjuna tapi segera di disadarkan Ajuna mengenai kesalahan pengeroyokan Abimanyu)

-     (Burisrawa tersadar dan melakukan Yoga)

-     Burisrawa (dead)  terpenggal pedangnya sendiri yang di ambil Setyaki.

-     (Kresna Memanggil Kusirnya Daruka dengan Terompet Pancajahnya)

-     Pasukan Satu aksauhini (109.350 tentara) dead VS Arjuna (win)

-     Karna (lost) VS Setyaki (win) & Kusir Daruka

-     Aswatama (lost) VS Arjuna (win)

-     (Keajaiban Kresna matahari tertutup banyak awan sehingga tampak matahari sudah tenggelam)

-     Jayadrata (dead) VS Arjuna (win)

-     Resi Drona VS Yudhamanyu & Uttamaujas (draw)
-     4 Knight (Resi Kripa, Aswatama, Karna, Duryudana) lost VS Gatotkaca (win)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 15

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Resi Drona) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN : Kurawa (Karna) ; Pandawa (Gatotkaca)

FORMASI PERANG : Kurawa (??????) ; Pandawa (??????)

JALANNYA PERANG :

-     Pasukan Hastinapura, Pasukan Bhalika, Pasukan Dwaraka (lost) VS Gatotkaca, Pasukan Raksasa (win)

-     Duryudana (lost) VS Gatotkaca (win)

-     Karna (win) VS Pasukan Raksasa (lost)

-     Karna (win) VS Gatotkaca (dead)

-     Resi Drona (win) VS Raja Drupada (dead), Pasukan Panchala (lost)

-     Resi Drona (win) VS Raja Wirata (dead), Pasukan Matsah (lost)

-     Resi Drona (win) VS Drestadyumna & Bima (lost)

-     Dursasana (lost) VS Nakula (win)

-     (Strategi Kresna, Bima membunuh Gajah bernama Aswatama)

-     (Bima mengumumkan dirinya membunuh Aswatama di pasukan Resi Drona)

-     (Resi Drona menanyakan kebenarannya pada Yudistira)

-     (Yudistira berbohong, Resi Drona sedih dan melakukan Yoga)

-     Resi Drona (dead) terpenggal pedang Drestadyumna

-     (Roda Kereta Yudistira yang melayang 3 inci dari tanah. Setelah peristiwa tersebut, keretanya menyentuh tanah.)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 16:

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Karna) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN : Kurawa (Dursasana) ; Pandawa (Bima)

FORMASI PERANG : Kurawa (??????) ; Pandawa (??????)

JALANNYA PERANG :

-  Resi Krepa (win) VS Drestadyumna (lost)

-  Resi Krepa (lost) VS Arjuna (win)

-  Dursasana adik Duryudana (dead) VS Bima (win)

-  Karna (win) Kusir Raja Salya VS Arjuna (lost) Kusir Kresna

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

  17) PERANG HARI KE 17

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Karna) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN : Kurawa (dursasana) ; Pandawa (Bima)

FORMASI PERANG : Kurawa (??????) ; Pandawa (??????)

JALANNYA PERANG :

-     Karna (win) VS Nakula (lost)

-     Karna (win) VS Sadewa (lost)

-     Karna (win) VS Bima (lost)

-     Duryudana (lost) VS Yudistira (win)

-     Karna (win) VS Yudistira (lost)

-     Karna, Kusir Raja Salya VS Arjuna, Kusir Kresna (survive)
-     (Kereta perang karna terperosok rodanya dalam lumpur, dan karna lupa mantra memanggil senjata Bramastra)
-    Karna (dead) Kusir Raja Salya VS Arjuna (win) Kusir Kresna

-   10 Kurawa Brothers (dead) VS 3 knight (Drestadyumna, Yudhamanyu, Uttamaujas) (win)

-   18 Kurawa Brothers (dead) VS Bima (win)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

PERANG HARI KE 18

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Raja Salya) ; Pandawa (Drestadyumna)

PEMIMPIN PASUKAN : Kurawa (Duryudana) ; Pandawa (Bima)

FORMASI PERANG : Kurawa (???????) ; Pandawa (???????)

JALANNYA PERANG :

-     Raja Salya (dead) VS Yudistira (win)

-     Sakuni (dead) VS Sadewa (win)

-     Duryudana (win) VS Cekitana (dead)

-     (Duryudana meninggalkan medan perang dan melakukan Yoga Di dalam Danau Dwaipayana)

-     (5 Pandawa Brothes, Kresna, Yuyutsu, Setyaki, Drestadyumna, Srikandi, Yudhamanyu, Uttamaujas mendatangi danau dan memanggil Duryudana)

-     (Duryudana memilih Bima sebagai lawan tanding Perang Gada)

-     (Nakula mendatangi kamp Kurawa mengambilkan Gada Duryudana yang terbaik)

-     (Kritawarma, Resi Kripa & Aswatama menunggu di sebrang danau yang bersiap menyerang Ksatria Pandawa jika berlaku curang)

-     (Baladewa Kakak Kresna sekaligus Guru dari Duryudana dan Bima datang serta memberi restu)
-     (Siasat Kresna. mengingatkan Bima akan sumpahnya mematahkan paha Duryudana)

-     Duryudana (dead) VS Bima (win) (Perang Gada)

-     (Baladewa marah dan mau membunuh Bima yang berlaku curang memukul paha saat perang Gada namun di cegah dan di tenangkan Kresna)

-     (Ksatria Pandawa meniggalkan Duryudana dan kembali ke Kamp)

-     (Kritawarma, Resi Kripa & Aswatama mendatangi Duryudana sekaligus member restu pada Aswatama untuk melanjutkan perang)

HASIL PERANG :

Kurawa (lost) ; Pandawa (win)

KESATRIA YANG TERSISA :

Kurawa :

-     3 Knight (Aswatama, Kritawarma, Resi Kripa)

Pandawa :

-     5 Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa)

-     5 Panchawala (Pratiwindya putra Yudistira, Sutasoma putra Bima, Srutasena putra Arjuna, Satanika putra Nakula, Srutakerti putra Sahadewa)

-     7 Knight (Kresna, Drestadyumna, Setyaki, Srikandi, Uthamaujas, Yudhamanyu, Yuyutsu)

MALAM PEMBANTAIAN Hari ke19

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Aswatama) ; Pandawa (Drestadyumna)

-     Kritawarma & Resi Kripa membakar semua kamp pasukan pandawa, dan menjaga di luargerbang membunuh siapasaja prajurit dan ksatria yang mencoba untuk keluar.

