(78) Fajar Mulai Merekah

kidung-malam-78

Kunthi memakai pakaian brahmana ketika melakuan penyamarannya bersama anak-anaknya dihutan

Berangsur-angsur mendung kesedihan yang menggelayut di langit Pringgandani tersibak. Negara mulai tertata dan pulih kembali seperti sebelum Prabu Arimba meninggal. Atas kesepakatan ke enam adik-adik Arimba, yang terdiri dari Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa, Brajalamatan dan Kala Bendana, Arimbi sebagai saudara paling tua ditunjuk menggantikan Prabu Arimba untuk menjalankan pemerintahan Pringgandani.

Beberapa bulan Bima menjalani hidup dengan Arimbi di Pringgandani. Jika menuruti perasaan hatinya Bima ingin mendampingi Arimbi, setidak-tidaknya sampai dengan kelahiran anak yang dikandung Arimbi. Namun hatinya gundah juga mengingat bahwa Bima telah berjanji kepada Ibu Kunthi untuk tidak meninggaklkan saudara-saudaranya terlalu lama. Kegundahan hati Bima diungkapkan kepada Arimbi, dan disepakati untuk sementara waktu Bima kembali menemui Ibu Kunthi dan saudara-saudaranya di hutan Kamiyaka. Dan jika sampai pada saatnya bayi yang dikandung Arimbi lahir, Bima akan kembali ke Pringgandani.

Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, Bima telah sampai di hadapan Ibu dan saudara-saudaranya. Mendengar cerita bahwa pada akhirnya Bima diterima sebagai saudara tua oleh adik-adik Arimbi dan menjadi bagian dari Negara Pringgandani, Kunthi dan saudara-saudara Bima dipenuhi dengan rasa sukacita.

Pagi itu udara sungguh cerah. Kehangatan sinar mentari mampu menembus lebatnya dedaunan hutan Kamiyaka. Kunthi memandangi sepasang burung prenjak yang berkicau bersautan, tak henti-hentinya. Kicau sepasang burung Prenjak jantan dan betina tersebut selain membangkitkan suasana keceriaan alam semesta juga dapat dibaca sebagai pertanda alam bagi manusia.. Jika sepasang burung Prenjak tersebut berkicau di arah barat rumah, itu pertanda jelek, akan ada tamu yang mengajak bertengkar. Jika sepasang burung Prenjak tersebut berkicau di arah Timur rumah, itu pertanda jelek juga, karena akan terjadi kebakaran. Jika sepasang burung Prenjak berkicau mengitari rumah, itu pertanda baik, akan mendapat rejeki dari jerih payahnya. Jika sepasang burung Prenjak, berkicau bersautan di arah selatan rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu bangsawan yang berkendak baik. Jika sepasang burung Prenjak berkicau di arah utara rumah, itu pertanda sangat baik, akan ada tamu seorang guru memberi wangsit yang benar dan suci.

Benarkah akan ada tamu agung, seorang resi, pandita atau begawan yang datang di Hutan Kamiyaka ini? Dengan menengarai sepasang burung Prenjak yang tak henti-hentinya berkicau bersautan di sebelah utara rumah kayu ini. Jika benar pertanda tersebut, Kunthi tidak bisa memperkirakan siapakah sesepuh yang bakal datang. Karena selain Resi Bisma, Yamawidura, Begawan Abiyasa dan Semar tidak ada lagi orang yang dianggap agung dan suci. Namun apakah mungkin salah satu di antara empat orang agung tersebut datang ke Hutan Kamiyaka ini?

Semenjak peristiwa bale sigala-gala, Kunthi dan anak-anaknya sengaja mengasingkan diri menyamar sebagai orang sudra yang hidup menggembara dari hutan ke hutan. Kunthi menitipkan pesan kepada Kanana abdi setia Yamawidura yang berjasa membuat terowongan rahasia yang dipakai oleh Hyang Antaboga dan Nagatamala untuk menyelamatkan Kunthi dan Pandawa dari peristiwa Balesigala-gala. Pesan yang disampakai kepada Kanana adalah bahwa Kunthi dan anak-anaknya janganlah dicari untuk diajak pulang ke Panggombakan. Biarlah anak-anaknya terutama sikembar Nakula dan Sadewa melupakan trauma prahara Balesigala-gala.

