37 – Bale Sagala-gala

Seorang punggawa yang mabuk minum tuak dan jatuh di depan Kunthi,
Pinten, Arjuna, Tangsen, ketika pesta di Bale Sagalagala (karya: herjaka HS)

Prabu Kurupati raja Ngastina duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih Sangkuni, Dursasana, Durmagati, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi. Raja memperbincangkan rencana pembagian negara Gajahoya. Patih Sangkuni mengusulkan agar para Korawa menyiapkan Bale Sagalagala. Rumah itu supaya dibuat dari bambu dan diberi obat supaya mudah terbakar, dan diberi sumbu pada empat sudut kayu penyangga. Setelah siap dipakai, Kartamarma supaya mengundang para Pandhawa. Setelah selesai perundingan, raja masuk istana, bercerita kepada permaisuri.

Para Korawa menghadiri di luar istana. Patih Sangkuni membagi tugas, Kartamarma ditugaskan mengundang para Pandhawa. Dursasana, Durmagati, Citraksa dan Citraksi ditugaskan mendirikan Pesanggrahan.

Kunthi dihadap oleh Puntadewa, Bima, Arjuna, Pinten dan Tangsen. Tengah mereka berbincang-bincang Kartamarma datang, mengundang kehadiran para Pandhawa di Pesanggrahan untuk menerima bagian negara. Para Pandhawa berangkat ke Gajahoya. Kunthi dan para panakawan mengikutinya. Para Pandhawa datang di Ngastina, kemudian berangkat ke Bale Sagalagala

Warga Korawa dan Pandhawa bersidang di Bale Sagalagala. Bima keluar dari Bale, kemudian didatangi oleh Bathara Narada. Bathara Narada memberi tahu, bahwa ada binatang aneh, Bima disuruh mengikutinya. Bathara Narada kembali ke Kahyangan, Bima kembali ke Bale Sagalagala.

Prabu Kurupati bermain dadu dengan Puntadewa. Puntadewa amat senang, kemudian Kurupati mengajak bertaruhan. Kurupati akan menaruhkan bagian negaranya, Puntadewa akan menyerahkan hidupnya. Kurupati kalah, Patih Sangkuni berbuat curang, lalu dimarahi oleh Kunthi. Patih Sangkuni pergi, para Korawa menjamu minuman keras. Pandhawa ikut minum, kecuali Bima. Patih Sangkuni menyuruh agar Bale Sagala-gala dibakar segera. Bale Sagalagala terbakar, para Korawa menyelamatkan raja Kurupati. Bima cepat-cepat menyelamatkan ibu dan adik-adiknya. Garangan Putih datang, Bima dan saudara-saudaranya mengikutinya. Mereka masuk ke bumi. Kurupati mengira, bahwa Pandhawa telah mati terbakar.

Sang Hyang Anantaboga yang tinggal di Saptapertala sedang dihadap oleh Dewi Nagagini. Dewi Nagagini bercerita tentang mimpinya. Ia bertemu dengan kesatria bernama Bima. Sang Hyang Anantaboga sanggup mencarikannya, lalu pergi meninggalkan pertapaan. Di tengah perjalanan bertemu Kunthi dan para Pandhawa. Mereka diajak ke Saptapertala dan mereka mau juga. Bima diambil menantu oleh Sang Hyang Anantaboga, kawin dengan Nagagini.

Kunthi, Arjuna, Tangsen dan Pinten meninggalkan Saptapertala. Arjuna dan panakawan disuruh mencari air untuk Tangsen dan Pinten. Arjuna berangkat mencari air ke sebuah sendang. Di sendang dilihat ada seorang wanita pengantin baru yang belum cinta kepada suaminya yang bernama Sagotra. Pengantin wanita itu diganggu oleh Arjuna, ia marah lalu mengadu kepada suaminya. Orang yang mengganggu supaya dibunuhnya. Sagotra sanggup, isterinya disuruh masak dahulu. Setelah masak, hidangan dijamukan kepada Arjuna. Sagotra berterimakasih, karena isterinya telah mau mencintainya. Sagotra kelak akan membantu Arjuna. Arjuna menyambut dengan senang hati. Arjuna kembali ke tempat adik dan ibunya.

Raja raksasa di negara Manahilan bernama Prabu Budawaka. Raja gemar makan orang. Ketika Bagawan Ijrapa akan dimakan, ia minta berpamitan kepada anak asuhnya yang bernama Bambang Irawan. Raja mengijinkan, Bagawan Ijrapa menemui Bambang Irawan. Bima datang dan diberitahu tentang nasib Bagawan Ijrapa. Bima sanggup dimakan oleh Prabu Budawaka. Bima di bawa menghadap raja, kemudian akan dimakannya. Raja Budawaka mati oleh Bima. Irawan mengucap terimakasih dan kelak sanggup membantu Bima bila terjadi perang. Mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Kunthi, Puntadewa, Tangsen dan Pinten menanti kedatangan Arjuna. Arjuna datang, kemudian disusul oleh kedatangan Bima. Mereka membawa buah tangan nasi dan lauk pauk. Mereka makan bersama, kemudian minum air sendang. Setelah minum semuanya mati, kecuali Semar. Semar marah, air sendang dikeringkan. Bathara Brama datang, minta agar Semar tidak mengeringkan air sendang. Semar mau tidak mengeringkan air sendang, asal semua yang mati dihidupkan kembali. Kunthi dan anak-anaknya hidup kembali. Arjuna diberi pusaka bernama Brahmastra oleh Bathara Brama. Kemudian Bathara Brahma kembali ke Kahyangan. Kunthi dan Arjuna disuruh ke Wukir Retawu. Sedangkan Puntadewa, Bima, Tangsen dan Pinten disuruh ke Wiratha dengan menggunakan nama samaran. Puntadewa bernama Wijakangka, Bima bernama Abilawa. Bima ikut pejagal bernama Walakas. Mereka berpisahan

Prabu Matswapati yang bertahta di negara Wiratha sedang duduk di atas singhasana, dihadap oleh Seta, Untara, Wratsangka dan Patih Nirbita. Tengah mereka berbicara datanglah Wijakangka menghadap raja, dan ingin mengabdi, Raja Matswapati menerimanya.

Para raksasa perajurit raja Manahilan datang, menyerang kerajaan Wiratha. Para putra raja ditugaskan melawan serangan musuh. Perajurit raksasa berhasil dimusnahkannya.

Raja Mastwapati mengadakan pesta kemenangan bersama para putra dan abdi kerajaan.

R.S. Subalidinata.
Mangkunagara VII Jilid VIII, 1932: 16-21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s