-     Aswatama membunuh dengan panah dan menyembelih Drestadyumna, Srikandi, Uthamaujas, Yudhamanyu dan 5 Panchawala (Pratiwindya putra Yudistira, Sutasoma putra Bima, Srutasena putra Arjuna, Satanika putra Nakula, Srutakerti putra Sahadewa)

KESATRIA PANDAWA YANG TERSISA :

5 Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa)

4 Knight (Kresna, Setyaki, Yuyutsu adik Tiri Duryudana)

  20)  HARI PEMBALASAN

KOMANDAN TERTINGGI : Kurawa (Aswatama)

-     Aswatama VS Arjuna (survive)
-     (Resi Wiyasa menahan senjata Bramastra dari Arjuna dan Aswatama, dan meminta keduanya menarik kembali senjatanya)
-     (Arjuna mencabut kembali Bramastra, sedangkan Aswatama tidak tau mantra mencabut Bramastra, Wiyasa memintanya memilih target lainnya)

-     (Aswatama mengarahkan senjata Brahmastra pada janin yang di kandung Uttari istri Abimanyu putra Arjuna)

-     (Krisna mengutuk Aswatama agar menderita kusta dan mengembara di bumi sampai akhir zaman Kaliyuga. sebagai orang buangan tanpa rasa kasih sayang dan dicintai)

-     (Krisna menghidupkan kembali anak yang telah mati dari rahim Uttari)

-     (Pandawa dan kresna menemui Barbarika sebagai penghakiman)
-     (setelah penghakiman Barbarika memohon kematian pada Kresna, Cakra kresna menghancurkan kepala Barbarika)

Posted in Mahabharata | Tagged , | Leave a comment

AVATAR dalam Mahabharata

Dalam Amsavatarana Parva dari Mahabharata, terbagi beberapa inkarnasi atau Avatar maupun Ciranjewin (Mahluk berumur panjang) mereka adalah bagian dari Dewa, Yaksa (Raksasa) ,Bidadari ,Gandarwa (Bidadara), Denawa, Deitya dan Asura. Berikut ini adalah inkarnasi dari beberapa Tokoh karakter kunci dalam Mithologi India.

309bd-buddha_meditating

1.Jarasanda = Reinkarnasi Viprachitti seorang Danawa
2.Shishupala, Sepupu Kresna dan Pandawa = Reinkarnasi Hiranyakashipu (Leader Of Detya and Asura)
3.Dantawaktra = Reinkarnasi Hiranyaksa (Leader Of Detya and Asura)
4.Shalya, kakak Madrim = Reinkarnasi Sahrādha, adik dari Prahlada (Detya)
5.Dhrishtaketu = Reinkarnasi Anuhrādha, adik dari Prahlada (Detya)
6.Druma = Reinkarnasi Shibi, adik dari Prahlada (Detya)
7.Bhagadatta, putra Narakasura = Reinkarnasi Bāshkala, adik dari Prahlada
(Detya)
8. Amitauja = Reinkarnasi Ketumān, seorang Asura
9.Ugrasena = Reinkarnasi Swarbhānu, seorang Asura
10. Rukmi, Kakak Rukmini = Salah satu Avatar Krodhavasas
11. Kamsa, putra Ugrasena = Kalanemi Avatar dari Danawa
12.Duryudana, putra Dristarastra = Kali (Devil Dark Side Of Lord Vishnu)
13.Dursasana dan Kurawa bersaudara, putra Dristarastra = anak Pulastya (Yaksa)

14. Wikarna dan Kurawa bersaudara, putra Dristarastra = anak dari Pulastya (Yaksa)
15. Yuyutsu dan Kurawa bersaudara, putra Dristarastra = anak dari Pulastya (Yaksa)
16. Dursala dan Kurawa bersaudara, putri Dristarastra = anak dari Pulastya (Yaksa)
17.Narakasura = Bagian dari Asura

