Mahabharata 3

Mahabharata 3 

Pandawa dan Kurawa

Pandawa dan Korawa hidup bersama-sama di istana Hastinapura. Istilah Korawa yang digunakan dalam MahaBharata memiliki dua pengertian, yaitu

merujuk kepada seluruh keturunan Kuru (termasuk pandawa didalamnya), arti lainnya merujuk kepada anak-anak Dretarastra, sebab ia merupakan keturunan yang tertua dalam garis keturunan Kuru (Pandawa tidak termasuk). Rsi Drona mendidik mereka semasa kanak-kanak, bersama dengan puteranya yang bernama Aswatama. Selain itu mereka diasuh pula oleh Bhisma dan Bagawan Kripa. Setelah Pandu mangkat, kakaknya yang bernama Drestarastra melanjutkan pemerintahan. Drestarastra melihat talenta para Pandawa dan hendak mencalonkan Yudistira sebagai Raja, namun hal tersebut justru menimbulkan sikap iri hati dalam diri Duryodana, salah satu Korawa.

Karna seharusnya adalah anak pertama dari Kunti (ibu Pandawa). Secara harfiah karna bermakna “telinga”, sehingga muncul anggapan bahwa tokoh Karna lahir melalui telinga. Namun nama Karna baru dipakai setelah ia dewasa, karena nama ini juga bermakna “terampil” atau “pandai”. Dengan kata lain, nama Karna bukanlah nama asli sejak bayi, melainkan julukan yang ia sandang atas kepandaiannya itu.

Karna juga memiliki berbagai panggilan, yaitu Basusena, Radheya, Suryaputra, Sutaputra, Wresa dan Anggaraja Selain nama-nama tersebut dalam versi pewayangan Jawa masih dikenal beberapa nama tambahan lagi yaitu Basukarna, Suryatmaja, Arkasuta, Rawisuta, Pritasuta, Bismantaka, Talidarma dan Anggadipa

Dalam versi jawa kunti melahirkan “putera Surya” itu melalui telinga sehingga keperawanannya tetap terjaga. Kisah versi Jawa ini mungkin terpengaruh oleh makna harfiah dari Karna, yaitu “telinga”. Sementara versi asli menyebut Kunti melahirkan secara normal dengan bantuan Surya.

Demi menjaga nama baik negaranya, Kunti yang melahirkan anak sebelum menikah terpaksa membuang “putera Surya” di sungai Aswa dalam sebuah keranjang. Bayi itu kemudian terbawa arus dan ditemukan oleh Adirata yang bekerja sebagai kusir kereta Drestarasta.

Adirata dengan perasaan gembira memungut bayi tersebut sebagai anaknya. Karena sejak lahir sudah memakai pakaian perang lengkap dengan anting-anting, kalung dan Baju besi pemberian Surya, maka bayi itu pun diberi nama Basusena. Sejak saat itu Basusena menjadi anak angkat keluarga Adirata, sehingga ia dikenal dengan sebutan Sutaputra atau “anak kusir”. Namun, namanya yang lebih terkenal adalah Radheya, yang bermakna “anak Radha”. Adapun Radha adalah nama istri Adirata.

Meskipun tumbuh dalam lingkungan keluarga kusir, Radheya justru bersita-cita ingin menjadi perwira kerajaan. Adirata pun mendaftarkannya ke dalam perguruan Resi Drona yang saat itu sedang mendidik para Pandawa dan Korawa. Akan tetapi Drona menolak Radheya karena ia hanya sudi mengajar kaum ksatriya saja. Radheya yang sudah bertekad bulat memutuskan tetap belajar meskipun secara diam-diam. Ia sering mengintai Drona saat sedang mengajarkan ilmu perang kepada murid-muridnya, terutama ilmu memanah atau Danurweda. Meskipun berguru secara tidak resmi, namun kehebatan Radheya dalam memanah melebihi murid-murid Drona, kecuali Arjuna. Bakat keterampilan inilah yang membuat Radheya dijuluki sebagai Karna.

Pada suatu hari Karna bertemu seorang pendeta bernama Parasurama yang dulu pernah mengajar Drona. Pendeta gagah berumur panjang, dari zaman Tretayuga (zaman Ramayana) sampai zaman Dwaparayuga (zaman MahaBharata). Parasurama memiliki pengalaman yang buruk dengan kasta ksatriya, sehingga ia terkenal sebagai pembenci kaum ksatriya. Hal itu membuat Karna harus menyamar sebagai brahmana muda untuk bisa mendekatinya. Dengan cara itu Karna berhasil menjadi murid Parasurama.

Pada suatu hari, saat Parasurama ingin beristirahat, Karna menyediakan pangkuannya sebagai bantal. Ketika Parasurama tertidur pulas, tiba-tiba muncul seekor serangga menggigit paha Karna. Karena rasa baktinya pada sang guru, Parasurama agar tidak mengganggu tidur nyenyaknya, Karna membiarkan pahanya terluka hingga darah mengucur sedangkan dirinya tidak bergerak sedikit pun. Ketika Parasurama bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat kaki Karna telah berlumuran darah. Kemampuan Karna dalam menahan rasa sakit telah mengherankan Parasurama dan ia berkata pada Muridnya, ‘Karena engkau memiliki kekuatan sedemikan hebatnya untuk menahan rasa sakit, pastilah engkau bukan keturunan Brahmana’. Karna kemudian membenarkan, ‘Ya, hamba terlahir di dalam keluarga kusir kereta’. Merasa telah ditipu, Parasurama pun mengutuk Karna. Kelak, pada saat pertarungan antara hidup dan mati melawan seorang musuh terhebat, Karna akan lupa terhadap semua ilmu yang telah diajarkan Parasurama.

Setelah menerima kutukan dari Parasurama, Karna dengan sedih dan bergerak meninggalkan asrama. Setelah berjalan tanpa tujuan, ia pun tiba di tepi pantai. Sambil termangu-mangu memikirkan jati dirinya, dia duduk di sana untuk beberapa lama, kemudian bangun lalu pergi. Ketika ia kembali ke tempat tersebut, ia melihat sesosok binatang yang melaju dengan cepat. Karena mengira hewan tersebut seekor rusa, ia pun melepaskan panah untuk membunuhnya. Setelah melihat dari dekat, barulah Karna sadar kalau hewan yang dibunuhnya bukan rusa, melainkan sapi milik seorang brahmana. Karna pun pergi menemui si pemilik untuk meminta maaf atas kecerobohannya. Namun, brahmana itu terlanjur marah dan mengutuk kelak Karna akan mengalami kematian saat sedang lengah sebagaimana ia telah membunuh sapi kesayangannya yang juga dalam keadaan lengah.

Versi lain mengisahkan, suatu hari Karna mengendarai sendiri keretanya dan melaju kencang hingga menewaskan seekor sapi yang sedang menyeberang jalan. Brahmana pemilik sapi menjadi marah, lalu mengutuk Karna supaya kelak roda keretanya akan terbenam dalam lumpur ketika bertarung melawan musuh terberatnya.

Karna merupakan sosok dengan sifat-sifat yang lengkap. Ia dikenal sebagai seorang yang penuh percaya diri, tegas, pemberani, kejam terhadap lawan, setia terhadap kawan, dan murah hati kepada kaum miskin.

Karna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah yang hampir setara dengan Arjuna. ia mahir berperang, namun bakatnya terperangkap dalam status sosial yang rendah. Hal itu membuatnya haus akan status yang memberikannya identitas. Meskipun Karna diasuh dalam keluarga yang berkasta rendah, ia memiliki sikap seorang ksatria, meskipun jarang yang mengakuinya. Ia memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan Duryodana, yang telah mengangkatnya menjadi raja di Kerajaan Anga, sekaligus menaikkan statusnya. Atas perlakuan baik yang dilakukan Duryodana terhadap dirinya, Karna berjanji bahwa ia akan selalu berada di pihak Duryodana. Kebencian Karna terhadap Arjuna bertemu dalam satu jalan dengan kebencian Duryodana terhadap para Pandawa.

Karna memiliki persaingan yang sangat hebat dengan Arjuna, dan berambisi bahwa ia akan membunuh Arjuna saja saat Bharatayuddha, bukan Pandawa yang lain. Sebelum Bharatayuddha, Kunti datang ke hadapan Karna dan mengatakan bahwa ia sebenarnya ibunya. Kunti menyuruh Karna agar memihak Pandawa. Karna mengatakan bahwa ia hanya mengakui Radha sebagai ibunya dan tetap memihak Korawa. Karna juga mengatakan, bahwa ia hanya mau membunuh Arjuna, bukan Pandawa yang lain.

Ketika tiba waktunya, Drona mempertunjukkan hasil pendidikan para Pandawa dan Korawa di hadapan segenap kaum bangsawan dan rakyat Hastinapura, ibu kota kerajaan Kuru. Setelah melaui berbagai tahap pertandingan, Drona akhirnya memutuskan bahwa Arjuna adalah murid terbaiknya, terutama dalam hal ilmu memanah. Tiba-tiba Karna muncul menantang Arjuna sambil memamerkan kesaktiannya. Resi Krepa sang pendeta istana meminta Karna supaya menjelaskan asal-usulnya terlebih dahulu karena untuk menghadapi Arjuna haruslah dari kaum yang sederajat. Mendengar permintaan itu, Karna pun tertunduk malu.

Duryodana sang pemimpin Korawa maju membela Karna. Menurutnya, keberanian dan kehebatan tidak harus dimiliki oleh kaum ksatriya saja. Namun apabila peraturan memang mengharuskan demikian, Duryodana bersedia mematuhinya. Ia lalu mendesak ayahnya, yaitu Dretarastra raja Hastinapura, supaya Karna diberi kedudukan sebagai raja bawahan di Angga. Dretarastra yang berhati lemah tidak mampu menolak permintaan itu. Akhirnya pada saat itu juga, Karna dinobatkan menjadi Raja Angga. Para brahmana membacakan weda-weda dan Duryodana memberi mahkota, pedang, dan air penobatan kepada Karna. Karna terharu dengan kemurahan hati Duryodana. Balasan yang diinginkan oleh Duryodana hanyalah persahabatan yang kekal.

Adirata muncul bersuka cita menyambut penobatannya. Akibatnya, semua orang pun tahu kalau Karna adalah anak Adirata. Melihat hal itu, Bimasena mengejek Karna sebagai anak kusir sehingga tidak pantas jika bertanding melawan Arjuna yang berasal dari kaum bangsawan. Melihat ulah Bimasena, Duryodana pun kembali tampil membela Karna. Suasana semakin tegang dan memanas. Namun tidak seorang pun yang menyadari kalau Kunti jatuh pingsan di bangku penonton setelah melihat putra sulung yang ia buang sejak lahir itu, kini telah dewasa dan saling berhadapan dengan putranya yang lain. Ciri-ciri yang membuat Kunti langsung mengenalinya adalah pakaian perang dan perhiasan pemberian Surya yang selalu dikenakan Karna. Senja pun tiba. Dretarastra membubarkan acara tersebut sehingga pertandingan antara Karna melawan Arjuna tertunda. Namun sejak saat itu dimulailah persahabatan antara Karna dengan Duryodana, pemimpin para Korawa. Karna memiliki putera bernama Wresasena.

Nama istri Karna dalam versi pewayangan Jawa, yaitu Surtikanti, puteri ketiga Prabu Salya, raja kerajaan Madra (Mandaraka). Dikisahkan, Surtikanti menjalin cinta dengan Karna meskipun dirinya telah bertunangan dengan Duryudana (ejaan Jawa untuk Duryodana). Karna yang serba salah akhirnya menculik Surtikanti dan membawanya kabur. Tuduhan penculikan Surtikanti pun jatuh kepada Arjuna yang saat itu sedang bertamu ke istana Mandaraka, karena wajahnya mirip dengan Karna. Untuk membersihkan namanya, Arjuna berjanji akan segera menangkap pelaku yang sebenarnya.

Arjuna akhirnya berhasil menemukan persembunyian Karna. Keduanya bertarung seru sampai akhirnya berhasil dipisah oleh Batara Narada yang turun dari kahyangan. Narada memberi tahu kalau keduanya masih bersaudara, yaitu sama-sama putera Kunti. Arjuna gembira mengetahui hal itu. Ia pun berniat membantu Karna supaya dapat menikahi Surtikanti. Kebetulan pada saat itu, Kerajaan Hastina (Hastinapura) sedang menghadapi pemberontakan dari seorang raja bawahan di Awangga yang bernama Prabu Kalakarna. Pemberontakan tersebut akhirnya berhasil ditumpas oleh Karna dengan bantuan Arjuna. Atas kemenangan itu, Duryudana mengangkat Karna sebagai Raja Awangga dan merelakan Surtikanti untuknya. Kemudian, Duryudana menikah dengan adik Surtikanti yang bernama Banowati sehingga hubungan persaudaraannya dengan Karna semakin erat. Dari perkawinan antara Karna dengan Surtikanti kemudian lahir dua orang putera bernama Warsasena dan Warsakusuma.

Dengan demikian terdapat dua perbedaan penting dalam kedua versi di atas. Versi asli mengisahkan pengangkatan Karna sebagai Raja Angga terjadi sewaktu ia muncul dalam arena pertandingan murid-murid Resi Drona. Sementara itu, versi Jawa menyebut Karna menjadi Raja Awangga sebagai hadiah atas jasanya menumpas pemberontakan Kalakarna. Perbedaan kedua ialah, Karna versi Jawa mengetahui kalau Pandawa merupakan adik-adiknya berkat pemberitahuan Batara Narada, sedangkan menurut versi asli, Karna baru mengetahui hal itu dari Kresna sesaat menjelang Bharatayuddha meletus. Meskipun berbeda waktu kejadiannya, namun sikap Karna tetap tegas yaitu berpihak pada Korawa.

Karna merupakan kekuatan utama pendukung Korawa. Ia banyak melakukan penaklukkan terhadap negeri-negeri yang menolak mengakui kedaulatan Duryodana. Berkat kesaktiannya, wilayah Hastinapura semakin luas dan bertambah kaya.

Dewa Indra khawatir membayangkan jika anaknya, Arjuna kelak sampai kalah saat menghadapi Karna. Ia pun merencanakan tipu muslihat untuk merebut pusaka Karna yang diberikan Surya sejak bayi, yaitu baju perang, kalung, dan sepasang anting. Surya yang mendengar rencana tersebut segera memberi tahu Karna bahwa Indra akan datang menyamar sebagai pendeta tua yang akan meminta semua pusaka Karna. Mendengar hal itu, Karna tidak khawatir dan tetap menjalani hidup seperti biasa, Karna terkenal sebagai seorang dermawan. Pendeta samaran Indra pun muncul di hadapan Karna.