Matahari telah bergeser condong ke ujung kulon, pertanda hari telah beranjak dari siang. Tamu agung yang dinanti Kunthi dalam hati belum juga datang. Seperti biasanya, setelah panas matahari berkurang, Arjuna selalu menyempatkan diri mengajari adiknya Nakula dan Sadewa untuk berolah senjata panah. Sedangkan Kunthi, Puntadewa dan Bima melihat dari kejauhan. Mereka cukup puas melihat kecerdasan dan ketrampilan Nakula dan Sadewa. Pada saat Kunthi melupakan pertanda yang dikabarkan kicau sepasang burung Prenjak di sebelah utara rumah, mendadak dari kejauhan, arah matahari tenggelam ada dua orang yang datang dengan langkah ringan, Mereka adalah Begawan Abiyasa dan pamomongnya yaitu Semar. Dapat dibayangkan betapa mengharukan pertemuan itu. Setelah bertahun-tahun mereka tidak saling berjumpa, sekarang bertemu di hutan yang kotor, beratap daun dan berlantai tanah. Namun satu hal yang disyukuri bahwa mereka berjumpa dalam keadaan selamat dan sehat walafiat.

Abiyasa adalah sosok mertua yang sangat dihormati Kunthi lebih dari Prabu Basukunthi ayahnya sendiri. Oleh karena kedatangannya di Hutan Kamiyaka yang tak dinyana sebelumnya sungguh membuat hati Kunthi dan para Pandawa merasa tentram dan damai. Kunthi sangat terharu atas usaha panjang yang dilakukan rama Begawan Abiyasa untuk menemukan dirinya dan anak-anaknya. Tidak Nampak keletihan yang disandang pada kedua orang tua tersebut. Wajahnya tetap ceria berwibawa dan suci.

Tentunya selain ingin mendapati menantu dan cucu-cucunya dalam keadaan selamat, ada hal khusus dan penting yang ingin disampaikan oleh Abiyasa dan Semar. Di ruang yang tidak begitu luas dengan diterangi oleh lampu minyak Begawan Abiyasa menyampaikan beberapa hal khusus kepada Kunthi dan Pandawa Lima.

“Kunthi dan cucuku Pandawa, semenjak peristiwa Balesigala-gala, Negara Hastinapura mewartakan kabar resmi, bahwa Kunthi dan Pandawa Lima telah mati terbakar, Hanya Yamawidura dan Kanana abdinya yang mengetahui keadaan kalian yang sesungguhnya. Namun keadaan kalian yang selamat dari peristiwa Balesigala-gala tidak diungkapkan oleh Yamawidura kepada Prabu Destarastra, dengan pertimbangan, agar para Kurawa tidak memburu kalian untuk dilenyapkan. Oleh karenanya aku sengaja tidak memanggil kalian untuk pulang di Panggomabakan. Tetapi tanpa sepengetahuan kalian, aku telah mengutus Semar untuk selalu memomong kalian dari kejauhan.

Namun saat ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan dirimu kepada kawula Hastinapura dan para Kurawa bahwa Pandawa Lima selamat tidak kurang sesuatu apa pun. Tentunya rakyat akan mengelu-elukanmu dengan gegap gempita. Dan meyakini bahwa kalian adalah titah terpilih yang diutus dewa untuk memayu hayuning bawana.”

“Kebetulan saat ini dibuka sayembara memanah di Cempalaradya,” kata Semar. “Bukankah ndara Arjuna adalah ahli panah yang mumpuni. Itu artinya bahwa ndara Arjuna mendapat kesempatan emas untuk memenangkan sayembara. Pada hal bagi siapa yang berhasil akan mendapatkan putri Prabu Durpada yang bernama Durpadi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s