18.Alambusa = Bagian dari Yaksa

19.Gatotkaca, putra Bima = Bagian dari Yaksa
20.Hidimbi, Ibu Gatotkaca = Bagian dari Yaksa
21.Barbalika, anak Gatotkaca = Bagian dari Yaksa
22. Sukra = Bagian dari Yaksa
23. Ulupi, istri Arjuna = Bagian dari Naga
24.Irawan, putra Arjuna = Bagian dari Naga
25.Srikhandi, Putri Drupada = Bagian dari Yaksa
26.Parasurama (Ciranjewin) = Avatar ke 6 Wisnu (Lord Of Gods)
27. Kresna = Avatar ke 8 Wisnu (Lord Of Gods) dan Narayana (Life of the Blessed Lord Vishnu)
28. Wiyasa (Ciranjewin) = Avatar dari Wisnu (Life of the Blessed Lord Vishnu)
29. Drona = Brihaspati (Teacher of Gods)
30. Aswathama (Ciranjewin), putra Drona = Bagian dari Siwa (Destroyer), Yama (Death), Kama (Love and Compassion) dan Krodha (Anger)
31.8 Anak Gangga = Bagian dari Delapan Wasu
32.Bhisma, putra Gangga = Dyaus (Youngest brother of Wasu)
33.Bharata = Kama (God of Love and Compassion)
34.Durwasa = Mahadewa (Lord Shiva Destroyer)
35.Santanu = Waruna (Gods Sovereign of the Sea)
36.Krepa (Ciranjewin), Ikpar Drona = Rudras (Lord Shiva Destroyer)
37. Jayadrata, Suami Dursala = Rudras (Lord Shiva Destroyer)
38. Srutayuda = Waruna (Gods Sovereign of the Sea)
39.Sangkuni = Dwapara (Gods of Chaos)
40.Satyaki = Bagian dari Maruts
41.Drupada = Bagian dari Maruts
42.Kritawarma = Bagian dari Maruts
43.Wirata = Bagian dari Maruts
44.Dristarastra = Hansa, anak Arishta
45.Pandu adik Drestarata = Kemurnian diri (Purity’s self Lord Visnu)
46.Widura adik Drestarata = Dharma (God of Justice)
47.Karna, putra Kunti = Surya (The Sun God)
48.Yudistira, putra Pandu = Yama (God of death and judgment)
49.Bhima, putra Pandu = Bayu (God of wind)
50.Arjuna, putra Pandu = Indra (King of the Gods and Heaven) dan Nara (Lord Vishnu Blessed Soul)
51.Nakula, putra Madrim = Aswi (God of medicine)
52.Sadewa, putra Madrim = Aswin (God of
medicine)
53.Abimanyu, putra Arjuna = Bagian dari Varchas, putra Soma (The
Moon God)
54.Dhristadyumna, putra Drupada = Agni (God of Fire)
55.Pancawala Brothers empat anak dari Dropadi = Bagian dari Viswas
56. Pratiwindya, putra Drupadi dan Yudistira = avatar dari Visvadevas
57. Wasudewa, ayah Kresna = Bagian dari Narayana (Life of the Blessed Lord Vishnu)
58. Sankarshan = Bagian dari Narayana (Life of the Blessed Lord Vishnu)
59. Aniruddha, Putra Pradyumna = Bagian dari Narayana (Life of the Blessed Lord Vishnu)
60.Baladewa, Putra Wasudewa = Sesha (Dragon of Wishnu) (Life of the Blessed Lord Vishnu)
61.Pradyumna, Putra Kresna = Bagian dari Sanatkumara
62.Rukmini Istri Kresna = Lakshmi (Wife of the god Wishnu)
63.16.000 istri Kresna = Bagian dari Bidadari
64.Dropadi, Istri 5 Pandawa = Sachi (Wife of the god Indra)
65.Kunti, Istri Pandu = Reinkarnasi dari Siddhi
66.Madrim, Istri Pandu = Reinkarnasi dari Dhriti
67.Gandari, Istri Dristarastra = Reinkarnasi dari Maty
68. Burisrawa = renkarnasi Rahu bagian dari Yaksa, musuh Mohini Awatara ke 2 Wisnu
69. Citraksi dan Kurawa bersaudara, putra Dristarastra = anak Pulastya (Yaksa)
70. Citraksa dan Kurawa bersaudara, putra Dristarastra = anak Pulastya (Yaksa)

Posted in Mahabharata | Tagged , | Leave a comment

Awal pencetus perang Baratayuda

Hasrat tak terbendung Dewi Durgandini agar keturunannya sebagai Raja Hastina

Dewi Durgandini yang telah berputra Abyasa atas perkawinan sebelumnya dengan Raden Parasara, hanya mau kawin dengan raja Hastina Prabu Santanu, apabila anak-anaknya kelak menjadi Raja Hastina. Sang Prabu Sentanu sangat bingung, yang berhak menjadi putra mahkota adalah Bhisma, kalaupun Bhisma bersedia mengalah, maka anak keturunan Bhisma tetap akan menuntut haknya, dan akan terjadi perang saudara pada wangsa Kuru. Demi  kecintaan Bhisma terhadap negara Hastina, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari, Bhisma bersumpah tidak akan kawin. Pengorbanan Bhisma yang begitu besar meningkatkan spiritual Bhisma, sehingga dia bisa menentukan kapan saatnya meninggalkan jasadnya di dunia di kemudian hari. Bagi Bhisma pengabdian dan bhaktinya hanya untuk Ibu Pertiwi, untuk Hastina. Bhisma tidak melarikan diri ke puncak gunung sebagai pertapa. Dharma bhaktinya adalah mempersatukan negara.

Perkawinan Dewi Durgandini dengan Prabu Sentanu melahirkan dua orang putra, Citragada dan Wicitrawirya. Citragada seorang yang sakti, akan tetapi sombong dan akhirnya mati sebelum kawin. Wicitrawirya seorang yang lemah dan diperkirakan akan kalah dalam sayembara untuk mendapatkan seorang putri raja. Ketika Raja Kasi mengadakan sayembara bagi tiga putrinya, demi pengabdian kepada kerajaan Hastina, Bhisma ikut bertanding, menang dan memboyong ketiga putri untuk diberikan kepada Wicitrawirya. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika menerima kondisi tersebut, akan tetapi Dewi Amba menolak, Dewi Amba hanya mau kawin dengan Bhisma. Bhisma mengatakan bahwa dirinya telah bersumpah tidak akan kawin demi keutuhan Hastina. Bhisma menakut-nakuti Dewi Amba dengan anak panah yang secara tidak sengaja terlepas dan membunuh Dewi Amba. Bhisma tertegun, demi Hastina tanpa sengaja dia telah membunuh seorang putri, Bhisma sadar dia pun harus terbunuh oleh seorang putri juga nantinya.

Pengabdian Bhisma rupanya hampir sia-sia, karena Wicitrawirya pun meninggal sebelum memberikan putra. Akhirnya Abyasa putera Durgandini dengan Parasara diminta Dewi Durgandini menikahi Dewi Ambalika dan Dewi Ambika. Abyasa patuh terhadap ibunya walau tidak ikhlas memperistri mereka. Abyasa membuat dirinya berwajah mengerikan, sehingga ketika berhubungan suami istri Dewi Ambalika menutup mata, dan lahirlah Destarastra yang buta. Sedangkan Dewi Amba melengoskan leher dan pucat pasi melihat wajah Abyasa yang mengerikan, sehingga lahirlah Pandu yang ‘tengeng’, lehernya miring dan pucat.