Terjadilah tanya jawab, Karna berkata, ‘Apa yang Paduka inginkan? Uang, pakian atau apakah?’. Pendeta samaran itu berata, ‘Tidak, saya tidak memerlukan itu semua,’ Apapun yang ditawarkan Karna, Pendeta itu terus menolak. Pendeta samaran itu merasakan kedemawanan yang luarbiasa tidak juga tega mengungkapkan keinginan yang sebenarnya dan akhirnya Pendeta samaran berkata, ‘Saya pergi, jika demikian’. Namun Karna berkata, ’Tuan telah datang padaku, jadi tidak pantas kalau aku tidak memberikan sesuatu kepada tuan, lebih-lebih tuan pergi denga perasaan aku masih Hidup’. Pendeta itu berkata bahwa ia menginginkan semua yang melekat di badan Karna. Ia tahu dengan pasti apa yang sebenarnya diminta oleh pendeta samaran itu namun tetap ia laksanakan tanpa rasa menyesal sama sekali padahal Ia sedang diambang perang besar. Karna kemudian melepas baju perangnya menggunakan pisau karena telah melekat di kulitnya sejak bayi hingga lecet-lecet dan berdarah. Kalung dan anting juga ia berikan semua.

Karna mengatahui bahwa baju perang nya dan Anting pusakanya telah membuat tidak ada satupun yang mampu melukai dirinya. Namun Ia tetap memberikannya! Indra terharu melihat ketulusan Karna. Demi ingin menyaksikan Arjuna menang, ia telah berbuat tidak adil terhadap Karna. Indra pun melepas samarannya dan memberi Karna pusaka baru berupa Konta (yang bermakna tombak). Namun, pusaka tersebut hanya bisa digunakan sekali saja. Karna berterima kasih dan menyediakan Konta hanya untuk menghadapi Arjuna kelak.

Versi Jawa

Pusaka pemberian Indra tersebut bukan bernama Konta, melainkan bernama panah Badal Tulak. Adapun senjata Konta versi Jawa, atau yang lebih terkenal dengan sebutan Kuntawijayadanu, sudah didapatkan Karna jauh sebelumnya, yaitu ketika kelahiran Gatotkaca, putera Bimasena. Dikisahkan bahwa bayi Gatotkaca sampai berusia satu tahun tidak juga terpisah dengan ari-arinya (plasenta). Tidak ada satu pusaka pun yang dapat memotong tali pusar Gatotkaca. Arjuna kemudian pergi bertapa demi menolong keponakannya itu. Batara Guru memerintahkan Batara Narada untuk menyerahkan panah Kuntawijayadanu kepada Arjuna. Pada saat yang sama, Karna juga sedang bertapa. Batara Surya membantunya dengan menutupi cahaya matahari dan menyuruh Karna supaya mengaku sebagai Arjuna saat Narada tiba nanti. Narada akhirnya tiba di hadapan Karna yang dikiranya Arjuna.

Sesuai rencana, panah Kunta pun jatuh ke tangan Karna. Menyadari telah tertipu, Narada pergi mencari Arjuna yang asli. Arjuna yang mendengar hal itu segera mengejar Karna. Pertarungan terjadi di mana Arjuna hanya mampu merebut sarung pembungkus pusaka tersebut. Meskipun demikian, sarung panah itu dapat digunakan untuk memotong tali pusar bayi Gatotkaca. Anehnya, benda itu ikut masuk ke dalam perut si bayi. Kelak ketika perang Bharatayuddha terjadi, panah Kunta digunakan Karna untuk membunuh Gatotkaca, sebagai simbol pusaka bertemu sarungnya.

Yudistira dikenal yang paling sulung dari Pandawa, Ia seharusnya anak Kedua Kunti bukan anak pertama. Yudistira bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Nama lainnya adalah Dharmaraja, yang bermakna “raja Dharma”, karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya. Julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah: Ajataśatru, “yang tidak memiliki musuh”, Bhārata, “keturunan Maharaja Bharata”, Dharmawangsa atau Dharmaputra, “keturunan Dewa Dharma”, Kurumukhya, “pemuka bangsa Kuru”, Kurunandana, “kesayangan Dinasti Kuru”, Kurupati, “raja Dinasti Kuru”, Pandawa, “putera Pandu”, Partha, “putera Prita atau Kunti”.

Beberapa di antara nama-nama di atas juga dipakai oleh tokoh-tokoh Dinasti Kuru lainnya, misalnya Arjuna, Bisma, dan Duryodana. Dalam versi pewayangan Jawa julukan yang lain lagi untuk Yudistira, adalah: Puntadewa, “derajat keluhurannya setara para dewa”. Yudistira, “pandai memerangi nafsu pribadi”, Gunatalikrama, “pandai bertutur bahasa”, Samiaji, “menghormati orang lain bagai diri sendiri”.

Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya itu. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk mendapatkan putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma (Yama) dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa melalui persetubuhan. Putera pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan demikian, Yudistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan.

Sifat-sifat Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya, sebagaimana telah disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam MahaBharata terutama dalam hal memainkan senjata tombak.

Versi Jawa

Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda. Menurut versi ini, Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di istana Hastinapura. Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong kelahiran Puntadewa dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa tersebut, Puntadewa lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan Jawa, nama Puntadewa lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira baru digunakan setelah ia dewasa dan menjadi raja. Versi ini melukiskan Puntadewa sebagai seorang manusia berdarah putih, yang merupakan kiasan bahwa ia adalah sosok berhati suci dan selalu menegakkan kebenaran. Ia pernah dikisahkan menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan hanya meraba kepala mereka.

Yudistira mempunyai beberapa pusaka, antara lain Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa kitab, sedangkan Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka utama kerajaan Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud kalung yang terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah pemberian Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman pemerintahan Pandu. Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia pun meraba kalung tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi raksasa besar berkulit putih bersih.

Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan tata negara kepada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut, Yudistira tampil sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung apabila tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu, Pandawa dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam pendidikan kedua ini, Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai, terutama dalam ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih terampil dalam menggunakan senjata tombak.

Bima orang kedua dari Pandawa dan anak ke 3 Kunti. Bima artinya adalah “mengerikan”. Sedangkan nama lain Bima yaitu Wrekodara, artinya ialah “perut serigala”, dan merujuk ke kegemarannya makan. Nama julukan yang lain adalah Bhimasena yang berarti panglima perang.

Kunti (istri Pandu) berseru kepada Bayu, (marut/Maruta) dewa angin. Dari hubungan Kunti dengan Bayu, lahirlah Bima. Atas anugerah dari Bayu, Bima akan menjadi orang yang paling kuat dan penuh dengan kasih sayang.

Pada masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kekuatan Bima tidak ada tandingannya di antara anak-anak sebayanya. Kekuatan tersebut sering dipakai untuk menjahili para sepupunya, yaitu Korawa. Salah satu Korawa yaitu Duryodana, menjadi sangat benci dengan sikap Bima yang selalu jahil. Kebencian tersebut tumbuh subur sehingga Duryodana berniat untuk membunuh Bima.

Pada usia remaja, Bima dan saudara-saudaranya dididik dan dilatih dalam bidang militer oleh Drona. Dalam mempelajari senjata, Bima lebih memusatkan perhatiannya untuk menguasai ilmu menggunakan gada, seperti Duryodana. Mereka berdua menjadi murid Baladewa, yaitu saudara Kresna yang sangat mahir dalam menggunakan senjata gada. Dibandingkan dengan Bima, Baladewa lebih menyayangi Duryodana, dan Duryodana juga setia kepada Baladewa.

Pada suatu hari ketika Korawa serta Pandawa pergi bertamasya didaerah sungai Gangga, Duryodana menyuguhkan makanan dan minuman kepada Bima, yang sebelumnya telah dicampur dengan racun. Karena Bima tidak senang mencurigai seseorang, ia memakan makanan yang diberikan oleh Duryodana. Tak lama kemudian, Bima pingsan. Lalu tubuhnya diikat kuat-kuat oleh Duryodana dengan menggunakan tanaman menjalar, setelah itu dihanyutkan ke sungai Gangga dengan rakit. Saat rakit yang membawa Bima sampai di tengah sungai, ular-ular yang hidup di sekitar sungai tersebut mematuk badan Bima. Bisa ular tersebut menjadi penangkal racun yang dimakan Bima. Keadaan ini dalam Ayurveda disebut ‘samah samam shamayati’ atau racun melawan racun atau yang menyebabkan sakit dan yang menyembuhkannya sama. Ketika sadar, Bima langsung melepaskan ikatan tanaman menjalar yang melilit tubuhnya, lalu ia membunuh ular-ular yang menggigit badannya. Beberapa ular menyelamatkan diri untuk menemui rajanya, yaitu Naga Basuki.

Saat Naga Basuki mendengar kabar bahwa putera Pandu yang bernama Bima telah membunuh anak buahnya, ia segera menyambut Bima dan memberinya minuman ilahi. Minuman tersebut diminum beberapa mangkuk oleh Bima, sehingga tubuhnya menjadi sangat kuat. Bima tinggal di istana Naga Basuki selama delapan hari, dan setelah itu ia pulang. Saat Bima pulang, Duryodana kesal karena orang yang dibencinya masih hidup. Ketika para Pandawa menyadari bahwa kebencian dalam hati Duryodana mulai bertunas, mereka mulai berhati-hati.

Versi Jawa

Bima adalah seorang tokoh yang populer dalam khazanah pewayangan Jawa. Suatu saat mantan presiden Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyatakan bahwa ia sangat senang dan mengidentifikasikan dirinya mirip dengan karakter Bima. Nama lain Bima adalah Bratasena, Balawa, Birawa, Dandungwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayusuta, Sena, Wijasena dan Jagal Abilowo

Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.

Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.

Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu: Dewi Nagagini, berputera (mempunyai putera bernama) Arya Anantareja, Dewi Arimbi, berputera Raden Gatotkaca dan Dewi Urangayu, berputera Arya Anantasena. Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputera Srenggini.

Arjuna adalah yang ketiga dari Pandawa dan merupakan Putra Bungsu Kunti (ke 4), Kunti menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka anak yang dinamakan Arjuna. Arjuna berarti “bersinar terang”, “putih” , “bersih”. Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti “jujur di dalam wajah dan pikiran”. Arjuna mendapat julukan “Kuruśreṣṭha” yang berarti “keturunan dinasti Kuru yang terbaik”. Ia merupakan manusia pilihan yang mendapat kesempatan untuk mendapat wejangan suci yang sangat mulia dari Kresna, yang terkenal sebagai Bhagawadgita (nyanyian Tuhan). Ketika ia ditanya tentang sepuluh namanya ia menjawab:

“Sepuluh namaku adalah: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi dan Dhananjaya. Aku dipanggil Dhananjaya ketika aku menaklukkan seluruh raja pada saat Yadnya Rajasuya dan mengumpulkan harta mereka. Aku selalu bertarung sampai akhir dan aku selalu menang, itulah sebabnya aku dipanggil Wijaya. Kuda yang diberikan Dewa Agni kepadaku berwarna putih, itulah sebabnya aku dipanggil Shwetawāhana. Ayahku Indra memberiku mahkota indah ketika aku bersamanya, itulah sebabnya aku dipanggil Kriti. Aku tidak pernah bertarung dengan curang dalam pertempuran, itulah sebabnya aku dipanggil Wibhatsu. Aku tidak pernah menakuti musuhku dengan keji, aku bisa menggunakan kedua tanganku ketika menembakkan anah panah, itulah sebabnya aku disebut Sawyashachī. Raut wajahku unik bagaikan pohon Arjun, dan namaku adalah “yang tak pernah lapuk”, itulah sebabnya aku dipanggil Arjuna. Aku lahir di lereng gunung Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari ketika bintang Uttarā Phālgunī berada di atas, itulah sebabnya aku disebut Phālguna. Aku disebut Jishnu karena aku menjadi hebat ketika marah. Ibuku bernama Prithā, sehingga aku disebut juga Pārtha. Aku bersumpah bahwa aku akan menghancurkan setiap orang yang melukai kakakku Yudistira dan menaburkan darahnya di bumi. Aku tak bisa ditaklukkan oleh siapa pun.”

Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan “Dananjaya”. Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan “Parantapa”, yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki “Kurunandana”, yang artinya putera kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain “Kuruprāwira”, yang berarti “kesatria Dinasti Kuru yang terbaik”, sedangkan arti harfiahnya adalah “Perwira Kuru”. Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat kusuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya.

Arjuna didik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar “Maharathi” atau “kesatria terkemuka”. Ketika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar.

Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara murid-muridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama “Brahmasirsa”. Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut MahaBharata, Brahmasirsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat jahat, agar dampaknya tidak berbahaya.

Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapaannya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti “anugerah Dewa”.

Versi Jawa

Arjuna banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain: Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Indrasuta, Danasmara (perayu ulung) dan Margana (suka menolong). “Begawan Mintaraga” adalah nama yang digunakan oleh Arjuna saat menjalani laku tapa di puncak Indrakila dalam rangka memperoleh senjata sakti dari dewata, yang akan digunakan dalam perang yang tak terhindarkan melawan musuh-musuhnya, yaitu keluarga Korawa.

Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin.

Jasanya bukan Cuma itu ia juga mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada) Keris Kiai Kalanadah diberikan pada Gatotkaca saat mempersunting Dewi Pergiwa (putera Arjuna), Panah Sangkali (dari Resi Drona), Panah Candranila, Panah Sirsha, Panah Kiai Sarotama, Panah Pasupati, Panah Naracabala, Panah Ardhadhedhali, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama. Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).

Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya.

Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, Arjuna sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Arjuna menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi. Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah: Dewi Subadra, berputera Raden Abimanyu, Dewi Larasati, berputera Raden Sumitra dan Bratalaras, Dewi Ulupi atau Palupi, berputera Bambang Irawan, Dewi Jimambang, berputera Kumaladewa dan Kumalasakti, Dewi Ratri, berputera Bambang Wijanarka, Dewi Dresanala, berputera Raden Wisanggeni, Dewi Wilutama, berputera Bambang Wilugangga, Dewi Manuhara, berputera Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati, Dewi Supraba, berputera Raden Prabakusuma, Dewi Antakawulan, berputera Bambang Antakadewa, Dewi Juwitaningrat, berputera Bambang Sumbada, Dewi Maheswara, Dewi Retno Kasimpar, Dewi Dyah Sarimaya, Dewi Srikandi

Nakula dan Sahadewa, merupakan yang ke empat dan kelima dari pandawa. Nakula adalah anak pertama dari Dewi Madri (Istri kedua Pandu). Ia adalah saudara kembar Sadewa. Dewi Kunti mengajarkan Dewi Madri mantra Adityahredaya untuk memanggil Dewa Aswin, Dewa tabib kembar dan lahirlah Nakula dan Sahadewa. Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. nakula merupakan nama lain dari Dewa Siwa, dalam bahasa Sansekerta merujuk kepada warna Ichneumon, sejenis tikus atau binatang pengerat dari Mesir. Nakula juga dapat berarti “cerpelai”, atau dapat juga berarti “tikus benggala”. Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat kuda dan sapi.

Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi kenakalan kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang.

Versi Jawa

Nakula dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat). Ia merupakan putera keempat Prabu Pandudewanata, raja negara Hastinapura dengan permaisuri Dewi Madri, puteri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa. Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama Puntadewa (Yudistira), Bima alias Werkudara dan Arjuna

Nakula adalah titisan Batara Aswin, Dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi “Banyu Panguripan” atau “Air kehidupan” pemberian Bhatara Indra.

Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu: Dewi Sayati puteri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putera masing-masing bernama Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati. Istri kedua Nakula adalah Dewi Srengganawati, puteri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra alias Ekapratala) dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung. Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik.

Setelah selesai perang Bharatayuddha, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa di gunung Himalaya bersama keempat saudaranya.

Sadewa merupakan anggota Pandawa yang paling muda, yang memiliki saudara kembar bernama Nakula. Meskipun kembar, Nakula dikisahkan memiliki wajah yang lebih tampan daripada Sadewa, sedangkan Sadewa lebih pandai daripada kakaknya itu. Terutama dalam hal perbintangan atau astronomi, kepandaian Sadewa jauh di atas murid-murid Resi Drona lainnya. Sadewa merupakan ahli perbintangan yang ulung dan mampu mengetahui kejadian yang akan datang. Namun ia pernah dikutuk apabila sampai membeberkan rahasia takdir, maka kepalanya akan terbelah menjadi dua. Selain itu ia juga pandai dalam hal ilmu peternakan sapi.

Meskipun Sadewa merupakan Pandawa yang paling muda, namun ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka. Yudistira bahkan pernah berkata bahwa Sadewa lebih bijak daripada Brihaspati, guru para dewa.

Setelah kemenangan Arjuna atas sayembara memanah di Kerajaan Pancala, maka semua Pandawa bersama-sama menikah dengan Dropadi, putri negeri tersebut. Dari perkawinan tersebut Sadewa memiliki putra bernama Srutakirti. Selain itu, Sadewa juga menikahi puteri Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Kemudian dari istrinya yang bernama Wijaya, lahir seorang putra bernama Suhotra.

Tokoh Utama Sudamala

Sadewa merupakan tokoh utama dalam Kakawin Sudamala, yaitu karya sastra berbahasa Jawa Kuna peninggalan Kerajaan Majapahit. Naskah ini bercerita tentang kutukan yang menimpa istri Batara Guru bernama Umayi, akibat perbuatannya berselingkuh dengan Batara Brahma.

Umayi dikisahkan berubah menjadi Rakshasi bernama Ra Nini, dan hanya bisa kembali ke wujud asal apabila diruwat oleh bungsu Pandawa. Maka, Sadewa pun diculik dan dipaksa memimpin prosesi ruwatan. Setelah dirasuki Batara Guru, barulah Sadewa mampu menjalankan permintaan Ra Nini.

Sadewa pun mendapat julukan baru, yaitu Sudamala yang bermakna “menghilangkan penyakit”. Atas petunjuk Ra Nini yang telah kembali menjadi Umayi, Sadewa pun pergi ke desa Prangalas menikahi putri seorang pertapa bernama Tambrapetra. Gadis itu bernama Predapa.

Versi Jawa

Sadewa dikisahkan lahir di dalam istana Kerajaan Hastina, bukan di dalam hutan. Kelahirannya bersamaan dengan peristiwa perang antara Pandu melawan Tremboko, raja raksasa dari Kerajaan Pringgadani. Dalam perang tersebut keduanya tewas. Madrim ibu Sadewa melakukan bela pati dengan cara terjun ke dalam api pancaka.

Versi lain menyebutkan, Sadewa sejak lahir sudah kehilangan ibunya, karena Madrim meninggal dunia setelah melahirkan dirinya dan Nakula.

Sewaktu kecil, Sadewa memiliki nama panggilan Tangsen. Setelah para Pandawa membangun Kerajaan Amarta, Sadewa mendapatkan Kasatrian Baweratalun sebagai tempat tinggalnya.

Istri Sadewa versi pewayangan hanya seorang, yaitu Perdapa putri Resi Tambrapetra. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak bernama Niken Sayekti dan Bambang Sabekti. Masing-masing menikah dengan anak-anak Nakula yang bernama Pramusinta dan Pramuwati.

Versi lain menyebutkan Sadewa memiliki anak perempuan bernama Rayungwulan, yang baru muncul jauh setelah perang Baratayuda berakhir, atau tepatnya pada saat Parikesit cucu Arjuna dilantik menjadi raja Kerajaan Hastina. Rayungwulan ini menikah dengan putra Nakula yang bernama Widapaksa.

Tokoh Lain Bernama Sama

Dalam mitologi Hindu dan sejarah India, terdapat beberapa tokoh lain yang bernama Sahadewa, yaitu: Nama putra Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Dengan demikian ia adalah saudara ipar Sahadewa putra Pandu. Salah satu raja dari kalangan Dinasti Surya, putera Dharmanandana juga bernama Sahadewa. Nama putra Sudasa atau ayah Somaka, raja Kerajaan Pancala. Nama seorang raksasa putera Dumraksa dan juga ayah dari Kresawa. Nama seorang Paman Gautama Buddha.

Dalam legenda Jawa juga terdapat seorang bernama Sadewa dari zaman yang lebih tua. Ia merupakan cucu dari Watugunung raja Kerajaan Gilingwesi. Sadewa yang ini menderita kelainan seksual, yaitu mencintai sesama laki-laki atau homoseksual. Ia akhirnya berhasil menjadi raja di Kerajaan Medangkamulan bergelar Cingkaradewa.

Cingkaradewa merupakan raja serakah yang ingin menguasai seluruh Pulau Jawa. Antara lain ia berhasil merebut Kerajaan Gilingwesi peninggalan kakeknya, yang saat itu dikuasai oleh Parikenan. Parikenan yang merupakan leluhur para Pandawa versi Jawa dikisahkan tewas di tangan Cingkaradewa. Cingkaradewa sendiri akhirnya berhasil dikalahkan seorang pertapa dari India bernama Resi Wisaka, yang merupakan samaran dari Aji Saka, seorang manusia setengah dewa yang melegenda.

Para Korawa (putera Dretarastra) yang utama berjumlah seratus. Kemudian Dewi Gandari melahirkan seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursala (atau Duççala atau Dussala). Nama-nama Kurawa yang lain di sini

Duryodana atau Suyodana merupakan yang sulung dari 100 Kurawa. Ia adalah inkarnasi dari Kali sedangkan Sakuni merupakan inkarnasi dari Dwapara. Ia lahir dari pasangan Dretarastra dan Gandari. Duryodana merupakan saudara yang tertua di antara seratus Korawa. Secara harfiah, nama Duryodana memiliki arti “sulit ditaklukkan” atau dapat pula berarti “tidak terkalahkan”.

Tubuh Duryodana dikatakan terbuat dari petir, dan ia sangat kuat. Ia dihormati oleh adik-adiknya, khususnya Dursasana. Dengan belajar ilmu bela diri dari gurunya, yaitu Krepa, Drona dan Balarama atau Baladewa, ia menjadi sangat kuat dengan senjata gada, dan setara dengan Bima, yaitu Pandawa yang kuat dalam hal tersebut.

Saat para Korawa dan Pandawa unjuk kebolehan saat menginjak dewasa, munculah sesosok ksatria gagah perkasa yang mengaku bernama Karna. Ia menantang Arjuna yang disebut sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Namun Krepa mengatakan bahwa Karna harus mengetahui kastanya, agar tidak sembarangan menantang seseorang yang tidak setara.

Duryodana membela Karna, kemudian mengangkatnya menjadi raja di Kerajaan Anga. Semenjak saat itu, Duryodana bersahabat dengan Karna. Baik Karna maupun Duryodana tidak mengetahui, bahwa Karna sebenarnya merupakan putera Kunti. Karna juga merupakan harapan Duryodana agar mampu meraih kemenangan saat Bharatayuddha berlangsung, karena Duryodana percaya bahwa Karna adalah lawan yang sebanding dengan Arjuna.

Duryodana menikah dengan puteri Prabu Salya dan mempunyai putera bernama Laksmana (Laksmanakumara). Duryodana digambarkan sangat licik dan kejam, meski berwatak jujur, ia mudah terpengaruh hasutan karena tidak berpikir panjang dan terbiasa dimanja oleh kedua orangtuanya. Karena hasutan Sangkuni, yaitu pamannya yang berotak dan berlidah tajam, ia dan saudara-saudaranya senang memulai pertengkaran dengan pihak Pandawa.

Dalam perang Bharatayuddha, bendera keagungannya berlambang ular kobra. Ia dikalahkan oleh Bima pada pertempuran di hari kedelapan belas karena pahanya dipukul dengan gada.

Pandangan lain

Dalam pandangan para sarjana Hindu masa kini, Duryodana merupakan raja yang kuat dan cakap, serta memerintah dengan adil, namun bersikap licik dan jahat saat berusaha melawan saudaranya (Pandawa). Seperti Rawana, Duryodana sangat kuat dan berjaya, dan ahli dalam ilmu agama, namun gagal untuk mempraktekkannya dalam kehidupan. Namun kebanyakan umat Hindu memandangnya sebagai orang jahat yang suka mencari masalah.

Duryodana juga merupakan salah satu tokoh yang sangat menghormati orangtuanya. Meskipun dianggap bersikap jahat, ia tetap menyayangi ibunya, yaitu Gandari. Setiap pagi sebelum berperang ia selalu mohon do’a restu, dan setiap kali ia berbuat demikian, ibunya selalu berkata bahwa kemenangan hanya berada di pihak yang benar. Meskipun jawaban tersebut mengecilkan hati Duryodana, ia tetap setia mengunjungi ibunya setiap pagi.

Di wilayah Kumaon di Uttranchal, beberapa kuil yang indah ditujukan untuk Duryodana dan ia dipuja sebagai dewa kecil. Suku Kumaon di pegunungan memihak Duryodana dalam Bharatayuddha. Ia dipuja sebagai pemimpin yang cakap dan dermawan.

Dursasana atau Duhsasana merupakan adik dari Duryodana. Dursasana terdiri dari dua kata, yaitu dur atau duh, dan śāsana. Secara harfiah, kata Dusśāsana memiliki arti “sulit untuk dikuasai” atau “sulit untuk diatasi”.

Yuyutsu adalah saudara para Korawa, dari ibu yang lain, seorang dayang-dayang. Berbeda dengan para Korawa, ia memihak Pandawa saat perang di Kurukshetra. Hal itu membuatnya menjadi penerus garis keturunan Drestarastra, sementara saudaranya yang lain (Korawa) gugur semua di medan Kuru atau Kurukshetra. Setelah Yudistira mengundurkan diri dari dunia, Yuyutsu diangkat menjadi raja di Indraprasta.

Perseteruan Pandawa dan Kourawa

Suatu hari Duryodana berpikir ia bersama adiknya mustahil untuk dapat meneruskan tahta Dinasti Kuru apabila sepupunya masih ada. Mereka semua (Pandawa lima dan sepupu-sepupunya atau yang dikenal juga sebagai Korawa) tinggal bersama dalam suatu kerajaan yang beribukota di Hastinapura. Akhirnya berbagai niat jahat muncul dalam benaknya untuk menyingkirkan Pandawa lima beserta ibunya.

Drestarastra yang mencintai keponakannya secara berlebihan. Ketika Ia mengangkat Yudistira sebagai putra mahkota tetapi ia langsung menyesali perbuatannya yang terlalu terburu-buru sehingga ia tidak memikirkan perasaan anaknya. Hal ini menyebabkan Duryodana iri hati dengan Yudistira. Irihati Duryodaya berkembang menjadi rencana pembunuhan. Sangkuni-pun memfasilitasinya. Duryodana mengundang Pandawa beserta ibunya berlibur ke tempat di dekat Hutan Waranawata. Di sana terdapat bangunan yang megah yang dinamakan Jatugraha yang dibuat oleh pesuruh Duryodana, yaitu Purocana, Bangunan itu dibuat dengan bahan seperti lilin sehingga cepat terbakar. Kemudian Sakuni akan membakar Gedung Jatugreha ketika Pandawa dan Ibunya terlelap tidur. Rencana itu sudah dipersiapkan sangat matang oleh Duryodana dan Sakuni namun diketahui dan dibocorkan oleh Widura yang juga merupakan paman dari Pandawa lima. Dalam pewayangan, peristiwa pembakaran ini terkenal dengan nama Balai Sigala-Gala.

Sebelum sampai di tempat peristirahatan tersebut Yudistira juga telah diingatkan oleh seorang petapa yang datang ke dirinya bahwa akan ada bencana yang menimpannya oleh karena itu Yudistira pun sudah berwaspada terhadap segala kemungkinan. Ketika Pandawa dan ibu sampai disana Yudistira dan Bima sadar bahwa rumah penginapan yang disediakan untuk mereka, telah dirancang untuk membunuh mereka serta ibu mereka. Bima hendak segera pergi, namun atas saran Yudistira mereka tinggal di sana selama beberapa bulan.

Pada suatu malam, Kunti mengadakan pesta dan seorang wanita yang dekat dengan Purocana turut hadir di pesta itu bersama dengan kelima orang puteranya. Ketika Purocana beserta wanita dan kelima anaknya tersebut tertidur lelap karena makanan yang disuguhkan oleh Kunti, Bima segera menyuruh agar ibu dan saudara-saudaranya melarikan diri dengan melewati terowongan yang telah dibuat sebelumnya. Kemudian, Bima mulai membakar rumah lilin yang ditinggalkan mereka. Oleh karena ibu dan saudara-saudaranya merasa mengantuk dan lelah, Bima membawa mereka sekaligus dengan kekuatannya yang dahsyat. Kunti digendong di punggungnya, Nakula dan Sadewa berada di pahanya, sedangkan Yudistira dan Arjuna berada di lengannya.

