Mahabharata 1

Mahabharata 1 

MahaBharata (Razmnama versi Persia) merupakan Sejarah (itihasa). Kisah-kisah pada tradisi India digolongkan menjadi:

  • Kavya (isinya bisa jadi tidak benar namun dituliskan dengan cara yang sungguh Indah),
  • Purana (Cerita-cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi namun memiliki nilai pendidikan, tujuannya agar orang mengerti bahwa dengan berbuat baik akan mendapat pahala baik),
  • Itikatha merupakan kejadian-kejadian yang disusun secara kronologis ataupun kejadian-kejadian yang berbeda-beda dan
  • Itihasa berasal dari kata ‘hasati’ = tertawa, merupakan bagian Itikata yang mempunyai nilai pendidikakan

Itihasa [Mahabharata dan Ramayana] dan Purana disebut juga Pancama Veda atau Veda yang kelima. Itihasa dan Purana digolongkan kedalam Smerti, sedangkan 4 Veda lainnya [Rig Veda, Yajur Veda, Sama Veda dan Atharva Veda] digolongkan sebagai Sruti . Bukti mengenai Itihasa adalah Pancama Veda disebutkan di Atharva Veda:

“He approached the brhati meter, and thus the Itihasas, Puranas, Gathas and Narasamsis became favorable to him. One who knows this verily becomes the beloved abode of the Itihasas, Puranas, Gathas and Narasamsis.” [Atharva Veda 15.6.10–12]

Juga dalam Upanisad-Upanisad:

nama va rg-vedo yajur-vedah sama-veda atharvanas caturtha itihasa-puranah pancamo vedanam vedah

“Indeed, Rg, Yajur, Sama and Atharva are the names of the four Vedas. The Itihasas and Puranas are the fifth Veda.” (Kauthumiya Chandogya Upanisad 7.1.4)

asya mahato bhutasya nihsvasitam etad yad rg-vedo yajur-vedah sama
vedo’tharvangirasa itihasah puranam ityadina

“O Maitreya, the Rg, Yajur, Sama and Atharva Vedas as well as the Itihasas and the Puranas all manifest from the breathing of the Lord.” (Madhyandina-sruti, Brhad-aranyaka Upanisad 2.4.10)

Mahabharata ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Vyasa lahir dari keluarga Nelayan yang hidup disuatu tempat di pertemuan sungai Gangga dan Yamuna dekat Prayaga. Warna tanah tempat Vyasa lahir adalah kehitam-hitaman (Sanskrit = Krsna; Pali = Kanha] sehingga disebut Krsna Dwipa. Anak yang lahir ditempat itu disebut Krsna Dwipayana/Kanha Dipayana. 

Literatur Veda menunjukan bahwa Vyasa bukan hanya 1 orang, sebagaimana disebutkan di Visnu Purana Book 3, Ch 3:

In every third world age (Dvapara), Vishnu, in the person of Vyasa, in order to promote the good of mankind, divides the Veda, which is properly but one, into many portions. Observing the limited perseverance, energy, and application of mortals, he makes the Veda fourfold, to adapt it to their capacities; and the bodily form which he assumes, in order to effect that classification, is known by the name of Veda-vyasa. Of the different Vyasas in the present Manvantara and the branches which they have taught, you shall have an account. Twenty-eight times have the Vedas been arranged by the great Rishis in the Vaivasvata Manvantara… and consequently eight and twenty Vyasas have passed away; by whom, in the respective periods, the Veda has been divided into four. The first… distribution was made by Svayambhu (Brahma) himself; in the second, the arranger of the Veda (Vyasa) was Prajapati… (and so on up to twenty-eight).

juga di Matsya Purana, yang menyatakan setidaknya ada 4 Vyasa yang berbeda:

kalenagrahanam matva puranasya dvijottamah
vyasa-rupam aham krtva samharami yuge yuge

“O best of the brahmanas, understanding that the Purana would gradually become forgotten, in every yuga I appear in the form of Vyasa and condense it.” [Matsya Purana 53.8-9]

Juga di Literatur Buddhis, yaitu pada kitab Jataka, Suttapitaka yang merupakan kisah-kisah kehidupan Sang Buddha di kehidupan lampaunya, terdapat dua Kanha-Dipayana:

  • Jataka no 444, Kanha-Dipayana Jataka, dinyatakan bahwa Sang Buddha dan Sariputta [muridNya] masing-masing menjadi Pertapa Kakak adik, yaitu Pertapa Kanha-Dipayana dan Adiknya Pertapa Ani-Mandaviya
  • Jataka no 454, Gatha Jataka, Sang Buddha dan Sariputra [muridNya], juga menjadi kakak adik, namun kali ini Sariputra yang menjadi kakak tertua. Kisah ini adalah kisah mengenai 10 saudara yang bernama Vasudeva [kesava; Kanha = krisna = hitam], Baladeva, Ajjuna, GathaPandita dan 6 Saudara lainnya. Sang Buddha menjadi sang Adik, yaitu Gathapandita, sedangkan Sariputra menjadi sang kakak, yaitu Vasudeva [kesava] Raja dari kerajaan Drawaka akhirnya meninggal di panah seorang pemburu bernama Jara. Sedangkan Pertapa Kanha-Dipayana di jataka no 454 ini bukan kelahiran sebelumnya sang Buddha.

MahaBharata, berasal dari kata Bhar = sesuatu yang memberikan makanan; Tan = memperluas, memperkembangkan; varsa = Negeri. Saat jaman MahaBharata, BharataVarsa terdapa banyak negeri kecil-kecil seperti Amga (sekarang Bhagalpur) yang bersebelahan dengan Maghada (Magha = semua pendeta yang menolak Veda, da=penganut) merupakan kerajaan terbesar,Vaeshali/videha (disebelah sungai Gangga), Kashirajya (dibarat sungai Sone) kuru dan pancalala (sekarang Hayana, sekitar Delhi), dll. Kerajaan-kerajaan kecil itu sering berperang memperebutkan daerah yang subur.

Latar belakang MahaBharata

MahaBharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama MahaBharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya.

Para Raja India Kuno

MahaBharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. MahaBharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam MahaBharata.

Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi Asia Selatan). Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di negara bagian Haryana, India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Korawa.

Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa.

Pandawa dan Kurawa adalah bangsa Jat (satu dari beberapa bangsa asli India), Persatuan ini mulai digagas dengan perkawinan-perkawinan misalnya Bima menikahi Hidimba, gadis Mongol dari India Timur; Krsna menikahi Rukmini, gadis dari perbatasan timur-laut; Arjuna menikahi Citramgada, gadis Mongol dari negeri Manipura

Sistem kekerabatan yang digunakan di jaman MahaBharata adalah Matrilinier dan Patriliier. Dalam setiap kelompok terdapat seorang wanita yang disebut ‘Goshi Mata’ orang-orang memperkenalkan diri dengan menyebut nama wanita itu. System ini digunakan di daerah India Selatan dan Barat (bengala, Assam dan Kerala) contoh: pandawa lima mengenal diri mereka sebagai Kuntiya, anak-anak kunti.

Beberapa kelompok yang tinggal di bukit tertentu (gotra=penduduk di suatu bukit tertentu), orang memperkenalkan diri dengan menyebut pemimpin gotranya. Sistem ini digunakan di sekitar Delhi dan India barat laut, contoh pemimpinnya Kasyapa maka disebut Kasyapa Gotra.

Sistem Perkawinan adalah Poliandri, Poligami, Momogami. Poliandri ada pada bangsa Mongol di India Utara (sekarangpun di tibet dan Laddakh) Misalnya Drupadi menikahi Pandawa Lima secara sekaligus. Kunti mempunyai 4 Anak (Karna, Yudistira, Bima dan Arjuna) dari 4 Suami. System ini disebut Niyoga Putra dan tidak dipandang buruk pada jaman itu. Mahabarata di Pewayangan Jawa, yang terkena pengaruh Islam Drupadi dinyatakan bersuami satu. Padahal di MahaBharata versi India. Masing-masing suami memberikan satu anak kepada Drupadi.

Secara singkat, MahaBharata merupakan kisah mempersatukan bangsa-bangsa india yang terdiri dari banyak kerajaan kecil saat itu menjadi Bharatavarsa yang berpusat di sekitar konflik Pandawa lima dengan Korawa (sepupu mereka, seratus orang-an, jumlahnya 102 orang) mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Di India ditemukan dua versi utama MahaBharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah “Versi Utara” dan “Versi Selatan”. Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.