Ambisi Dewi Durgandini untuk membuat anak keturunannya menjadi raja dalam perjalanannya mengalami banyak hambatan, bahkan akhirnya telah mengakibatkan anak cucunya melakukan perang saudara dalam bharatayuda yang menghancurkan dunia. Pandawa dan keturunannya RajaParikesit pun sebetulnya merupakan anak keturunan Dewi Kunti yang menggunakan mantra pembuat keturunan dari Resi Durwasa tanpa hubungan suami istri dengan Pandu, cucu Dewi Durgandini. Anak keturunan Dewi Durgandini lewat Destarastra pun punah akibat perang bharatayuda. Perkawinan awal Dewi Durgandini dengan Parasara, yang tanpa nafsu duniawi dan penuh kasih telah melahirkan Bhagawan Abyasa yang akan dikenang sepanjang masa sebagai penulis kitab Mahabharata dan kitab Veda. Hasrat nafsu yang membara dan suasana kasih menghasilkan manusia yang berbeda karakternya.

Cerita Raja Drestarastra dari Hastina yang kehilangan seratus putranya

Konon Prabu Duryudana bertanya kepada Prabu Kresna, mengapa ia yang buta dan tak pernah membunuh bisa mengalami kejadian 100 putranya dibunuh. Prabu Kresna menjawab, bahwa dalam ‘past lifes’, kehidupan-kehidupan sebelumnya dia pernah membunuh 100 anak burung yang berada dalam sarangnya, dan juga pernah menusuk mata burung sehingga menjadi buta. Sebagai contoh lainnya adalah Resi Bhisma yang Agung yang konon dalam kehidupan sebelumnya pernah menusuk tubuh semut dengan jarum dan itulah sebabnya dia harus tidur di atas panah selama beberapa hari sebelum meninggal. Bahkan Prabu Kresna sendiri harus mati terbunuh oleh pemburu yang memanah  kakinya yang terjuntai yang terlihat sebagai binatang. Konon Prabu Kresna pun harus menyelesaikan hukum sebab akibat dalam kehidupan sebelum nya sewaktu  menjadi Sri Rama yang memanah Raja Kera Subali. Konon beberapa orang selamat dari karma kejahatan dalam satu masa kehidupannya, karena dia diselamatkan sejumlah karma baiknya. Akan tetapi ibarat senjata cakra yang mengejar siapa pun yang ditujunya, maka pelaku perbuatan tersebut pada suatu saat akan menerima akibatnya pula. Seorang Guru Sejati Masa Kini memberi nasehat lewat ‘wisdom’‘Kebaikan yang kau lakukan pasti kembali padamu. Begitu jua dengan kejahatan. Kau dapat menentukan hari esokmu, penuh dengan kebaikan atau sebaliknya’. ‘Kenapa mesti menangisi nasib? Kau adalah penentu nasibmu sendiri. Apa yang kau alami saat ini adalah akibat dari perbuatanmu di masa lalu. Apa yang kau buat hari ini menentukan nasibmu esok’. Kisah Prabu Kresna dapat dilihat pada artikel ‘Kresna Duta Utusan Pemberi  Peringatan Sebelum Kebenaran Ditegakkan’ dalam blog tersebut di bawah.

Kesadaran itu membuat kita sadar untuk menerima segala yang harus terjadi sebagai datangnya panen dari benih yang telah kita tanam sebelumnya. Yang penting adalah mulai saat ini kita harus menanam benih dengan penuh kesadaran. Sampai suatau saat kita sadar siapakah sejatinya kita ini? Untuk apa lahir di dunia ini? Terima Kasih Guru yang telah memberi semangat untuk menyuarakan kebenaran, jangan terpengaruh oleh diterima atau tidaknya suara yang kita sampaikan. Demikianlah pemahaman kami sampai saat ini.

Posted in Mahabharata | Leave a comment

Raja Puru

Pada suatu sore, dimana matahari mulai terbenam, Prabu Yayati melamun sambil melihat kelelawar-kelelawar yang keluar dari pupus-pupus daun pisang. Lalu putra bungsunya (Puru) dipanggil. Setelah Puru dating berkatalah Prabu Yayati:

“Oh putraku Puru, ternyata engkau adalah satu-satunya putraku yang telah mengorbankan diri demi ayahmu, milikmu yang paling berharga. Oh anakku saying, ternyata bahwa nafsu-nafsu angkara, nafsu-nafsu birahi, nafsu-nafsu syahwat, tidak akan puas hanya dengan melampiaskannya. Nafsu yang diumbar, ternyata bukan makin padam, tetapi justru makin berkobar. Laksana bola salju. Makin digulung dan makin jauh menggelinding, dia makin besar. Kini aku tahu, bahwa dengan melampiaskan hawa nafsu tidak membawa kedamaian hidup. Ternyata kedamaian hanya dapat dicapai dan diterima dengan jalan cinta kasih dan keseimbangan jiwa, mestinya sejak semula aku harus bersikap : Dengan tulus ikhlas menerima nasib. Jika mengalami kehilangan tanpa menyesal, menerima dengan kesabaran hati apa bila menghadapi pengalaman yang mengganggu bahkan dihina sekalipun. Dan ketiga, dengan rela dan rendah hati menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Itulah jalan yang paling bahagia. Bagiku sekarang hanyalah menyingkiri, kuasa menahan dan memusnahkan hawa nafsu-nafsu jahatku. Itulah suatu jalan yang akan kutempuh, agar aku dapat hidup damai dan mendapat Rahmat Tuhan. Karena itu, Oh Puru: Ambillah kembali ke”muda”anmu dari diriku dan sekarang perintahlah kerajaan ini dengan bijaksana adil paramarta, agar rakyatmu patuh, setia (saiyeg seaka kapti) menjunjung titahmu”.