Ketika keluar dari ujung terowongan, Bima dan saudaranya tiba di sungai Gangga. Di sana mereka diantar menyeberangi sungai oleh pesuruh Widura, yaitu menteri Hastinapura yang mengkhwatirkan keadaan mereka. Setelah menyeberangi sungai Gangga, mereka melewati Sidawata sampai Hidimbawana. Dalam perjalanan tersebut, Bima memikul semua saudaranya dan ibunya melewati jarak kurang lebih tujuh puluh dua mil.

Di Hidimbawana, Bima bertemu dengan Hidimbi/arimbi yang jatuh cinta dengannya. Kakak Hidimbi yang bernama Hidimba, menjadi marah karena Hidimbi telah jatuh cinta dengan seseorang yang seharusnya menjadi santapan mereka. Kemudian Bima dan Hidimba berkelahi. Dalam perkelahian tersebut, Bima memenangkan pertarungan dan berhasil membunuh Hidimba dengan tangannya sendiri. Lalu, Bima menikah dengan Hidimbi. Dari perkawinan mereka, lahirlah seorang putera yang diberi nama Gatotkaca. Bima dan keluarganya tinggal selama beberapa bulan bersama dengan Hidimbi dan Gatotkaca, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.

Setelah melewati Hidimbawana, Bima dan saudara-saudaranya beserta ibunya tiba disebuah kota yang bernama Ekacakra. Di sana mereka menumpang di rumah keluarga brahmana. Pada suatu hari ketika Bima dan ibunya sedang sendiri, sementara keempat Pandawa lainnya pergi mengemis, brahmana pemilik rumah memberitahu mereka bahwa seorang raksasa yang bernama Bakasura meneror kota Ekacakra. Atas permohonan penduduk desa, raksasa tersebut berhenti mengganggu kota, namun sebaliknya seluruh penduduk kota diharuskan untuk mempersembahkan makanan yang enak serta seorang manusia setiap minggunya. Kini, keluarga brahmana yang menyediakan tempat tinggal bagi mereka yang mendapat giliran untuk mempersembahkan salah seorang keluarganya. Merasa berhutang budi dengan kebaikan hati keluarga brahmana tersebut, Kunti berkata bahwa ia akan menyerahkan Bima yang nantinya akan membunuh raksasa Baka. Mulanya Yudistira sangsi, namun akhirnya ia setuju.

Pada hari yang telah ditentukan, Bima membawa segerobak makanan ke gua Bakasura. Di sana ia menghabiskan makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada sang raksasa. Setelah itu, Bima memanggil-manggil raksasa tersebut untuk berduel dengannya. Bakasura yang merasa dihina, marah lalu menerjang Bima. Seketika terjadilah pertarungan sengit. Setelah pertempuran berlangsung lama, Bima meremukkan tubuh Bakasura seperti memotong sebatang tebu. Lalu ia menyeret tubuh Bakasura sampai di pintu gerbang Ekacakra. Atas pertolongan dari Bima, kota Ekacakra tenang kembali.

Ia tinggal di sana selama beberapa lama, sampai akhirnya Pandawa memutuskan untuk pergi ke Kampilya, ibukota Kerajaan Panchala, karena mendengar cerita mengenai Dropadi dari seorang brahmana.

Dropadi merupakan anak yang lahir dari hasil Putrakama Yadnya, yaitu ritual untuk memperoleh keturunan. Dalam kitab MahaBharata diceritakan bahwa setelah Drupada dipermalukan oleh Drona, ia pergi ke dalam hutan untuk merencanakan pembalasan dendam. Kemudian ia memutuskan untuk memperoleh seorang putera yang akan membunuh Drona. Atas bantuan dari Resi Jaya dan Upajaya, Drupada melangsungkan Putrakama Yadnya dengan sarana api suci. Dropadi lahir dari api suci tersebut. Pada mulanya, Dropadi diberi nama “Kresna”, merujuk kepada warna kulitnya yang kehitam-hitaman. Dalam bahasa Sanskerta, kata “Krishna” secara harfiah berarti gelap atau hitam. Lambat laun ia lebih dikenal sebagai “Dropadi”, yang secara harfiah berarti “puteri Drupada”. Nama “Pañcali” juga diberikan kepadanya, yang secara harfiah berarti “puteri kerajaan Panchala”. Karena ia merupakan saudari dari Drestadyumna, maka ia juga disebut “Yadnyaseni”

Tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Bentuk pertandingannya adalah sebuah boneka ikan dari kayu yang dipasang pada sebuah roda yang berputar di atas arena. Tepat di bawah sasaran tersebut terdapat kolam berisi minyak. Para peserta sayembara harus dapat memanah mata boneka ikan tersebut melalui bayangan di dalam kolam, bukan melihat ke atas secara langsung.

Banyak ksatria di penjuru Bharatawarsha turut menghadiri seperti misalnya Karna dan Salya. Para Pandawa berkumpul bersama para kesatria lain di arena, namun mereka tidak berpakaian selayaknya seorang kesatria, melainkan menyamar sebagai brahmana.

Saat sayembara, tidak ada seorang pun yang mampu mengangkat busur berat pusaka negara Panchala, apalagi memanah sasaran sulit tersebut. Karna kemudian maju mewakili Duryodana setelah sahabatnya itu mengalami kegagalan. Dengan penuh penghormatan, ia berhasil mengangkat busur pusaka tersebut dan siap memanah sasaran sayembara. Tiba-tiba Dropadi menyatakan keberatan apabila Karna sampai berhasil memenangkan sayembara, karena dirinya tidak mau menikah dengan anak seorang kusir. Karna sakit hati mendengar penghinaan itu. Ia menyebut Dropadi sebagai wanita sombong dan pasti menjadi perawan tua karena tidak ada lagi peserta yang mampu memenangkan sayembara sulit tersebut selain dirinya.

Ucapan Karna membuat Drupada (ayah Dropadi) merasa cemas. Ia pun membuka pendaftaran baru untuk siapa saja yang ingin menikahi Dropadi tanpa harus berasal dari golongan ksatriya. Arjuna yang saat itu sedang menyamar sebagai brahmana maju mendaftarkan diri.

Para Pandawa yang diwakili oleh Arjuna turut serta. Arjuna tampil ke muka dan mencoba memanah sasaran dengan tepat. Panah yang dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai dengan persyaratan, maka Dewi Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun para peserta lainnya menggerutu karena seorang brahmana mengikuti sayembara sedangkan para peserta ingin agar sayembara tersebut hanya diikuti oleh golongan kesatria. Karena adanya keluhan tersebut maka keributan tak dapat dihindari lagi. Arjuna dan Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya sedangkan Yudistira, Nakula, dan Sadewa melarikan Dropadi ke rumah mereka. Sesampainya di rumah Dewi Kunti, ibu mereka. Kresna yang turut hadir dalam sayembara tersebut tahu siapa sebenarnya para brahmana yang telah mendapatkan Dropadi dan ia berkata kepada para peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut mendapatkan Dropadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara dengan baik.

Arjuna dan Bima pun berkelahi dengan para ksatria di sana, sementara Yudistira, Nakula dan Sadewa melarikan Dropadi ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, Walaupun Arjuna pun mengikuti sayembara itu dan berhasil memenangkannya, tetapi Bima yang berkata kepada ibunya, “lihat apa yang kami bawa ibu!”. Kunti, ibu para Pandawa, tidak melihat apa yang dibawa oleh anak-anaknya karena sibuk dan berkata, “Bagi dengan rata apa yang kalian peroleh”. Ketika ia menoleh, alangkah terkejutnya ia karena anak-anaknya tidak saja membawa hasil sedekah, namun juga seorang wanita. Kunti yang tidak mau berdusta, membuat anak-anaknya untuk berbagai istri. Karena perkataan ibunya maka Pancali (Dropadi) pun bersuamikan lima orang. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman dari perbuatan yang menggangu adalah pembuangan selama 12 tahun. Dari kelima Pandawa Droupadi memiliki lima putera, yakni:

Pratiwinda (dari hubungannya dengan Yudistira)
Sutasoma (dari hubungannya dengan Bima)
Srutakirti (dari hubungannya dengan Arjuna)
Satanika (dari hubungannya dengan Nakula)
Srutakama (dari hubungannya dengan Sadewa)

Kelima putera Pandawa tersebut disebut Pancawala atau Pancakumara.

Versi Jawa

Dalam budaya pewayangan Jawa, Dewi Dropadi dinikahi oleh Yudistira saja dan bukan milik kelima Pandawa. Cerita tersebut dapat disimak dalam lakon Sayembara Gandamana. Dalam lakon tersebut dikisahkan, Yudistira mengikuti sayembara mengalahkan Gandamana yang diselenggarakan Raja Dropada. Siapa yang berhasil memenangkan sayembara, berhak memiliki Dropadi. Yudistira ikut serta namun ia tidak terjun ke arena sendirian melainkan diwakili oleh Bima. Bima berhasil mengalahkan Gandamana dan akhirnya Dropadi berhasil didapatkan. Karena Bima mewakili Yudistira, maka Yudistiralah yang menjadi istri Dropadi. Dalam tradisi pewayangan Jawa, putera Dropadi dengan Yudistira bernama Raden Pancawala. Pancawala sendiri merupakan sebutan untuk lima putera Pandawa.

Terjadinya perbedaan cerita antara kitab MahaBharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Setelah kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu runtuh, munculah Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Pada masa itu, segala sesuatu harus disesuaikan dengan hukum agama Islam. Pertunjukan wayang yang pada saat itu sangat digemari oleh masyarakat, tidak diberantas ataupun dilarang melainkan disesuaikan dengan ajaran Islam. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab MahaBharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam.

Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa kembali ke Hastinapura dan memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari pihak Duryodana. Persaingan antara Pandawa dan Korawa atas tahta Hastinapura kembali terjadi. Setelah melalui perundingan, dan atas saran Bisma, Kerajaan Kuru dibagi dua.

Korawa mendapatkan istana Hastinapura, sedangkan Pandawa mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk membangun istana baru. Meskipun daerah tersebut sangat gersang dan angker, namun para Pandawa mau menerima wilayah tersebut. Selain wilayahnya yang seluas hampir setengah wilayah kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum Hastinapura. Atas bantuan dari sepupu Yudistira, yaitu Kresna dan Baladewa, mereka mengubah daerah gersang tersebut menjadi makmur dan megah, dan dikenal sebagai Indraprastha.

Indraprastha adalah sebuah kota besar di India utara pada zaman dahulu kala. Kota ini terletak di tepi sungai Yamuna, lokasinya dekat dengan ibukota India zaman sekarang, Delhi. Sebelum dikenal sebagai Indraprastha, kota ini dikenal sebagai Kandawaprastha yang merupakan ibukota kerajaan besar di India pada zaman dahulu kala, dan diperintah oleh para leluhur Pandawa dan Korawa, seperti misalnya Maharaja Pururawa, Nahusa, dan Yayati. Namun kota tersebut menjadi gersang akibat kutukan para resi, untuk menghukum putera Budha.

Saat diberikan kepada Pandawa, Kandawaprastha merupakan kota gersang. Melihat keadaan itu, Sri Kresna memanggil Indra, pemimpin para Dewa, untuk membantu Yudistira memperbaiki keadaan negeri tersebut. Dewa Indra memunculkan Wiswakarman, arsitek para Dewa yang merancang kota megah. Dengan suatu upacara, Wiswakarman berhasil mengusir segala penyakit di negeri tersebut dan menyuburkan kembali daerah yang gersang. Sesuai janji Kresna, Kandawaprastha akan diberi nama Indraprastha jika Indra mampu mengubah keadaan Kandawaprastha. Perlahan-lahan kota tersebut menjadi kota yang makmur dan berduyun-duyun orang-orang dari negeri tetangga bermigrasi ke negeri baru tersebut. Kota Indraprastha pun menjadi kota besar. Setelah Yudistira naik tahta, kota Indraprastha tetap mendapat pengawasan dari Hastinapura.

Catatan sejarah

Indraprastha berumur 50.000 tahun. Legenda mengatakan bahwa Indraprastha terletak di wilayah Purani Choot sekarang ini. Sebuah desa bernama Indraprat ada di Delhi sampai permulaan abad ke-20, kemudian digusur dan kota New Delhi dibangun di atasnya. Penggalian di wilayah perbukitan Indraprastha, ibukota para Pandawa, seperti yang ditunjukkan Purana Qila menemukan bukti bahwa daerah itu pernah didiami selama hampir 2.500 tahun. Indraprastha sempat menjadi kota besar selama berabad-abad, dari zaman Kerajaan Maurya sampai Kerajaan Gupta di India, namun kurang terkenal karena berdirinya kota-kota seperti Pataliputra, di sebelah tenggara daerah aliran sungai, yang menjadi sumber dua kerajaan terkuat di India. Indraprastha diserbu oleh bangsa Hun setelah jatuhnya Kerajaan Gupta. Raja Hindu bernama Dhilon konon membangun kota Delhi Kuno, dekat dengan Indraprastha.

Versi Jawa

Dalam versi pewayangan Jawa, nama Indraprastha lebih terkenal dengan sebutan kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan yang dibuka para Pandawa bukan bernama Kandawaprastha, melainkan bernama Wanamarta.

Versi Jawa mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak kembali ke Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat mereka yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang bersimpati pada pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka kawasan hutan tak bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan baru. Hutan Wanamarta dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin oleh lima bersaudara, bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad, dan Sapulebu. Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami banyak rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para makhluk halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa.

Sejarah ini dikenal dengan kisah atau lakon Babad Alas Wanamarta. Korawa yang telah merasa berhasil membunuh Pandawa dalam cerita Bale Sigalagala terkejut ketika mengetahui ternyata Pandawa masih hidup. Prabu Duryudana yang tidak ingin kerajaan Astina atau Hastina diminta oleh Pandawa selaku penguasa yang sah mencari berbagai cara agar bisa membunuh kembali Pandawa. Untuk memperhalus niatan tersebut, Pandawa diberikan daerah yang masih berupa hutan yang bernama hutan Wanamarta (Wana berarti Hutan). Hutan tersebut terkenal keangkerannya, begitu angkernya sehingga digunakan istilah “Manusia Datang, Manusia Mati, Hewan Datang, Hewan Mati” (Jalma Mara, Jalma Mati, Sato Mara, Sato Mati) untuk menggambarkan keangkerannya.