Antara tahun 1919 dan 1966, para pakar di Bhandarkar Oriental Research Institute, Pune, membandingkan banyak naskah dari wiracarita ini yang asalnya dari India dan luar India untuk menerbitkan suntingan teks kritis dari MahaBharata. Suntingan teks ini terdiri dari 13.000 halaman yang dibagi menjadi 19 jilid. Lalu suntingan ini diikuti dengan Harivaṃsa dalam 2 jilid dan 6 jilid indeks. Suntingan teks inilah yang biasa dirujuk untuk telaah mengenai MahaBharata.

Pengaruh dalam budaya

Selain berisi cerita kepahlawanan, MahaBharata juga mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah MahaBharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara.

Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari MahaBharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh(991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.

Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa.

Karya sastra lain yang juga terkenal adalah kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya(1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa di masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya di masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18.

Beberapa kakawin lain turunan MahaBharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari jaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir jaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali.

Kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta ke Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi, banyak digubah menjadi cerita pewayangan. Dalam kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta mungkin terdapat perbedaan dengan lakon pewayangannya, yang kadang-kadang besar sekali, sehingga memberi kesan bahwa segala sesuatunya terjadi di Jawa. Hal ini disebabkan oleh kecerdasan para pujangga masa lampau yang mampu memindah alam pikiran para pembaca atau pendengarnya dari suasana India menjadi Jawa Asli. Jika Hastinapura sebenarnya terdapat di India, maka nama-nama seperti Jonggringsalaka, Pringgandani, Indrakila, Gua Kiskenda, sampai Gunung Mahameru dibawa ke tanah Jawa.

Begitu pula dengan tokoh Pancawala (Pancakumara). Jika dalam versi aslinya mereka terdiri dari lima orang, maka dalam pewayangan mereka dikatakan hanya satu orang saja. Menurut Mulyono dalam artikelnya berjudul “Dewi Dropadi: Antara kitab MahaBharata dan Pewayangan Jawa”, menyatakan bahwa terjadinya perbedaan cerita tentang Pancawala antara kitab MahaBharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Hal serupa juga terjadi pada kisah Dewi Dropadi dalam kitab Adiparwa. Jika dalam Adiparwa ia bersuami lima orang, maka dalam pewayangan Jawa Dropadi hanya bersuami satu orang saja. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab MahaBharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam. Pancawala yang sebenarnya merupakan lima putera Pandawa pun diubah menjadi seorang tokoh yang merupakan putera Yudistira saja.

Apakah Kisah MahaBharata benar-benar terjadi?

  • Dr. S. Balakrishna menyatakan bahwa perang tersebut terjadi tahun 2559 SM dengan memperhitungkan gerhana bulan.
  • Prof. I.N. Iyengar memperkirakan perang tersebut terjadi tahun 1478 SM dengan memperhitungkan gerhana dan garis lurus planet Saturnus+Jupiter.
  • Dr. B.N. Achar menyatakan bahwa perang tersebut terjadi tahun 3067 SM dengan memperhitungkan posisi planet-planet yang dicantumkan dalam MahaBharata.
  • Shri P.V. Holey yakin bahwa perang tersebut terjadi tanggal 13 November tahun 3143 SM dengan memperhitungkan posisi planet dan sistem kalender.
  • Dr. P.V.Vartak mengatakan bahwa perang tersebut terjadi tanggal 16 Oktober tahun 5561 SM dengan memperhitungkan posisi planet.
  • Detail pembuktian fakta Mahabharata dapat dilihat di sini dan disini

Kisah MahaBharata terbagi dalam 18 Parwa (Astadasaparwa):

 
1.adiparwa 7.Dronaparwa 13.Anusasanaparwa
2.Sabhaparwa 8.Karnaparwa 14.Aswamedhikaparwa
3.Wanaparwa 9.Salyaparwa 15.Asramawasikaparwa
4.Wirataparwa 10.Sauptikaparwa 16.Mosalaparwa
5.Udyogaparwa 11.Striparwa 17.Prasthanikaparwa
6.Bhismaparwa 12.Santiparwa 18.Swargarohanaparwa
 
 
The Scientific Dating of the Mahabharat WarBy Dr.P.V.Vartak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s