Maka Prabu Yayati memeluk anak bungsunya (Puru) untuk menerima kembali ketuaannya. Dan sat itu juga, Prabu Yayati menyerahkan kembali kemudaannya kepada putranya. Beberapa waktu kemudian Prabu Puru dinobatkan menjadi Raja di Astinapura. Dan Raja Puru inilah yang nantinya menurunkan bangsa Puru atau bangsa Kuru yang kemudian menurunkan Kurawa. Kelak Prabu Kuru mempunyai putra bernama Dusmanta. Prabu Dusmanta kawin dengan Sakuntala kemudian melahirkan Bharata. Dan Bharata inilah nantinya akan melahirkan keluarga besar Bharata atau Maha Bharata.

Bharata menurunkan Kuru, Kuru menurunkan Pratip, Pratipa menurunkan Sentanu, Sentanu menurunkan Bisma.

Nah, sekarang kiranya menjadi jelas. Bahwa menurut versi Maha Bharata pemilik negara Astina itu adalah Prabu Nahusa. Prabu Yayati, Puru, Dusmanta, Bharata, Kuru, Pratipa, Hasti, Sentanu, sampai kepada Bisma.

Sedangkan menurut versi Pustaka Raja Purwa pemilik dan pencipta kerajaan Astina adalah Palasara, Abiyasa, Pandu, Duryudana dan Yudistira kemudian Parikesit.

Nah, inilah manusia hidup. Menurut anthropologis (filsafat manusia), bahwa manusia hidup itu terdiri dari jasmani (raga) dan rohani (jiwa) serta dilengkapi dengan lima nafsu yaitu: amarah, sufiah, aluamah, mulhimah, dan mutmainah. Atau cairan yang mengalir pada badan manusia itu ada lima macam yaitu: darah merah, kuning, hitam, hijau dan putih. Yang ideal adalah, kalau jumlah nafsu-nafsu itu (harus) seimbang. Sebab kalau banyak darah merahnya, manusia akan menjadi pemarah, serakah dan rakus.

Begitu pula sebaliknya kalau banyak putihnya akan menjadi orang suci atau negatifnya akan menjadi fatalis (mungsaderma).

Karena manusia itu juga terdiri dari unsure wadag atau bersifat jasmaniah, maka orang hidup harus makan. Namun dalam menghadapi makan perlu mempunyi sifat distansi (jarak) dan moderasi (menguasi diri). Pendeknya ada aturannya, tidak asal makan. Makan adalah untuk hidup. Supaya sehat, maka hidup itu perlu dan harus makan, namun bukan hidup untuk makan.

Jelasnya, lihat binatang kalau sedang makan. Binatang itu selalu tergesa-gesa dan hanyut serta tenggelam dalam makanan, akhirnya dia juga dimakan (dikuasi) oleh makanan. Ia membabi buta, seperti besok tidak ada hari lagi. Dan sambil “nggereng” mencengkeram makanannya, bahkan apa bila ada yang mendekat dan mengganggu dia menyerang (homo-homo mini lupus).

Sedangkan manusia tidaklah demikian. Kita memiliki sopan santun dan cara makan, karena itu sungguh tepat kalau Wulangreh memberi petunjuk:

“Pada gulangening kalbu, ing sasmita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, ing kaprawiran den kaesti, pesunen sariranira, cegah dahar lawan guling”.

Yang artinya:

“Latihlah dirimu agar supaya menjadi cerdas dalam sasmita (awas dan waspada). Jangan hanya hanyut menuruti nafsu perut (makan) dan nafsu tidur (syahwat). Tetapi usahakan “watak perwira” ini dengan jalan mencegah (mengurangi) nafsu perut dan nafsu tidur”.

Nah, begitulah kira-kira maksud dari nenek moyang yang sudah tahu akan bahaya yang akan terjadi, kalau manusia kelewat bebas dan batas dalam memenuhin kebutuhan jasmaniah dan lahiriahnya. Makin dilampiaskan nafsu jahatnya, makin berkobarlah nafsu-nafsu itu membakar musnah hidupnya sendiri.

Posted in Mahabharata | Leave a comment

Sakuntala, Ibu Bharata Raja Besar di Astinapura

Siapakah Bharata yang disebut-sebut dalam Mahabharata itu? Begitulah kira-kira isi surat-surat pembaca yang ingin mengetahui sejarahnya.

Syahdan, suatu tempat pertapaan yang begigtu tenang dan damai, sehingga kijang-menjangan dapat hidup berdampingan dengan singa dan macan yang buas. Semua itu seolah-olah karena pengaruh sianr sucinya pertapaan. Segala yang pada mulanya bengis, kejam, buas dan rakus, berubah menjadi sejuk, nyaman, rukun dan tenang penuh kedamaian.

Siapakah gerangan pertapa besar yang bersemayajm di situ? Ia adalah Begawan Kanwa yang hidup bersama dengan seorang anak gadisnya, Sakuntala namanya. Sakuntala yuang cantik adalah anak angkat dari Begawan Kanwa. Semula Sakuntala adalah putrid Prabu Wismamitra yang lahir dari rahim bidadari Menaka. Yaitu, dikala Prabu Wismamitra sedang bertapa menjauhkan diri dari keduniawian, sekonyong-konyong melihat kedatangan bidadari Menaka yang tersingkap kainnya oleh hembusan angina yang nakal, sehingga Wismamitra sampai tak dapat mengendalikan dirinya. Ia takluk kepada keinginannya untuk segera menghisap madunya Batari Menaka. Pendek kata betari Menaka kemudian melahirkan seorang bayi wanita yang kemudian diberi nama Sakuntala. Setelah sang bayi lahir, maka kembalilah Menaka ke Kahyangan dan Sakuntala ditinggalkan sendirian di tepi sungai Malini. Kelihatannya kejam dan tak bertanggung jawab, tetapi memang itulah yang disebut “laku”.