Pandawa kesulitan dalam membuka hutan Wanamarta karena dikuasai oleh lima makhluk halus yang wajahnya mirip dengan para Pandawa. Kelima makhluk halus tersebut adalah Yudistira yang mirip dengan Prabu Puntadewa, Dandungwacana yang mirip dengan Bima, Dananjaya yang mirip dengan Arjuna, Nakula dan Sadewa yang mirip dengan si kembar Pinten dan Tansen. Kelima penguasa Wanamarta ini tidak sudi diganggu ketenangannya. Arjuna yang mempunyai minyak Jayengkaton mengoleskannya ke setiap mata Pandawa agar dapat melihat kelima makluk halus penguasa Wanamarta.

Akhirnya Pandawa dapat mengalahkan kelima penguasa hutan Wanamarta tersebut dan kelimanya menitis masuk kedalam tubuh para Pandawa sehingga Pandawa memiliki nama yang sama dengan para penguasa hutan Wanamarta tersebut serta seketika itu juga hutan Wanamarta berubah menjadi kerajaan yang megah luar biasa bernama Indraprastha atau Amarta.

Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa berusaha keras untuk memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita bahwa barang siapa yang bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang bernama Dewi Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi makmur dan sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk memiliki seorang istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya menikah lagi demi kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju Kerajaan Slagahima. Di istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak raja dan pangeran yang datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri hanya sudi menikah dengan seseorang yang berhati suci, dan ia menemukan kriteria itu dalam diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten tiba-tiba musnah dan menyatu ke dalam diri Puntadewa. Sebenarnya Kuntulwinanten bukan manusia asli, melainkan wujud penjelmaan anugerah dewata untuk seorang raja adil yang hanya memikirkan kesejahteraan negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima yang asli bernama Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa dan diangkat sebagai patih di kerajaan Amarta.

Sebagai bentuk syukur atas berdirinya kerajaan Indraprastha atau Amarta ini atas petunjuk Sri Batara Kresna maka dilakukan upacara yang disebut dengan Sesaji Raja Surya atau Sesaji Rajasuya.

Makna Filosofis Babad Alas Wanamarta

Lawan adalah diri kita sendiri (wujud yang sama dengan Pandawa)
Untuk mengetahuinya digunakan cara atau sudut pandang yang lain (penggunaan minyak Jayengkaton)
Jika mampu mengalahkan diri sendiri maka akan terjadi hal yang luar biasa (berubahnya hutan Wanamarta menjadi kerajaan yang megah)

Rajasuya

Rajasuya adalah sebuah upacara yang diselenggarakan oleh Para Raja pada zaman India Kuno. Upacara tersebut sangat terkenal, selayaknya upacara Aswamedha. Rajasuya maupun Aswamedha sama-sama merupakan upacara yang hanya bisa dilakukan apabila seorang Raja merasa cukup kuat untuk menjadi penguasa.

Seperti Aswamedha, selama persiapan upacara Rajasuya, para jendral ( patih, saudara, atau ksatria yang masih sekerabat) melakukan kampanye dengan menaklukkan daerah-daerah (kerajaan) di sekitar mereka, sekaligus mengambil upeti dari kerajaan yang berhasil ditaklukkannya. Raja yang kalah harus bersedia untuk memberikan upeti dan mau menghadiri penyelenggaraan upacara.

Terdapat perbedaan antara upacara Aswamedha dengan Rajasurya. Pada saat upacara Aswamedha, kampanye militer dilakukan dengan melepaskan seekor kuda lalu para prajurit mengikuti kuda tersebut dan daerah yang dilalui kuda tersebut ditaklukkan, sedangkan dalam upacara Rajasuya, kuda tidak diperlukan. Para prajurit menaklukkan kerajaan sekitar sesuai dengan apa yang sudah mereka rencanakan.

Upacara Rajasuya yang terkenal diselenggarakan Rajasuya yang diselenggarakan oleh Yudistira, putera tertua Pandu di antara para Pandawa. Hal tersebut dijelaskan dengan detail dalam kitab Mahābhārata.

Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para raksasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 1 tahun.

Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan Ulupi, puteri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecantikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang putera yang diberi nama Irawan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja negeri tersebut bernama Citrasena. Beliau memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Citrānggadā. Arjuna jatuh cinta kepada puteri tersebut dan hendak menikahinya, namun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila puterinya tersebut melahirkan seorang putera, maka anak puterinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh karena Citrasena tidak memiliki seorang putera. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citrānggadā memiliki seorang putera yang diberi nama Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citrānggadā setelah beberapa bulan tinggal di Manipura. Ia tidak mengajak istrinya pergi ke Hastinapura.

Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Arjuna mampir ke Dwaraka dan disana ia mendapatkan Subadra sebagai istrinya yang ke-empat.

Pada suatu ketika, Arjuna dan Kresna berkemah di tepi sungai Yamuna. Di tepi hutan tersebut terdapat hutan lebat yang bernama Kandawa. Di sana mereka bertemu dengan Agni, Dewa Api. Agni berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya telah musnah dilalap api, namun Dewa Indra selalu menurunkan hujannya untuk melindungi temannya yang bernama Taksaka, yang hidup di hutan tersebut. Maka, Agni memohon agar Kresna dan Arjuna bersedia membantunya menghancurkan hutan Kandawa. Kresna dan Arjuna bersedia membantu Agni, namun terlebih dahulu mereka meminta Agni agar menyediakan senjata kuat bagi mereka berdua untuk menghalau gangguan yang akan muncul. Kemudian Agni memanggil Baruna, Dewa Lautan. Baruna memberikan busur suci bernama Gandiwa serta tabung berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas kepada Arjuna. Untuk Kresna, Baruna memberikan Cakra Sudarsana. Dengan senjata tersebut, mereka berdua menjaga agar Agni mampu melalap hutan Kandawa sampai habis.

Pengaruh dalam budaya

Kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta ke Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi, banyak digubah menjadi cerita pewayangan. Dalam kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta mungkin terdapat perbedaan dengan lakon pewayangannya, yang kadang-kadang besar sekali, sehingga memberi kesan bahwa segala sesuatunya terjadi di Jawa. Hal ini disebabkan oleh kecerdasan para pujangga masa lampau yang mampu memindah alam pikiran para pembaca atau pendengarnya dari suasana India menjadi Jawa Asli. Jika Hastinapura sebenarnya terdapat di India, maka nama-nama seperti Jonggringsalaka, Pringgandani, Indrakila, Gua Kiskenda, sampai Gunung Mahameru dibawa ke tanah Jawa.

Begitu pula dengan tokoh Pancawala (Pancakumara). Jika dalam versi aslinya mereka terdiri dari lima orang, maka dalam pewayangan mereka dikatakan hanya satu orang saja. Menurut Mulyono dalam artikelnya berjudul “Dewi Dropadi:Antara kitab MahaBharata dan Pewayangan Jawa”, ia menyatakan bahwa terjadinya perbedaan cerita tentang Pancawala antara kitab MahaBharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Hal serupa juga terjadi pada kisah Dewi Dropadi dalam kitab Adiparwa. Jika dalam Adiparwa ia bersuami lima orang, maka dalam pewayangan Jawa (yang sudah terkena pengaruh Islam) Dropadi hanya bersuami satu orang saja. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab MahaBharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam. Pancawala yang sebenarnya merupakan lima putera Pandawa pun diubah menjadi seorang tokoh yang merupakan putera Yudistira saja.

________________________________________

Sabhaparwa

Sabhaparwa adalah buku kedua MahaBharata. Buku ini menceritakan alasan mengapa sang Pandawa Lima ketika diasingkan dan harus masuk ke hutan serta tinggal di sana selama 12 tahun dan menyamar selama 1 tahun. Di dalam buku ini diceritakan bagaimana mereka berjudi dan kalah dari Duryodana.

Kitab MahaBharata bagian kedua atau Sabhaparwa mengisahkan niat Yudistira untuk menyelenggarakan upacara Rajasuya demi menyebarkan dharma dan menyingkirkan raja-raja angkara murka. Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa memimpin tentara masing-masing ke empat penjuru Bharatawarsha (India Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara agung tersebut.

Pada saat yang sama, seorang raja angkara murka juga mengadakan upacara mengorbankan seratus orang raja. Raja tersebut bernama Jarasanda dari kerajaan Magadha. Yudistira mengirim Bima dan Arjuna dengan didampingi Kresna sebagai penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya, melalui sebuah pertandingan seru, Bima berhasil membunuh Jarasanda.

Setelah semua persyaratan terpenuhi, Yudistira melaksanakan upacara Rajasuya di Indraprastha, seluruh kesatria di penjuru Bharatawarsha diundang, yang dihadiri sekian banyak kaum raja dan pendeta. Dalam kesempatan itu, Yudistira ditetapkan sebagai Maharajadhiraja. Hadir pula seorang sekutu Jarasanda bernama Sisupala dan juga Kurawa.

Duryodana dan Dursasana terkagum-kagum dengan suasana balairung Istana Indraprastha. Mereka tidak tahu bahwa di tengah-tengah istana ada kolam. Air kolam begitu jernih sehingga dasarnya kelihatan sehingga tidak tampak seperti kolam. Duryodana dan Dursasana tidak mengetahuinya lalu mereka tercebur. Melihat hal itu, Dropadi tertawa terbahak-bahak. Duryodana dan Dursasana sangat malu. Mereka tidak dapat melupakan penghinaan tersebut, apalagi yang menertawai mereka adalah Dropadi yang sangat mereka kagumi kecantikannya.

Ketika tiba waktunya untuk memberikan jamuan kepada para undangan, sudah menjadi tradisi bahwa tamu yang paling dihormati yang pertama kali mendapat jamuan. Atas usul Bisma, Yudistira memberikan jamuan pertama kepada Sri Kresna. Melihat hal itu, Sisupala, saudara sepupu Sri Kresna, menjadi keberatan dan menghina Sri Kresna di depan umum. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi hingga melewati penghinaan ke-100 maka Kemarahan Sri Kresna memuncak. Ia mengeluarkan Cakra Sudarsana danmemenggal kepala Sisupala di depan umum.

Pada waktu menarik Cakra, tangan Sri Kresna mengeluarkan darah. Melihat hal tersebut, Dewi Dropadi segera menyobek kain sari-nya untuk membalut luka Sri Kresna. Pertolongan itu tidak dapat dilupakan Sri Kresna.

Pamannya (Dretarastra) yang mengetahui bahwa Pandawa lima ternyata belum mati pun mengundang mereka untuk kembali ke Hastinapura dan memberikan hadiah berupa tanah dari sebagian kerajaannya, yang akhirnya Pandawa lima membangun kota dari sebagian tanah yang diberikan pamannya itu hingga menjadi megah dan makmur yang diberi nama Indraprastha.

Ketika menjadi tamu dalam acara Rajasuya, Duryodana sangat kagum sekaligus iri menyaksikan keindahan istana Indraprastha. Timbul niatnya untuk merebut kerajaan itu, apalagi setelah ia tersinggung oleh ucapan Dropadi dalam sebuah pertemuan. Duryodana sering termenung memikirkan usaha untuk mendapatkan kemegahan dan kemewahan yang ada di Indraprastha. Duryodana melihat bangunan yang begitu indah, megah dan artistik itu. Setelah pulang ke Hastinapura ia langsung memanggil arsitek terkemuka untuk membangun pendapa yang tidak kalah indahnya dari pendapa di Indraprastha. Ia ingin sekali mendapatkan harta dan istana milik Pandawa. Namun ia bingung bagaimana cara mendapatkannya. Terlintas dalam benak Duryodana untuk menggempur Pandawa, namun dicegah oleh Sangkuni.

Sangkuni berkata, “Aku tahu Yudistira suka bermain dadu, namun ia tidak tahu cara bermain dadu dengan akal-akalan. Sementara aku adalah rajanya main dadu dengan akal-akalan. Untuk itu, undanglah dia, ajaklah main dadu. Nantinya, akulah yang bermain dadu atas nama anda. Dengan kelihayanku, tentu dia akan kalah bermain dadu denganku. Dengan demikian, anda akan dapat memiliki apa yang anda impikan”.

Duryodana tersenyum lega mendengar saran pamannya. Bersama Sangkuni, mereka mengajukan niat tersebut kepada Dretarastra untuk mengundang Pandawa main dadu. Duryodana juga menceritakan sikapnya yang iri dengan kemewahan Pandawa. Dretarastra ingin mempertimbangkan niat puteranya tersebut kepada Widura, namun karena mendapat hasutan dari Duryodana dan Sangkuni, maka Dretarastra menyetujuinya tanpa pertimbangan Widura.

Pandawa dan Korawa main dadu

Dretarastra menyiapkan arena judi di Hastinapura, dan setelah selesai ia mengutus Widura untuk mengundang Pandawa bermain dadu di Hastinapura. Yudistira sebagai kakak para Pandawa, menyanggupi undangan tersebut. dengan disertai para saudaranya beserta istri dan pengawal, Yudistira berangkat menuju Hastinapura. Sesampainya di Hastinapura, rombongan mereka disambut dengan ramah oleh Duryodana. Mereka beristirahat di sana selama satu hari, kemudian menuju ke arena perjudian.

Yudistira berkata, “Kakanda Prabu, berjudi sebetulanya tidak baik. Bahkan menurut para orang bijak, berjudi sebaiknya dihindari karena sering terjadi tipu-menipu sesama lawan”. Setelah mendengar perkataan Yudistira, Sangkuni menjawab, “Ma’af paduka Prabu. Saya kira jika anda berjudi dengan Duryodana tidak ada jeleknya, sebab kalian masih bersaudara. Apabila paduka yang menang, maka kekayaan Duryodana tidaklah hilang sia-sia. Begitu pula jika Duryodana menang, maka kekayaan paduka tidaklah hilang sia-sia karena masih berada di tangan saudara. Untuk itu, apa jeleknya jika rencana ini kita jalankan?”

Yudistira yang senang main dadu akhirnya terkena rayuan Sangkuni. Maka permainan dadu pun dimulai. Yudistira heran kepada Duryodana yang diwakilkan oleh Sangkuni, sebab dalam berjudi tidak lazim kalau diwakilkan. Sangkuni yang berlidah tajam, sekali lagi merayu Yudistira. Yudistira pun termakan rayuan Sangkuni.

Mula-mula Yudistira mempertaruhkan harta, namun ia kalah. Kemudian ia mempertaruhkan harta lagi, namun sekali lagi gagal. Begitu seterusnya sampai hartanya habis dipakai sebagai taruhan. Setelah hartanya habis dipakai taruhan, Yudistira mempertaruhkan prajuritnya, namun lagi-lagi ia gagal. Kemudian ia mempertaruhkan kerajaannya, namun ia kalah lagi sehingga kerajaannya lenyap ditelan dadu. Setelah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, Yudistira mempertaruhkan adik-adiknya. Sangkuni kaget, namun ia juga sebenarnya senang. Berturut-turut Sahadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima dipertaruhkan, namun mereka semua akhirnya menjadi milik Duryodana karena Yudistira kalah main dadu.

