(10) Kumbayana

Orang sakti bertubuh cacad itu telah mengangkat murid baru, Bimasena dan Harjuna, dan disusul Puntadewa, Nakula dan Sadewa. Dalam pernyataan awal mereka berlima berjanji akan selalu patuh kepada guru. “Ha, ha, ha, bagus-bagus! Aku tidak menyangka bertemu kalian berlima yang terkenal dengan sebutan Pandhawa Lima. Dengan suka hati aku bersedia menjadi gurumu”

Patih Sengkuni gusar. Orang asing yang berhasil mengambil Cupu Lenga Tala, telah mengangkat murid Pandhawa. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa Lenga Tala akan diberikan Pandhawa. Apalagi setelah mengetahui bahwa para Kurawa telah merebut paksa dari tangan Begawan Abiyasa. Namun sebelum kemungkinan paling buruk terjadi, Patih Sengkuni segera mendekatinya, dengan penuh hormat ia memperkenalkan diri. “Namaku Sengkuni, patih Hastinapura, dan yang berada di sekitar sumur itu adalah putra-putra raja. Jika diperbolehkan aku akan memanggilmu Kakang, seperti layaknya sebutan untuk saudara tua. Kebetulan Sang raja butuh guru sakti bagi putra-putranya. Untuk itu kakang, sekarang juga engkau aku ajak menghadap raja. Aku akan meyakinkan kesaktianmu, sehingga raja berkenan mengangkatmu menjadi guru resmi istana.”

Sebenarnya orang asing tersebut tidak membutuhkan murid, selain Pandhawa lima. Namun tawaran Patih Sengkuni perlu dipertimbangkan. Karena dengan menjadi guru istana, ia dapat memanfaatkan kekuatan dan kebesaran Hastinapura untuk tujuan-tujuan pribadi. “Baiklah Adhi Sengkuni, aku terima tawaranmu, asalkan anakku Aswatama dan Pandhawa lima boleh masuk ke istana untuk bersama putra-putra raja mendapatkan ilmu dariku.”

Sengkuni keberatan dengan syarat itu. Ia tidak suka Pandhawa tinggal di istana. Bahkan beberapa waktu lalu Patih Sengkuni berhasil membujuk raja untuk mengusir Pandhawa, dengan alasan bahwa Pandhawa telah menghasut rakyat untuk memusuhi raja. “Jika kalian keberatan dengan syarat itu, akupun keberatan untuk masuk istana. Maaf! Selamat tinggal! Ayo murid-muridku, ikutilah aku!”

“Adhuh celaka! Lenga Tala dibawa! Para Kurawa kejar dia!!”

Ketika Kurawa bergerak untuk mengejar mereka, tiba-tiba kabut tebal menghadang jalan. Orang sakti dan Pandawa lima lenyap di balik putihnya kabut.

Siapakah sesungguhnya orang sakti itu? Ia menuturkan riwayatnya kepada Pandawa Lima sebelum mengajarkan ilmu di Padepokan tempat tinggalnya.

Namaku Durna atau Kumbayana, artinya bejana air. Nama itu dipilih untuk mengingatkan peristiwa kelahiranku. Ketika ayahku bertapa, ia tergoda oleh seorang bidadari bernama Dewi Grahitawati, yang sedang mandi di telaga. Karena tidak kuasa menahan nafsu, maka air kama ayah jatuh ke telaga. Air kama itulah kemudian di tempatkan di dalam bejana air yang kemudian menjadi anak manusia, dan diberi nama Kumbayana.

Ayahku adalah raja di Hargajembangan, bernama Prabu Baratwaja. Sebagai anak tertua, aku disiapkan menjadi raja. Semula Hargajembangan merupakan kerajaan kecil, namun semenjak Rama Baratwaja menyimpan keris Pulanggeni pinjaman Begawan Abiyasa, guru Ramanda dari tanah Jawa, Hargajembangan menjadi sebuah negara besar. Kerajaan-kerajaan di bumi Atasangin tunduk kepada Hargajembangan. Aku tahu bahwa Ramanda Prabu berilmu hebat, namun menurutku kebesaran tahta Hargajembangan bukan karena kehebatan ramanda, melainkan karena kesaktian Pulanggeni. Bagaimana jadinya jika tanpa Pulanggeni? Apakah negara-negara Bumi Atasangin masih tetap tunduk dibawah Hargajembangan? Jika tiba saatnya nanti aku menggantikan Ramanda dengan Pulanggeni, tentunya akupun dapat menjadi raja besar. Tetapi aku heran, mengapa Begawan Abiyasa membiarkan keris Pulanggeni bertahun-tahun berada di Hargajembangan? Apakah di padepokannya masih tersimpan puluhan pusaka sekelas Pulanggeni. Betapa beruntungnya jika aku dapat bertemu dan berguru kepadanya.

Sore itu, Hargajembangan memamerkan ke kesuburannya. Tanaman padi umur lima pekan menghampar hijau bak permadani menyelimuti sebagian besar bumi Hargajembangan. Hingga sore merambat malam, para petani enggan beranjak, sebelum mereka mendengar gemericiknya air mengaliri tanamannya. Karena bagi mereka suara gemericik dari ujung petak sawahnya bagaikan kidung malam yang menghantar ke tempat peraduan, untuk berbaring tidur dalam kelegaan.

Jauh dipusat Kota, di malam itu juga, Ramanda Prabu memanggil aku dan adikku Sucitra. Rupanya ada hal yang begitu penting. Aku berdebar menghadapnya.

“Kumbayana, karena usia yang mendekati senja, kesehatanku semakin menurun, dan gampang lelah. Pada siapa lagi tahta kuserahkan, kalau bukan padamu. Oleh karenanya matangkanlah ilmumu untuk bekal menjadi raja.”

“Kapan Ramanda?”

“Lebih cepat lebih baik.”

Inilah saat yang kutunggu Dengan Pulanggeni aku akan menjadi raja besar, menguasai raja-raja di Bumi Atasangin. Namun belum reda getar suka-citaku, Ramanda Prabu mengambil keris Pulanggeni dan menyerahkannya kepada Sucitra “Kembalikan keris ini kepada Bapa Guru Abiyasa dan mohon doa restunya untuk penobatan Kumbayana.” Debar suka citaku berhenti seketika. Menyusul keringat dingin ketakutan. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s