Pada suatu hari, ketika Begawan Kanwa sedang santai di sungai Malini, sangat terkejut setelah mehilat bayi yang sedang disuapi oleh burung-burung penghuni hutan dengan penuh kasih sayang. Maka diambillah Sakuntala dan dibawa pulang ke pertapaan dan diasuh sebagai anaknya sendiri.

Demikianlah Sakuntala bercerita kepada raja Astina Prabu Dusmanta yang singgah di pertapaan begawan Kanwa. Prabu Dusmanta yang sudah terkena panah asmaranya Sakuntala tak dapat menahan diri, maka bersabdalah ia:

“Sakuntala putri begawan yang suci, perkenankanlah aku melamarmu untuk menjadi suami sang putri”.

Semula lamaran sang Prabu ini ditolak, akan tetapi karena desakan yang tak dapat ditolak, maka berkatalah Sakuntala:

“Ya Tuanku, hamba bersedia menjadi permaisuri baginda, tetapi kelak apabila dari pernikahan kita ini lahir seorang putra, hendaklah dinobatkan menjadi raja Astinapura sebagai pengganti sang Prabu”.

Tanpa berkata dipeluknya Sakuntala dan pernikahan gandarwa dilangsungkan. Setelah sang Prabu Dusmanta tinggal beberapa saat di pertapaan, maka ia berpamit hendak pulang ke istana. Ia berjanji bahwa Sakuntala akan segera dijemput untuk diboyong ke Astina.

Sakuntala sangat sedih dan malu atas semua perbuatannya itu, sehingga tak berani menyongsong kedatangan begawan Kanwa, karena ia mengira, pasti ayahnya telah mengetahui apa yang terjadi terhadap dirinya. Dengan bijaksana begawan Kanwa berkata dengan lemah lembut:

“Oh anakku Sakuntala, kau tidak salah. Anak yang kau kandung itu kelak akan menjadi manusia besar sepanjang sejarah. Semua ini adalah sudah kehendak Dewata”.

Sakuntala bersujud sambil menangis dan menciumi kaki ayah angkatnya. Ringkasnya, setelah Sembilan bulan, lahirlah seorang bayi laki-laki yang pekik, tegap, sigap, pantas sekali calon manusia besar. Oleh ibunya ia diberi nama Sarwadamana yang artinya ; manusia kuat penakluk binatang buas.

Tetapi setelah selang beberapa tahun lamanya, jemputan dari Prabu Dusmanta tak kunjung dating, maka atas titah Begawan Kanwa, Sakuntala berangkat ke negeri Astinapura untuk mempersembahkan Sarwadamana di hadapan Prabu Dusmanta. Setelah menghadap berkatalah Sakuntala:

“Baginda yang mulia, ini adalah putra baginda hasil perkawinan gandarwa kita berdua. Angkatlah Sarwadamana sebagai raja Astina pengganti baginda”.

Dengan muka marah merah padam berkatalah Prabu Dusmanta:

“Hai wanita tak tahu malu! Hentikan kata-katamu yang kurang ajar itu. Bagaimana mungkin aku seorang raja agung dapat beristerikan wanita hina seperti kau ini”.

Belum sampai selesai Prabu Dusmanta berkata, tiba-tiba ada suara gaib terdengar menggema di angkasa yang dapat didengar oleh sang Prabu dan menteri-menteri dalam kabinetnya:

“Hai Prabu Dusmanta, janganlah ragu-ragu. Anak ini adalah benar-benar putramu”.

Maka seluruh hadirin menjadi riang gembira dan Sakuntala diangkat menjadi permaisurinya yang syah dengan upacara yang meriah, sedang Sarwadamana dinobatkan menjadi Adipati dan oleh baginda diberi nama Bharata. Mulai saat itulah Bharata menajdi raja muda di Astina dan pemimpin besar dunia. Bharata inilah yang seterusnya menurunkan darah Bharata yang besar dan megah sepanjang jaman. Bharata berarti Mahatman atau Terpuji, yang kelak ia menurunkan Prabu Hastin, kemudian Prabu Kurupratipa baru kemudian lahir manusia besar Prabu Sentanu.

Dalam pedalangan wayang kulit purwa, pada umumnya hanya Sentanulah yang dikenal. Ia bukan sebagai pemilik negara Astina, tetapi sebagai peminjam negara Astina. Sedang kalau menurut Mahabharata lain lagi ceritanya:

Di kala raja Astina Prabu Kurupratipa sedang bertapa tiba-tiba datanglah batari Gangga. Ia duduk di pangkuannya sebelah kiri. Cara duduk Batari Gangga ini memberikan petunjuk kepada Prabu Kurupati, bahwa ia bukan jodohnya, tetapi calon menantunya. Karena itu setelah Prabu Kurupratipa mempunyai seorang anak laki-laki bernama Sentanu, maka Sentanui dikawinkan dengan Batari Gangga. Dan Sentanu inilah sebenarnya pemilik dan pewaris Negara Astina yang nanti diperebutkan cucu-cucunya, yakni: Kurawa dan Pandawa.

Bagaimana kisah Sentanui dan Batari Gangga baiklah kita ikuti kisah selanjutnya…..

Posted in Mahabharata | Leave a comment

Kisah Sebelum Mahabharata

Kisah Prabu Jayati

wayang-sejarah

Siapa sih sesungguhnya nenek moyang Pandawa dan Kurawa itu ?
Versi ceritanya dalam dunia pewayangan cukup banyak, tapi supaya tidak bingung kita gunakan hanya versi Mahabharata saja.

Cikal bakal nenek moyang Pandawa dan Kurawa adalah Prabu Nahusa dan Sang Prabu ini mempunyai seorang putra bernama Prabu Jayati. Jayati adalah seorang satria yang soleh, tampan dan sakti, memerintah Hastinapura dengan adil, membawa kemakmuran dinegaranya. Permaisurinya bernama Dewayani, putri dari pendeta Resi Sukra.