Dropadi dihina di muka umum

Harta, istana, kerajaan, prajurit, dan saudara Yudistira akhirnya menjadi milik Duryodana. Yudistira yang tidak memiliki apa-apa lagi, nekat mempertaruhkan dirinya sendiri. Sekali lagi ia kalah sehingga dirinya harus menjadi milik Duryodana. Sangkuni yang berlidah tajam membujuk Yudistira untuk mempertaruhkan Dropadi. Karena termakan rayuan Sangkuni, Yudistira mempertaruhkan istrinya, yaitu Dewi Dropadi. Banyak yang tidak setuju dengan tindakan Yudistira, namun mereka semua membisu karena hak ada pada Yudistira.

Duryodana mengutus Widura untuk menjemput Dropadi, namun Widura menolak tindakan Duryodana yang licik tersebut. karena Widura menolak, Duryodana mengutus para pengawalnya untuk menjemput Dropadi. Namun setelah para pengawalnya tiba di tempat peristirahatan Dropadi, Dropadi menolak untuk datang ke arena judi.

Setelah gagal, Duryodana menyuruh Dursasana, adiknya, untuk menjemput Dropadi. Dropadi yang menolak untuk datang, diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Dropadi menangis dan menjerit-jerit karena rambutnya ditarik sampai ke arena judi, tempat suami dan para iparnya berkumpul.

Dengan menangis terisak-isak, Dropadi berkata, “Sungguh saya tidak mengira kalau di Hastina kini telah kehilangan banyak orang bijak. Buktinya, di antara sekian banyak orang, tidak ada seorang pun yang melarang tindakan Dursasana yang asusila tersebut, ataukah, memang semua orang di Hastina kini telah seperti Dursasana?”, ujar Dropadi kepada semua orang yang hadir di balairung. Para orangtua yang mendengar perkataan Dropadi tersebut tersayat hatinya, karena tersinggung dan malu.

Wikarna, salah satu Korawa yang masih memiliki belas kasihan kepada Dropadi, berkata, “Tuan-Tuan sekalian yang saya hormati! Karena di antara Tuan-Tuan tidak ada yang menanggapi peristiwa ini, maka perkenankanlah saya mengutarakan isi hati saya. Pertama, saya tahu bahwa Prabu Yudistira kalah bermain dadu karena terkena tipu muslihat paman Sangkuni! Kedua, karena Prabu Yudistira kalah memperteruhkan Dewi Dropadi, maka ia telah kehilangan kebebasannya. Maka dari itu, taruhan Sang Prabu yang berupa Dewi Dropadi tidak sah!”

Para hadirin yang mendengar perkataan Wikarna merasa lega hatinya. Namun, Karna tidak setuju dengan Wikarna. Karna berkata, “Hei Wikarna! Sungguh keterlaluan kau ini. Di ruangan ini banyak orang-orang yang lebih tua daripada kau! Baliau semuanya tentu tidak lebih bodoh daripada kau! Jika memang tidak sah, tentu mereka melarang. Mengapa kau berani memberi pelajaran kepada beliau semua? Lagipula, mungkin memang nasib Dropadi seperti ini karena kutukan Dewa. cobalah bayangkan, pernahkah kau melihat wanita bersuami sampai lima orang?” Mendengar perkataan Karna, Wikarna diam dan membisu.

Duryodana menghina Dropadi dengan menyuruh wanita tersebut berbaring di atas pahanya.

Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh adiknya beserta istrinya diminta untuk menanggalkan bajunya. Dropadi menolak untuk melepaskan pakaiannya, dipaksa oleh Dursasana. Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi. Dropadi berdo’a kepada para Dewa agar dirinya diselamatkan. Sri Kresna mendengar do’a Dropadi. Secepatnya ia menolong Dropadi secara gaib. Sri Kresna mengulur kain yang dikenakan Dropadi, Saat Dursasana menarik pakaian Dropadi dengan paksa, kain sari yang melilit di tubuhnya tidak habis-habis meski terus diulur-ulur. Akhirnya Dursasana merasa lelah dan pakaian Dropadi tidak berhasil dilepas. Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara Rajasuya di Indraprastha.

Melihat perbuatan Dursasana yang asusila, Bima bersumpah ia akan merobek dada Dursasana dan meminum darahnya dan ia akan memukul paha Duryodana kelak kelak dalam Bharatayuddha. Setelah bersumpah, terdengarlah lolongan anjing dan srigala, tanda bahwa malapetaka akan terjadi. Dretarastra mengetahui firasat buruk yang akan menimpa keturunannya, maka ia segera mengambil kebijaksanaan. Ia memanggil Pandawa beserta Dropadi. Dretarastra berkata, “O Yudistira, engkau tidak bersalah. Karena itu, segala sesuatu yang menjadi milikmu, kini kukembalikan lagi kepadamu. Ma’afkanlah saudara-saudaramu yang telah berkelakuan gegabah. Sekarang, pulanglah ke Indraprastha”.

Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan umum terdengar oleh Gandari, ibu para Korawa. Ia memerintahkan agar Duryodana menghentikan permainan dan mengembalikan semuanya kepada Pandawa. Dengan berat hati, Duryodhana terpaksa mematuhi perintah ibunya itu. Setelah mendapat pengampunan dari Dretarastra, Pandawa beserta istrinya mohon diri.

Duryodana kecewa, ia menyalahkan perbuatan ayahnya yang mengembalikan harta Yudistira. Dengan berbagai dalih, Duryodana menghasut ayahnya. Bersamaan dengan pembangunan pendapa di Hastinapura ia pun merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Yudistira dan adik adiknya. Yang pada akhirnya Yudistra pun terjebak dalam rencananya Duryodana dan harus menjalani pengasingan selama 14 Tahun. Karena Dretarastra berhati lemah, maka dengan mudah sekali ia dihasut, maka sekali lagi ia mengizinkan rencana jahat anaknya. Duryodana menyuruh utusan agar memanggil kembali Pandawa ke istana untuk bermain dadu. Kali ini, taruhannya adalah siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, dan setelah masa pengasingan berakhir (yaitu pada tahun ke-13), yang kalah harus menyamar selama 1 tahun. Pada tahun yang ke-14, barulah boleh kembali ke istana.

Pandawa tidak menolak undangan Duryodana untuk yang kedua kalinya tersebut. Harapannya adalah apabila menang, maka ini merupakan pelajaran bagi Kourawa, namun Sekali lagi, Pandawa kalah. Sesuai dengan perjanjian yang sah, maka Pandawa beserta istrinya mengasingkan diri ke hutan, hidup dalam masa pembuangan selama 12 tahun. Setelah itu menyamar selama satu tahun. Setelah masa penyamaran, maka para Pandawa kembali lagi ke istana untuk memperoleh kerajaannya.

________________________________________

Wanaparwa

Kitab Wanaparwa merupakan kitab ketiga dari seri Astadasaparwa. Kitab Wanaparwa menceritakan kisah pengalaman para Pandawa bersama Dropadi di tengah hutan.

Yudistira yang merasa paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa keluarga dan negaranya berusaha untuk tetap tabah dalam menjalani hukuman. Ia sering berselisih paham dengan Bima yang ingin kembali ke Hastinapura untuk menumpas para Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap tunduk dan patuh terhadap perintah Yudistira supaya menjalani hukuman sesuai perjanjian.

Krisna, Dhrishtadyumna dan para kerabat wangsanya datang menjenguk mereka di hutan Kamyaka. Melihat Krisna, Droupadi menangis dan menceritakan penghinaan yang diterimanya. Saat itulah Krisna bersumpah bahwa siapapun yang terlibat dipenghinaan itu akan menerima ganjarannya secara berdarah-darah dan ia akan membantu Pandawa setiap harinya

Dhrishtadyumna menambahkan,’Aku akan membunuh Drona, Srikandi akan membunuh Bisma, Bhima akan membunuh Duryodana, Dursasana dan adik-adiknya, Arjuna akan membunuh karna si anak kusir itu!’

Pandawa juga bertemu dengan Rsi Byasa, seorang guru rohani yang mengajarkan ajaran-ajaran Hindu kepada Pandawa dan Dropadi, istri mereka. Atas saran Rsi Byasa, Arjuna bertapa di gunung Himalaya agar memperoleh senjata sakti yang kelak digunakan dalam Bharatayuddha. Kisah Sang Arjuna yang sedang menjalani masa bertapa di gunung Himalaya menjadi inspirasi untuk menulis Kakawin Arjuna Wiwaha.

Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.

Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu.

Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma’af kepada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama “Pasupati”.

Setelah menerima anugerah tersebut, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Indra, raja para dewa. Di sana Arjuna menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi. Karena Arjuna tidak mau menikahi bidadari Urwasi, maka Urwasi mengutuk Arjuna agar menjadi banci.

Suatu ketika para Korawa datang ke dalam hutan untuk berpesta demi menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka justru berselisih dengan kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam peristiwa itu Duryodana tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi, Yudistira justru mengirim Bima dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia mengancam akan berangkat sendiri apabila kedua adiknya itu menolak perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu berhasil membebaskan Duryodana. Niat Duryodana datang ke hutan untuk menyiksa perasaan para Pandawa justru berakhir dengan rasa malu luar biasa yang ia rasakan.

Bukan Cuma itu saja, para Brahmana banyak berkunjung dan memberikan wejangan selama 12 tahun ini, ada Brahmana Lomasa, Maitreya, markandeya dll.

Dikisahkan juga bahwa sejak awal mereka menjalani pembuangan di Hutan,

Pandawa mendapat anugerah dari Dewa Surya yaitu kendaraan Akshayapatra yang selalu membawa makanan yang lebih dari cukup untuk mereka dan para tamu mereka di setiap harinya

Peristiwa lain yang terjadi adalah penculikan Dropadi oleh Jayadrata, adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna berhasil menangkap Jayadrata dan hampir saja membunuhnya. Yudistira muncul dan memaafkan raja kerajaan Sindu tersebut.

Peristiwa lainnya, adalah ketika Droupadi menemukan bunga yang sangat harum dan meminta Bhima untuk mencarikan bunga tersebut untuk ditanam. Bhima pergi mencari hingga sampailah ia di kaki suatu gunung dan ia melihat seekor kera besar bersinar-sinar berbaring tidur menghalangi jalannya. Ia coba mengusirnya dengan berteriak-teriak agar mahluk itu takut. Mahluk itu hanya membuka sebelah matanya dengan malasnya dan berkata, ‘aku lagi kurang nyaman makanya aku tidur disini mengapa engkau membangunkanku, Engkau adalah manusia bijaksana dan aku hanya binatang, seharusnya manusia yang rasional berbelas kasih pada bnatang sepertiku. Aku khawatir engkau ini tidak mengindahkan mana kebenaran dan kejahatan. Siapa kamu? Ngga mungkin engkau melanjutkan perjalanan lebih lanjut lagi, karena ini merupakan jalan dewa2, manusia ngga boleh melewati batas ini. Makan saja buah2 yang ada disini sesukamu dan pergilah dengan damai.

Bhima yang tidak biasa dianggap enteng menjadi marah dan berteriak,’Lho kamu ini siapa, kamu ini hanyalah kera namun sok berbicara tinggi, aku adalah Ksatriya, pahlawan keturuna Kuru dan anak dari Kunti. Aku adalah anak dari Deva Vayu, Ayo menyingkir!’. Mendengar ini, kera itu hanya tertawa dan berkata ‘Saya ini hanya kera, namun engkau akan mengalami kehancuran apabila memaksa jalan terus’. Bima berkata,’ itu bukan urusanmu, menyingkirlah atau aku singkirkan engkau!’. Kera itu berkata,’Aku tidak punya kekuatan untuk berdiri, jika engkau bersikeras untuk terus untuk pergi, lompati saja aku’ Bima berkata,’Ya itu sih mudah, namun kitab suci melarang iu, kecuali aku melompatimu dan gunung dalam satu lompatan seperti yang dilakukan Hanuman menyebrangi lautan. Kera itu berkata,’ Siapa Hanuman yang menyebrangi Lautan itu, ceritakanlah cerita itu padaku’.

Bima berkata ‘Belum pernah dengar Hanuman? Ia adalah kakak ku, yang dengan loncatanya menyebrangi lautan untuk mencari Sita istri Rama, Aku setara dengannya dalam hal kekuatan dan Kegagahan. Ah sudah cukup berbicara, ayo menyingkirlah dan memberi jalan, jangan memprovokasiku untuk menyakitimu. Kera itu berkata,’ Ah orang gagah, bersabarlah, lembutlah karena engkau kuat, berbelas kasihlah pada yang lemah dan tua. Aku tak berkekuatan untuk berdiri, karena kitab mu melarang untuk melompatiku, ya sudah singkirkan saja ekorku ini agar engkau dapat melanjutkan perjalanan’.

Bangga dengan kekuatannya, Ia pikir dapat dengan mudahnya menarik ekor Kera itu ke sisi jalan, namun ternyata hingga ia menggunakan seluruh kekuatannya ekor itu tidak bergerak sama sekali kemudian dengan malu ia berkata,’Maafkan aku, Apakah engkau adalah orang sakti, Gandharva atau Dewa?’ Hanuman berkata,’ Oh Pandava, Aku adalah kakakmu yang engkau sebut tadi, jika engkau melewati jalan yang merupakan jalan menuju dunia fana dimana Yaksha dan raksasa tinggal, engkau akan menghadapi bahaya dan itulah sebabnya aku menghalangimu. Tidak ada manusia yang dapat melewati jalan ini dan tetap hidup, namun di bawah sana ada aliran sungai dimana engkau akan temukan bunga saugandhika yang engkau cari itu’.

Bima menjawab dengan senangnya,’ Aku termasuk orang yang beruntung bertemu dengan mu, Kakak Ku, Aku memohon dapat melihat wujud-Mu saat engkau melompati lautan itu dan ia bersujud dihadapan hanuman’. Hanuman tersenyum dan mulai membesarkan ukuran tubuhnya yang berdiri kokoh seperti gunung dan terlihat menutupi seluruh area. Bhima gemetar melihat wujud Dewa dari kakaknya itu, tak dapat lagi ia membuka mata, silau oleh radiasi sinar yang menyilaukan dari tubuh kakaknya itu. Hanuman berkata,’dihadapan musuhku, tubuhku dapat membesar lebih dan lebih lagi’. Kemudian ia menyusutkan kembali tubuhnya di ukuran asalnya dan ia dengan lembut merangkul Bhima.

Bhagawan Vyasa berkata,’ Bhima kemudian sepenuhnya segar dan bertambah kuat lagi setelah dirangkul oleh Hanuman’. Hanuman berkata, ‘Orang gagah, kembalilah dan pikiran aku ketika engkau membutuhkan bantuanku, aku sesenangmu ketika aku menyentuh tubuh Sri Rama, Deva-Ku, mintalah sesuatu berkat yang engkau inginkan’. Bhima berkata, ‘berilah berkat pada pandawa agar dapat menaklukan musuh2nya’. Hanuman memberikan berkat dan berkata,’Teriakanmu bagaikan Singa di medan pertempuran, suaraku akan berada di suaramu dan memberikan teror ketakukan di hati setiap musuhmu. Aku akan hadir di bendera yang ada dikereta Arjuna, Engkau akan memperoleh kemenangan. Itu adalah jalur ke sungai terdekat dimana tumbuh bunga Saugandhika’ Bhim segera ingat bahwa Droupadi menunggu kepulangannya dan segera mengambil bunga2 itu untuknya.

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan 12 tahun, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.

Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Muncul seorang raksasa yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan sang raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang Raksasa untuk bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Raksasa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.

Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan raksasa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.

________________________________________

Wirataparwa

Kitab Wirataparwa merupakan kitab keempat dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah penyamaran para Pandawa beserta Dropadi. Sesuai dengan perjanjian yang sah, setelah 12 tahun masa pengasingan, maka pada tahun ke 13 Pandawa mesti tidak diketahui keberadaannya selama 1 tahun penuh, apabila gagal maka pengasingan akan diulangi lagi selama 12 tahun berikutnya. Pandawa kemudian melakukan penyamaran dan menuju ke kerajaan Wirata.

Yudistira menyamar sebagai Brahmana dengan nama Kanka dan menemani raja bermain dadu setiap harinya. Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak bernama Valala salah satu kegiatannya adalah menemani Raja bergulat. Arjuna memanfaatkan Kutukan Bidadari Urwasi dengan menyamar sebagai guru tari yang banci, dengan nama samaran Brihanala. Mengajarkan tari dan musik pada Putri Uttara (kakaknya juga bernama Uttara, namun dipewayangan jawa yang perempuan menjadi Utari). Nakula menyamar sebagai perawat kuda dengan nama samaran “Grantika” atau Dharmagranthi. Sadewa pun memilih peran sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala. Droupadi menyamar sebagai dayang istana bernama Sailandri melayani ratu Sudhesna.

Kichaka adalah kakak dari ratu Suhesna, Pengaruhnya ia di Istana adalah luar biasa, bahkan masyarakan menyatakan bahwa Ia adalah raja yang sebenarnya dari kerajaan Matsya daripada Wirata sendiri. Ia naksir Droupadi. Ia menolak dengan halus dengan menyatakan bahwa Suaminya adalah Gandharwa yang membunuh siapa saja yang bersikap tidak sopan terhadapnya. Kichaka tidak mempercayai itu dan tetap merayu Droupadi.

Droupadi menyatakan berkeberatan dengan tindakan kakak ratu tersebut. Ratu permulaan membelanya, namun kakaknya dengan berbagai cara berbicara dengan adiknya betapa menderitanya Ia karena merindukan Droupadi. Akhirnya mereka membuat rencana untuk menjebak Droupadi. Ia menjebak Droupadi untuk datang kerumah Kinchaka membawakan Minuman dan makanan, Droupadi menolak dan meminta agar dikirim orang lain, Ratu marah sehingga terpaksa droupadi kesana. Benarlah! Kichaka dalam keadaan mabu dan bernafsu memaksanya, mendorongnya, menendangnya dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonohnya dihadapan yang hadir di rumah Kichaka. Ia melupakan bahaya terbongkarnya penyamaran dan pergi ketempat Bhima menceritakan keadaan itu.

Mereka kemudian melakukan rencana, bahwa malam keesokan harinya Droupadi akan membawa Kichaka ke ruang tari. Disana Bhima sudah menunggunya. Saat itu yang seimbang bertarung gulat dengan Kichaka hanyalah Bhima dan Balarama saja. Perkelahian terjadi dan Kichaka tewas.

Droupadi membangunkan penjaga dan menceritakan gangguan dari Kichaka padahal telah diberitahu bahwa suami Gandharwanya akan menghabisi siapapun yang mengganggunya sambil menunjukan mayat Kichaka yang remuk mengecil yang hanya dapat dilakukan oleh bukan kekuatan manusia biasa. Cerita kematian Kichaka berkembang dimasyarakat kerajaan Matsya dan sangat menakutkan bagi mereka bahwa Droupadi yang begitu cantiknya mempunyai suami Gandarwa yang pencemburu sehingga berpotensi menyakiti siapa saja terutama keluarga kerajaan. Droupadi di minta di usir dari kerajaan Wirata, padahal tinggal 1 bulan saja dari akhir masa pembuangan 12 tahun plus 1 para Pandawa.

Sementara itu mata-mata Duryodana hampir mulai menyerah untuk menemukan Pandawa dan mereka mendengar kabar bahwa Kichaka tewas ditangan Gandharwa yang Istrinya diganggu. Mereka tahu yang dapat membunuh Kichaka adalah Cuma dua orang di muka bumi ini. Salah satunya adalah Bima dan Duryodana juga yakin bahwa istri Gandharwa itu adalah Droupadi.

Akhirnya Duryodana sampai pada rencana untuk menyerang Wirata. Melihat sifat Pandawa, mereka pasti akan menolong kerajaan Wirata sebagai ucapan terima kasih dan apabila Pandawa tidak ada di sana, paling tidak pundi kekayaan Duryodana menjadi meningkat. Raja Trigarta, Susarma juga hadir saat itu dan kerajaan tersebut sudah lama merasa terganggu dengan Kichaka, saat ini Kichaka telah tiada sehingga Wirata dalam keadaan lemah. Diputuskan Raja Susarma akan menyerang dari Selatan dan Hastina dari Utara.

Yudistira, bertindak seperti pikiran Duryodana, kecuali Arjuna mereka semua membatu Kerajaan Matsya beserta seluruh kekuatan kerajaan Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigartha, sekutu Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam keadaan terancam oleh serangan pasukan Hastinapura.

Utara putera Wirata yang ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Brihanala (banci, samaran Arjuna) sebagai kusir. Di medan perang, Uttara sangat ketakutan melihat pasukan Kurawa yang saat itu dlihatkan ada Bhisma, Drona, Kripa, Awatama, karna, Durydana dan ribuan lainnya. Ia membuang busur dan lari, kemudian dikejar oleh Brhidnala kemudian dipaksa masuk Kereta. Sesampainya mereka di dekat sebuah pohon Uttara diminta naik keatas untuk mengambil persenjataan Pandawa yang disembunyikan di sana.

Kemudian Brihanala menyentakan Busur Gendewanya yang bunyinya bergema di seluruh tempat. Bunyi itu sangat menakutkan pasukan Kourawa Kemudian ia meniupkan Terompetnya, Dewadatta yang berkumandang dan makin menggentarkan pasukan Kourawa. Saat itu mereka berteriak-teriak bahwa Pandava datang berkali2. Trompet itu menandakan berakhirnya masa pengasingan yang jatuh tempo satu hari sebelumnya. Bhisma juga memberitahukan pada Duryodana bahwa menurut pengetahuannya dan juga para ahli perbintangan maka tahun ke 13 masa pengasingan telah berakhir kemarin. Duryodana di sarankan untuk segera berdamai, namun ia menolak dan mengatakan tidak akan menyerahkan bahkan satu desapun kepada Pandawa serta memerintahkan mereka untuk segera berperang. Kemudian Duryodana, sang putera Mahkota dillindungi bersama kumpulan sapi2 yang hendak dijadikan hasil kemenangan saat itu.

Arjuna tampil seorang diri melawan seluruh pasukan Korawa. Sebelum mengejar Duryodana Arjuna menyalami para Gurunya dan Bhisma dengan membidik Panah dekat kaki mereka. Saat ia mengejar Duryodana, seluruh pasukan bergerak melindungi Duryodana, Arjuna membuat Karna keluar dari arena, Ia mengalahkan Drona, Kripa, Aswatama dan akhirnya berperang Melawan Bisma. Pertempuran antara Bisma dan Arjuna disaksikan para Dewa.

Kemudian Arjuna mengeluarkan sebuah panah yang membuah mereka semua menjadi tak sadarkan diri. Kemudian ia merenggut semua pakaian merka. Kumpulan pakaian itu sebagai tanda kemenangan di hari itu. Pasukan korawa pulang kandang dengan kekalahan memalukan ditangan satu orang, Arjuna. Peristiwa kemenangan Arjuna atas serangan Hastinapura tersebut telah membuat Utara berubah menjadi seorang yang pemberani. Ia ikut terjun dalam perang besar di Kurukshetra membantu pihak Pandawa.

Sementara itu, pasukan Wirata juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata dengan bangga memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan para Korawa seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci kemenangan Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung dan memukul kepala Kanka sampai berdarah.

Saat batas waktu penyamaran telah melebih batas waktu, kelima Pandawa dan Dropadi pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Wirata merasa bersalah karena telah memperlakukan mereka dengan kurang baik. Ia pun menyerahkan putrinya, Utaraa kepada Arjuna sebagai tanda penyesalan dan minta maaf. Namun Arjuna menolaknya karena ia telah mengajar tarian dan kesenian pada mereka (dua uttara), untuk itu Utaraa (putri) pun diambil sebagai menantu untuk dinikahkan dengan Abimanyu, putranya yang tinggal di Dwaraka. Wirata pun berjanji akan menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta Indraprastha. Saat itu ada utusan dari Duryodana yang meminta mereka.

Versi jawa

Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan, bukan nama orang. Sedangkan rajanya bernama Matsyapati. Dalam kerajaan tersebut, Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu kota bernama Dwijakangka.

Ketika naskah MahaBharata disadur ke dalam bahasa Jawa Kuna, tokoh Utaraa pun diganti namanya menjadi Utari, misalnya dalam naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis tahun 1157. Ketika kisah MahaBharata dipentaskan dalam pewayangan, para dalang lebih suka memakai nama Utari daripada Utaraa.

Perkawinan Abimanyu dan Utari dalam pewayangan dihiasi dengan tipu muslihat. Ketika keduanya masih pengantin baru, paman Gatutkaca dari pihak ibu yang bernama Kalabendana datang menjemput Abimanyu untuk dibawa pulang karena istri pertamanya, yaitu Sitisundari putri Kresna merindukannya. Mendengar ajakan itu, Abimanyu langsung bersumpah di hadapan Utari bahwa dirinya masih perjaka dan belum pernah menikah. Ia bahkan menyatakan jika ucapannya adalah dusta maka kelak ia akan mati dikeroyok senjata.

Gatutkaca yang membela Abimanyu memukul Kalabendana. Pukulan tidak sengaja itu justru menewaskan pamannya tersebut. Kelak dalam perang Baratayuda, Abimanyu benar-benar tewas dalam keadaan dikeroyok musuh. Sementara itu, arwah Kalabendana juga datang menjemput keponakannya dengan cara memegang senjata Konta milik Karna dan menusukkannya ke pusar Gatutkaca.

Di saat itu pula, tiba utusan Duryodana yang menyatakan bahwa tindakan Arjuna itu telah membongkar penyamaran mereka dan minta Pandawa untuk mengasingkan diri kembali selama 12 tahun, karena telah terbongkar sebelum waktunya. Yudistira tergelak tertawa, dan melalui utusan tersebut untuk menyampaikan pesan bahwa Yang terhormat kakek Bisma dan Mereka-mereka yang belajar perbintangan sangat mengetahui bahwa 13 tahun itu telah berlalu sebelum Arjuna meniupkan Terompet kerangnya dan menyentilkan tali gendewa yang membuat pasukan kurawa kucar-kacir ketakutan.

________________________________________

Udyogaparwa

Kitab Udyogaparwa merupakan kitab kelima dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan sikap Duryodana yang tidak mau mengembalikan kerajaan para Pandawa yang telah selesai menjalani masa pengasingan selama 13 tahun berakhir. Pandawa kembali untuk mengambil kembali negeri mereka dari tangan Korawa. Namun pihak Korawa menolak mengembalikan Kerajaan Indraprastha dengan alasan penyamaran para Pandawa di Kerajaan Wirata telah terbongkar.

Pandawa yang selalu bersabar mengirimkan Krisna sebagai duta perdamaian ke pihak Korawa, namun usaha mereka tidak membuahkan perdamaian. Sebagai seorang pangeran, Pandawa merasa wajib dan berhak turut serta dalam administrasi pemerintahan, maka akhirnya hanya meminta lima buah desa saja. Tetapi Duryodana sombong dan berkata bahwa ia tidak bersedia memberikan tanah kepada para Pandawa, bahkan seluas ujung jarum pun. Jawaban itu membuat para Pandawa tidak bisa bersabar lagi dan perang tak bisa dihindari. Duryodana pun sudah mengharapkan peperangan.

Dalam kesempatan itu, Kresna menemui Karna dan mengajaknya berbicara empat mata. Ia menjelaskan bahwa para Pandawa sebenarnya adik seibu Karna. Apabila Karna bergabung dengan Pandawa, maka Yudistira pasti akan merelakan takhta Hastinapura untuknya.

Karna sangat terkejut mendengar jati dirinya terungkap, Dengan penuh pertimbangan ia memutuskan tetap pada pendiriannya yaitu membela Korawa. Ia tidak mau meninggalkan Duryodana yang telah memberinya kedudukan, harga diri, dan perlindungan saat dihina para Pandawa dahulu. Rayuan Kresna tidak mampu meluluhkan sumpah setia Karna terhadap Duryodana yang dianggapnya sebagai saudara sejati.

Versi jawa

Kedatangan Kresna bukan untuk membuka jati diri Karna, melainkan hanya untuk penegasan saja. Seperti telah dikisahkan sebelumnya, Karna sudah mengetahui jati dirinya dari Batara Narada menjelang perkawinannya dengan Surtikanti. Jadi, Kresna hanya ingin memastikan sikap Karna membela Korawa atau Pandawa. Jawaban dan alasan Karna pun sama persis dengan versi MahaBharata.