Dewayani mempunyai seorang dayang yang sangat cantik, sexy dan genit bernama Sarmista membuat semua cowok menelan liur setiap kali berpapasan dengannya apalagi kena kerlingan mata dan lemparan senyumnya, tidak jarang membuat senjata mereka siap tempur dalam kondisi siaga empat.

Kesalahan Dewayani adalah membawa si cantik molek ini kedalam lingkungan paling dalam di kerajaan, sehingga si cantik molek sering ikut ngurusin sang Prabu disaat Dewayani sibuk dengan urusan Ibu-ibu Dharma Wanita. Prabu Jayati pun tidak tahan dan akhirnya sering mengadakan high level meeting dengan Sarmista. Namun karena keseringan meeting maka level siaganya terhadap permaisuri Dewayani pelan-pelan turun ke hanya level siaga satu saja.

Hobby dari Sang Prabu Jayanti adalah berkebun dan dikebun sinilah Sarmista selalu menemui Jayanti untuk bersama-sama bercocok tanam, hobby yang sangat digemari oleh mereka berdua. Karena seharian lelah berkebun maka tiap malam kesiagaan sang Prabu hanya bisa mencapai tingkat siaga satu saja. Setelah berminggu-minggu akhirnya Dewayani merasa rindu dan ingin lebih dekat dengan suaminya. Suatu hari ia putuskan untuk absent dari memimpin rapat Dharma Wanita. Dewayani kemudian masuk ke kebun kerajaan berjalan mengendap-endap mau bikin surprise suaminya. Ditaman yang luas ini Dewayani merasa heran koq sepi sekali tidak ada kang kebon istana, tapi tetep saya ia meneruskan niatnya untuk bikin surprise sang Prabu, melangkah dengan sangat berhati-hati tidak menimbulkan suara.

Setibanya di pendopo ditengah-tengah taman kerajaan, bukannya mau bikin surprise, tapi Dewayani sendiri yang mendapatkan surprise, melihat Sang Prabu sedang asik menanam Singkong dikebunnya Sarmista. Melihat itu Dewayani berteriak dan kabur untuk mengadu pada ayahnya resi Sukra. Sedangkan Sang Prabu kaget terpelanting mendadak diteriakin, pohon singkong yang baru ditanamnya ikut tercabut hampir patah kena gagang pacul.

Resi Sukra yang mendengar kasus tanam singkong ini walaupun sebagai seorang resi bisa menahan emosi secara lahiriah, tapi bathinnya tetap sakit dan keluarlah kutukan dari mulutnya :

“Wahai Sang Maha Raja tuanku Prabu Jayanti, ternyata paduka telah kehilangan kehormatan paduka, kemegahan bahkan keremajaan paduka.”
Resi Sukra menjawab : Wahai paduka yang mulia, Maha Raja Jayati, “Kutuk Pastu” itu tidak bisa dibatalkan, kecuali bila ada seseorang yang bersedia untuk menukar ketuaanmu dengan kemudaannya.

Sang Prabu menjadi remuk redam semua perasaan menyatu didalam dirinya, rasa cemas, ngeri dan hina. Ia masih menginginkan kemewahan, kemegahan terutama keberahian. Maka dia pergi ke semua salon kecantikan dikerajaannya, mulai dari Bekasi sampai ke Condet semua dukun kecantikan didatanginya. Segala treatment dicoba mulai dari Janson Beckett’s anti-wringkle cream sampai ke Clinique anti-aging cream dipakainya, demikian juga semua pil kuat diminumnya mulai dari pilsener sampai ke pilkada dicobanya. Namun semuanya sia-sia belaka. Akhirnya ia memutuskan untuk memanggil kelima anak laki-lakinya untuk dimintai tolong, katanya:

Hai anak-anakku, aku masih ingin kekuasaan, kemegahan, kemudaan, keberahian, karena itu salah satu dari kalian harus memikul penderitaanku dengan cara mengambil ketuaanku dan memberikan keremajaanmu kepadaku.

Tentu saja mendengar permintaan ayahnya itu para putra tersebut menjadi bengong dan terkejut, koq ada orang tua yang gak tahu diri ya pikir mereka. Setelah diam sejenak akhirnya anak yang tertua berkata dengan lantang: Oh Ayahandaku, hambapun masih ingin menikmati keremajaan, kalau wujud hamba menjadi tua dan keriput, gadis mana yang mau mendekati diri hamba? Coba tanyakan kepada adik-adik hamba, mungkin ada yang mau. (Di zaman itu belum ada Ferrari atau Aston Martin jadi belum ada cewe bensin, kalo sekarang sih gak masalah mau keriput kayak apapun asal duitnya mulus aja, lihat aja Prabu Hugh Heffner di Kerajaan Ameripura).

Demikian pula dengan anak yang kedua, ketiga dan ke empat semua jawabannya sama, semua menolak menjadi tua pada takut kehilangan bahenol-bahenol. Akhirnya tiba giliran pada putra bungsunya yang bernama Pangeran Puru. Putra bungsu ini tidak tahan melihat penderitaan ayahnya maka sambil bersujud dikaki ayahnya ia berkata:

Oh Ayahanda Maha Raja Agung di bumi Hastinapura, hamba dengan rela dan senang hati memberikan kepada ayah kemudaan hamba, agar ayahanda terbebas dari penderitaan dan cengkeraman segala kepedihan, ayahanda berkuasalah dan berbahagialah memerintah negeri Hastinapura ini.

Prabu Jayati merasa kagum dan terharu kemudian memeluk dan menciumi anak bungsu ini dengan penuh rasa kasih sayang. Seketika ia menyentuh tubuh anaknya, saat itu pula ia menjadi muda belia kembali seperti sedia kala. Gagang kempul yang sedang dikantongi ikut mecotot keluar seperti the Incredible Hulk karena pakaiannya mendadak menjadi sempit. Sedangkan Pangeran Puru tubuhnya berubah menjadi seorang tua kempot peyot dengan baju kedodoran tidak sesuai dengan usianya.