Kresna dengan kepandaiannya berbicara akhirnya berhasil mengetahui alasan karna yang paling rahasia. Karna mengaku memihak Korawa demi kehancuran angkara murka. Ia sadar kalau Korawa adalah pihak yang salah. Setiap hari ia berusaha menghasut Duryodana supaya tidak takut menghadapi para Pandawa. Karna menjadi tokoh yang paling menginginkan perang terjadi, karena hanya dengan cara itu Korawa dapat mengalami kehancuran. Karna sadar sebagai seorang penghasut, dirinya harus memberi contoh berani dalam menghadapi Pandawa. Ia rela jika dalam perang nanti dirinya harus tewas bersama para Korawa. Ia bersedia mengorbankan jiwa dan raga demi untuk kemenangan para Pandawa dan kebahagiaan adik-adiknya itu. Kresna terharu mendengar rahasia Karna. Ia yakin meskipun selama di dunia Karna hidup bersama Korawa, namun kelak di akhirat pasti berkumpul bersama Pandawa.

Setelah pertemuan dengan Kresna, Karna ganti mengalami pertemuan dengan Kunti, ibu kandungnya. Kunti menemui Karna saat putera sulungnya itu bersembahyang di tepi sungai. Ia merayu Karna supaya mau memanggilnya “ibu” dan sudi bergabung dengan para Pandawa. Karna kembali bersikap tegas. Ia sangat menyesalkan keputusan Kunti yang dulu membuangnya sehingga kini ia harus berhadapan dengan adik-adiknya sendiri sebagai musuh. Ia menolak bergabung dengan Pandawa dan tetap menganggap Radha istri Adirata sebagai ibu sejatinya. Meskipun demikian, Karna tetap menghibur kekecewaan Kunti. Ia bersumpah dalam perang Bharatayuddha kelak, ia tidak akan membunuh para Pandawa, kecuali Arjuna.

Pandawa dan Korawa mempersiapkan kekuatannya dengan mencari bala bantuan dan sekutu ke seluruh pelosok Bharatawarsha (India Kuno). Arjuna dan Duryodana pergi ke Dwaraka untuk memohon bantuan dari Krishna

Duryodana datang terlebih dahulu, kemudian Arjuna. Krishna sedang beristirahat. Mereka masuk kekamarnya. Durodana duduk disisi Krishna, Arjuna berdiri tepat diujung kaki Krisna. Krisna kemudian terbangun dan membuka matanya melihat arjuna terlebih dahulu dan menyapanya Baru kemudian menyapa Duryodana. Ia menanyakan apa yang membuat mereka datang ke Dwaraka. Duryodana berbicara pertama bahwa Perang akan dimulai dan mereka meminta agar Krishna dan pasukannya membantu mereka, Ia juga menyampaikan bahwa Ia darang duluan. Krishna menyatakan bahwa mungkin benar Duryodana datang duluan, namun ia melihat Arjuna terlebih dahulu ketika terbangun, lagi pula adat yang berlaku selalu mempersilakan yang lebih muda untuk duluan. Untuk itu Krishna menyatakan bahwa Ia tidak bersedia bertempur secara pribadi. Sri Kresna mengajukan tawaran kepada Pandawa dan Korawa, bahwa di antara mereka boleh meminta satu pilihan: pasukannya atau tenaganya.

Pandawa yang diwakili Arjuna menginginkan Sri Kresna tanpa senjata Ia memohon Krishna bersedia mengendarai kereta perangnya dan menjadi penasihat Pandawa sedangkan Korawa yang diwakili Duryodana memilih pasukan Sri Kresna. Sri Kresna bersedia mengabulkan permohonan tersebut, dan kedua belah pihak merasa puas terlebih lagi Duryodana merasa pilihan arjuna merupakan suatu kebodohan karena ia tahu ketangguhan dari pasukan Krisna namun setibanya Duryodana dikerajaan dengan gembira ia ceritakan keberuntungannya itu dihadapan Sangkuni. Sangkuni justru memakinya sebagai orang paling Bodoh dan mengatakan 1 orang Krisna tidak dapat dibandingkan dengan ratusan ribu Prajuritnya walaupun sekuat apapun Prajuritnya itu.

Pandawa telah mendapatkan tenaga Kresna, sementara Korawa telah mendapatkan tentara Kresna. Persiapan perang dimatangkan. Sekutu kedua belah pihak yang terdiri dari para Raja dan ksatria gagah perkasa dengan diringi pasukan yang jumlahnya sangat besar berdatangan dari berbagai penjuru India dan berkumpul di markasnya masing-masing. Pandawa memiliki tujuh divisi sementara Korawa memiliki sebelas divisi. Beberapa kerajaan pada zaman India kuno seperti Kerajaan Dwaraka, Kerajaan Kasi, Kerajaan Kekeya, Magada, Matsya, Chedi, Pandya dan wangsa Yadu dari Mandura bersekutu dengan para Pandawa; sementara sekutu para Korawa terdiri dari Raja Pragjyotisha, Anga, Kekaya, Sindhudesa, Mahishmati, Awanti dari Madhyadesa, Kerajaan Madra, Kerajaan Gandhara, Kerajaan Bahlika, Kamboja, dan masih banyak lagi.

Pihak Pandawa

Melihat tidak ada harapan untuk berdamai, Yudistira, kakak sulung para Pandawa, meminta saudara-saudaranya untuk mengatur pasukan mereka. Pasukan Pandawa dibagi menjadi tujuh divisi. Setiap divisi dipimpin oleh Drupada, Wirata, Drestadyumna, Srikandi, Satyaki, Cekitana dan Bima. Setelah berunding dengan para pemimpin mereka, para Pandawa menunjuk Drestadyumna sebagai panglima perang pasukan Pandawa. MahaBharata menyebutkan bahwa seluruh kerajaan di daratan India utara bersekutu dengan Pandawa dan memberikannya pasukan yang jumlahnya besar. Beberapa di antara mereka yakni: Kerajaan Kekeya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, dan masih banyak lagi.

Pihak Korawa

Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa. Bisma menerimanya dengan perasaan bahwa ketika ia bertarung dengan tulus ikhlas, ia tidak akan tega menyakiti para Pandawa. Bisma juga tidak ingin bertarung di sisi Karna dan tidak akan membiarkannya menyerang Pandawa tanpa aba-aba darinya. Bisma juga tidak ingin dia dan Karna menyerang Pandawa bersamaan dengan ksatria Korawa lainnya. Ia tidak ingin penyerangan secara serentak dilakukan oleh Karna dengan alasan bahwa kasta Karna lebih rendah. Bagaimanapun juga, Duryodana memaklumi keadaan Bisma dan mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Pasukan dibagi menjadi sebelas divisi. Seratus Korawa dipimpin oleh Duryodana sendiri bersama dengan adiknya — Duhsasana, putera kedua Dretarastra, dan dalam pertempuran Korawa dibantu oleh Rsi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa — Jayadrata, guru Kripa, Kritawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawa, Bahlika, Sangkuni, dan masih banyak lagi para ksatria dan Raja gagah perkasa yang memihak Korawa demi Hastinapura maupun Dretarastra.

Pihak netral

Kerajaan Widarbha dan rajanya, Raja Rukma dan juga kakak Kresna, Baladewa, berada pada pihak yang netral dalam peperangan tersebut. Balacewa netral karena kasih dan perdamaiannya pada duabelah pihak, namun netralnya Raja Rukma bukan karena ia tidak mau memihak, namun justru karena kesal dan merasa terhina oleh duabelah pihak

Kerajaan Widharba dahulunya dipimpin oleh Raja Bhismaka Ia mempunyai lima anak satu diantaranya wanita bernama Rukmini. Ia telah mendengar tentang Krisna dan kemasyurannya dan berharap dapat bersatu dengannya dalam satu perkawinan. Keluarganya menyetujui ide itu kecuali kakak tertuanya Rukma yang lebih mengingikan Rukmini dikawinkan dengan Sisupala raja Chedi.Karena raja semakin tua, Rukma menjadi dominan kehendaknya di kerajaan tersebut Rukmini menjadi takut bahwa ayahnya menjadi tidak berdaya. Kemudian ia mencari jalan mengatasi keadaan yang sulit ini. Ia kemudian meminta saran kepada seorang Brahmana yang kemudian pergi ke Drawaka untuk bertemu Krisna dan menyampaikan surat yang dikirim Rukmini.

“Hatiku telah menerimamu sebagai Tuhan dan pemimpin, Aku memintamu untuk datag dan menyelamatkanku dari Sisupala yang akan membawa ku dengan paksa. Hal ini tidak dapat ditunda lagi, datanglah esok. Pasukan Sisupala dan jarasandha akan berusaha menghadangmu sebelum engkau mendapatkanmu. Semoga engkau berkenan menyelamatkan ku. Dan sebagai bagian dari upacara perkawinan Aku akan berada di kuil untuk memuja Parvati (shakti Siva) bersama rombongan. Itu adalah saat yang terbaik untuk datang dan menyelamatkanku. Jika Engkau tidak hadir maka aku akan mengakhiri hidupku dan semoga akau akan bersatu dengan mu di kehidupan mendatang “

Setelah Krisna membaca itu, Ia segera menaiki keretanya menuju Kundinapura, Ibukota Widarbha. Balarama tahu kepergian yang tiba-tiba dan rahasia Krisna dan kemudian ia segera menyiapkan pasukan dan menuju Kundinapura. Di kuil Rukmini berdoa, ‘Oh Dewi, kuserahkan hidupku padamu”. Melangkah keluar kuil. Rukmini melihat Kereta Krisna dan segera berlari melayang bagikan jarum tersedot magnet menuju kereta Krisna. Krisna mengemudikan kereta dibawah pandangan kagum semua yang melihat mereka

Pengawal segera memberitahu Rukma mengenai apa yang terjadi, kemudian berkata ‘Aku tidak akan kembali sebelum membunuhnya!’ dan segera mengejar Krisna dengan pasukan yang besar. Sementara itu Balarama telah tiba dengan pasukannya dan pertempuran pun terjadi. Balarama dan Krisna pulang dengan memperoleh kemenangan.

Rukma yang telah kalah malu pulang kandang dan mendirikan kerajaan diantara Dwaraka dan menamakannya menjadi Bhojakata. Ketika Ia mendengar akan diadakan perang Khurkshetra, Rukma datang dengan pasukan besar berpikir untuk memperbaiki hubungannya dengan Krisna (Basudeva) dan menawarkan bantuan pada Pandawa

“Oh, Pandawa, Pasukan musuh begitu besarnya. Aku datang untuk menawarkan bantuan padamu. Berikan aku perintah dan aku akan menyerang semua tempat yang engkau perintahkan. Aku punya kekuatan untuk melawan Drona, Kripa dan bahkan Bhisma. Ku berikan kemenangan bagimu, katakanlah kehendakmu” Ujarnya pada Arjuna

Menoleh pada Basudeva, Arjuna tertawa

“Oh penguasa Bhojakata, Kami tidak mengkhawatirkan jumah musuh. Kami belum memerlukan bantuanmu. Engkau boleh menyingkir atau tetap di sekitar sini sesukamu”, Ujar Arjuna

Rukma yang merasa marah dan malu, pergi ke Duryodana dengan pasukannya, “Pandawa menolak bantuan ku, Pasukanku terserah engkau akan apakan”, katanya pada Duryodana

“Jadi, setelah Pandawa menolakmu bantuanmu makanya engkau datang kemari? Saya tidak setakut itu untuk menerimamu setelah mereka membuangmu’ jawab Duryodana

Rukma merasa terhina oleh duabelah pihak dan ia kembali kekerajaannya tanpa ambil bagian dari perang besar itu

Di kisahkan juga perjalanan Salya – “Sang Raja Madra” – menuju markas Pandawa karena memihak mereka, Salya membawa pasukan besar menuju Upaplawya untuk menyatakan dukungan terhadap Pandawa menjelang meletusnya perang besar di Kurukshetra atau Baratayuda. Di tengah jalan rombongannya singgah beristirahat dalam sebuah perkemahan lengkap dengan segala jenis hidangan.

Salya menikmati jamuan itu karena mengira semuanya berasal dari pihak Pandawa. Tiba-tiba para Korawa yang dipimpin Duryodana muncul dan mengaku sebagai pemilik perkemahan tersebut beserta isinya. Duryodana meminta Salya bergabung dengan pihak Korawa untuk membalas jasa. Sebagai seorang raja yang harus berlaku adil, Salya pun bersedia memenuhi permintaan itu.

Salya kemudian menemui para keponakannya, yaitu Pandawa Lima untuk memberi tahu bahwa dalam perang kelak, dirinya harus berada di pihak musuh. Para Pandawa terkejut dan sedih mendengarnya. Namun Salya menghibur dengan memberikan restu kemenangan untuk mereka.

Untuk kesekian kalinya sebelum keputusan berperang, sekali lagi para Pandawa berusaha mencari sekutu dengan mengirimkan surat permohonan kepada para Raja di daratan India Kuno agar mau mengirimkan pasukannya untuk membantu para Pandawa jika perang besar akan terjadi. Begitu juga yang dilakukan oleh para Korawa, mencari sekutu. Hal itu membuat para Raja di daratan India Kuno terbagi menjadi dua pihak, pihak Pandawa dan pihak Korawa.

Sementara itu, Kresna mencoba untuk melakukan perundingan damai. Kresna pergi ke Hastinapura untuk mengusulkan perdamaian antara pihak Pandawa dan Korawa. Namun Duryodana menolak usul Kresna dan merasa dilecehkan, maka ia menyuruh para prajuritnya untuk menangkap Kresna sebelum meninggalkan istana. Tetapi Kresna bukanlah manusia biasa. Ia mengeluarkan sinar menyilaukan yang membutakan mata para prajurit Duryodana yang hendak menangkapnya. Pada saat itu pula ia menunjukkan bentuk rohaninya yang hanya disaksikan oleh tiga orang berhati suci: Bisma, Drona, dan Widura.

Setelah Kresna meninggalkan istana Hastinapura, ia pergi ke Uplaplawya untuk memberitahu para Pandawa bahwa perang tak akan bisa dicegah lagi. Ia meminta agar para Pandawa menyiapkan tentara dan memberitahu para sekutu bahwa perang besar akan terjadi.

Perang di Kurukshetra merupakan klimaks dari Mahābhārata, sebuah wiracarita tentang pertikaian Dinasti Kuru sebagai titik sentralnya. Kurukshetra sendiri bermakna “daratan Kuru”, yang juga disebut Dharmakshetra atau “daratan keadilan”. Lokasi ini dipilih sebagai ajang pertempuran karena merupakan tanah yang dianggap suci. Dosa-dosa apa pun yang dilakukan di sana pasti dapat terampuni berkat kesucian daerah ini.

Dataran Kurukshetra yang menjadi lokasi pertempuran ini masih bisa dikunjungi dan disaksikan sampai sekarang. Kurukshetra terletak di negara bagian Haryana, India.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s