Prabu Jayati kembali cool, menikmati hidup sepuasnya, melampiaskan semua keinginan, termasuk hobby bercocok tanam. Kebun istana diperluas sehingga Sang Prabu bisa bercocok tanam dimana saja. Disamping tanam singkong Sang Prabu juga doyan mecah duren, pohon duren banyak menghiasi kebun dan durennya manis-manis serta harum, menyebarkan bau yang sangat sedap merangsang indera apalagi kalau sedang direkah.
Sarmista yang cantik molek ini sekarang dibantu oleh asisten-asisten yang tidak kalah moleknya melengkapi koleksi kebun papaya Sang Prabu dengan beberapa jenis papaya unggulan. Kita mengenalnya sekarang sebagai papaya Bangkok, besar, kenyal dan manis.
Hastinapura menjadi kaya raya dengan buah-buahan mungkin kalau di jaman modern ini mirip seperti Bangkok. Berbagai ragam buah ada dan semuanya adalah jenis unggulan. Panen selalu berlebih hingga buah-buahan itu bisa di ekspor mendatangkan devisa tambahan. Kwalitas buahnya sangat tinggi karena quality controlnya ditangani sendiri oleh pakar buah Sang Prabu Jayati. Ke empat putranya yang masih perkasa diberi tugas sebagai Duta Besar melakukan marketing di negara tetangga.

Siang ini suasana di Negara Hastinapura sangat tenang, Sang Prabu sedang menjalankan tugas rutin melakukan pengecekan kwalitas duren untuk di ekspor, sambil jongkok-jongkok sang Prabu asyik menciumi aroma duren satu per satu. Karena heningnya suasanya jelas terdengar nafas Sang Prabu asyik ngicipi duren …… tanpa disangka jendela pendopo mendadak terbuka dan dari balik jendela terdengar suara halus JENGATNO …. JENGATNO!!! … Sang Prabu terperanjat kemudian memandang kebawah sejenak … agak heran tapi sebel lalu berkata … Lha wis jengat pol begini … mau jengat gimana lagi … ?

Mendengar omelan Sang Prabu … tak lama dari balik jendela muncul seraut wajah jelita yang tak lain adalah Sarmista yang sedang disuruh permaisuri Dewayani untuk mencari sekertarisnya mbak Ngatno. Sarmista kemudian menjawab “maaf kakang Prabu … saya sedang mencari Jeng Ngatno … tadi Jeng Ngatno janji pada Ibu mau bantuin ngetik risalah rapat”. “Udah tinggalin aja dulu, Ibu dah banyak yang bantu, kamu bantu aku disini”, maka terjadilah pesta duren di pendopo istana.

Menjelang sore hari, matahari terbenam merubah warna langit menjadi lembayung. Prabu Jayati duduk termenung memandangi rombongan burung bangau dan belibis terbang kembali kesarangnya melintasi langit yang indah seolah-olah sebuah karya seni yang sengaja dibuat oleh tangan ahli seorang pelukis. Sarmista setia menemani Sang Prabu, mencuci ketimun dan membersihkan rambutan sebelum dikemas.

Kepakan sayap sekelompok kelelawar terbang rendah keluar dari pupus-pupus daun pisang dikebun membuat Prabu Jayati terhentak dari lamunannya. Teringat kepada putra bungsu yang setia dan penuh bakti, lalu sang Prabu memerintahkan asisten Sarmista untuk memanggil pangeran Puru.

Setelah Pangeran Puru datang, berkatalah sang Prabu:
Oh putraku Puru, engkau adalah satu-satunya putraku yang telah rela mengorbankan diri demi ayahmu. Milikmu yang paling berharga kau berikan tanpa pamrih. Oh anakku sayang, sekarang ayah sadari bahwa nafsu angkara, nafsu birahi, nafsu syawat tidak akan berhenti melalui pelampiasan.
Semakin dilampiaskan bukan semakin padam tapi justru semakin berkobar. Kini aku tahu bahwa dengan melampiaskan hawa nafsu tidak akan membawa diri ini pada kedamaian hidup. Mestinya sejak semula aku sudah menyadarinya namun aku biarkan diriku tenggelam dalam lautan ego ku.

Pangeran Puru sambil bersujud mengatakan pada sang Prabu:
Oh ayahanda tercinta, bukankah ayahanda yang mengajarkan pada ananda untuk selalu “Tulus iklas menerima nasib, bila kehilangan jangan disesali, menerima hinaan dengan kesabaran hati, rela dan rendah hati berserah diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa”.

Sang Prabu sangat terharu mendengar ucapan anaknya, dan menyadarkan dirinya bahwa ternyata umur bukan menjadi ukuran tingkat kedewasaan seseorang. Seluruh tubuhnya merasa hangat dipenuhi rasa bangga terhadap putra bungsunya yang tidak saja menunjukkan sikap dewasa namun juga sifat bijaksana yang sangat dalam, membuatnya sadar bahwa diantara putranya hanya Puru lah yang akan mampu membawa kebaikan bagi kerajaannya.

Selanjutnya sang Prabu berkata: Oh Puru, terimalah kembali kemudaanmu dan perintahlah kerajaan ini dengan bijaksana dan adil. Kemudian sang Prabu memeluk putra bungsunya. Dan disaat itu juga pangeran Puru berubah menjadi muda dan gagak sedangkan Prabu Jayanti menjadi tua renta.

Pangeran Puru kemudian dinobatkan sebagai raja Hastinapur, memerintah dengan baik sedangkan Prabu Jayanti bertapa dihutan untuk memusnahkan segala hawa nafsunya dalam usahanya menjadi manusia sempurna.

Prabu Puru kelak mempunyai anak bernama Dusmanta, dan Dusmanta menikah dengan Sakuntala, dari pernikahan mereka lahir Bharata, pangkal dari cerita Mahabharata.

Posted in Mahabharata | Tagged , | Leave a comment