(40) Paranggelung

kidung_malam40

Prabu Pandudewanata tidak menyadari bahwa perbuatannya memanah

sepasang Kijang merupakan awal sebuah bencana besar.

(diambil dari buku ’Dosa Pandu’ terbitan Kanisius 2005 )

Tidak beberapa lama dari peristiwa mukswa-nya Ekalaya dan Anggraeni, para prajurit dan sebagian rakyat Paranggelung sampai di sekitar tugu perbatasan. Mereka meyakini bahwa cahaya kemilau warna-warni yang menakjubkan itu berasal dari tempat ini, tempat raja dan prameswari berhenti. Namun mereka amat kecewa, karena tidak mendapatkan Ekalaya dan Anggraeni. Lalu ke mana perginya sang raja serta permaisurinya?

Perlu diketahui bahwa sejak Ekalaya meninggalkan cepuri Keraton diikuti Dewi Anggraeni, Panglima perajurit jaga merasakan firasat yang tidak baik. Oleh karenanya ia bersama beberapa pasukannya, diam-diam mengawal dari kejauhan. Ketika sang Raja berhenti diperbatasan, Panglima beserta perajuritnya, berhenti pula di kejauhan. Namun tidak beberapa kemudian, mata mereka terbelalak melihat cahaya berwarna kebiru-biruan di atas langit, tempat Ekalaya dan Anggraeni berada. Cahaya tersebut kemudian berubah menjadi kehijau-hijauan, kekuning-kuningan dan jadilah cahaya putih yang terang benderang. Namun dicahaya putih tersebut mereka tidak melihat Ekalaya dan Anggraeni disambut para bidadari, seperti yang dilihat Harjuna dan Aswatama.

Sang Panglima meyakini bahwa di tempat perbatasan inilah, Sang Raja beserta permaisurinya yang amat mereka cintai telah mukswa mencapai nirwana. Ceceran abu yang berserakan ditempat itu dihayati sebagai abu dari jasad sang junjungan yang ditaburkan di bumi Paranggelung. Sebagai ucapan selamat jalan, masing-masing dari mereka, mengoleskan abu itu ke wajah nya yang basah oleh air mata.

Semenjak peristiwa itu negara Paranggelung tidak pernah berhubungan lagi dengan Sokalima. Namun kabar yang didengar, bahwa kemakmuran Paranggelung tak pernah surut. Semangat pelayanan penuh welasasih yang diteladankan Ekalaya, diwarisi oleh Raja penggantinya yang adalah keturunan Ekalaya

Beberapa tahun sepeninggal Ekalaya, rasa bersalah masih bergelayut di hati Durna. Ia mempunyai trauma yang sangat dalam. Tragedi Ekalaya telah dicatat sejarah, bahwa ada seorang guru besar tega membunuh murid yang berprestasi. Rasa bersalah semakin menenggelamkan semangatnya, tatkala, Aswatama, anak semata wayang, ikut kehilangan keceriaan hidupnya, semenjak ditinggal Anggraeni dan Ekalaya.

”Dhuh Dewa, Dewa…, dengan apakah aku harus menebus kesalahan besar dalam tugasku sebagai guru? Apakah harus dengan karma? Tidakah ada jalan lain selain melalui hukum karma? Jika demikian, artinya bahwa pada saatnya aku akan mati oleh muridku sendiri? Dhuh Jawata Agung, ampunilah kesalahanku, dan hindarkanlah aku dari hukuman karma.

Walaupun diakhir hidupnya Ekalaya tidak pernah mengucapkan kutukan atas Sang Guru Durna, Bayang-bayang Ekalaya selalu hadir pada setiap murid Sokalima. Sehingga ketakutan akan sebuah kematian ditangan muridnya tidak pernah dapat dihapuskannya.

Lain di padepokan Sokalima lain pula di Hastinapura. Di padepokan sokalima masalah yang dihadapi selalu berkisar antara guru dan murid. Sedangkan di Hastinpura masalah yang terjadi adalah tahta dan kekuasaan. Dua keluarga besar yaitu keluarga Pandhawa dan Keluarga Kurawa sama-sama merasa paling berhak atas tahta Hastinapura. Dasar yang dipakai oleh keluarga Pandhawa adalah bahwa negara Hastinapura sebelum diperintah oleh Destarastra seperti sekarang ini, yang menjadi raja adalah ayahnya yang bernama Prabu Pandudewanata. Seperti telah didengar dari saksi sejarah rakyat Hastinapura, bahwa di jaman pemerintahan Pandudewanata, negara Hastinapura gemah ripah lohjinawi, subur makmur sejahtera berkelimpahan. Namun pada saat puncak kejayaan, tragedi menimpa sang raja. Di hutan perburuan, Prabu Pandu memanah sepasang kidang yang sedang berpasihan. Kidang betina lari ketakutan meninggalkan Kidang jantan yang mati ditembus oleh panah Pandu. Keanehan terhjadi, bangkai Kidang berubah wujud menjadi seorang Resi, Kimimdama namanya. Ia marah kepada Pandu yang telah merampas paksa kebebasan dan kenikmatannya bersama isteri satu-satunya yang amat dicintai. Kemarahan besar dan kesedihan yang mendalam itulah nyang kemudian munculmenjadi sebuah kutukan.

“He Prabu Pandu, engkau seorang raja yang bodoh!“ Kata Resi Kimindama. Sorot matanya tajam penuh kemarahan. “Apakah engkau tidak pernah merasakan betapa nikmatnya menjadi seekor kijang, berpasihan diatas rumput hijau yang jadi makanannya dan di pinggir sendang yang jadi minumannya? Oo,… Pandu, Pandu, dengan paksa engkau telah merenggut kenikmatan sakral anugerah Hyang Widi Wasa yang sedang dinikmati sepasang suami istri. Perbuatanmu itu pantas mendapat Kutuk DariNya yang memberikan kesemua itu. Ingat-ingatlah Pandu, bahwa engkau akan binasa sewaktu berpasihan dengan istrimu.”

Bagi Pandu kutukan Sang Resi Kimindama ibaratnya luka ditusuk gunting. Dua kepedihan terjadi dan dirasakan pada waktu yang bersamaan. Pertama, sebagai raja besar ia bersama kedua isterinya, Kunthi dan Madrim, belum dianugerahi anak. Kedua, ia akan mati pada berhubungan intim dengan isterinya.

Pandu ingin menebus kesalahannya. Hatinya gundah. Apapun akan ia lakukan agar terbebas dari kutukan Resi Kimimdama. Tahta dan kekuasaan menjadi tidak berarti. Setelah berembug dengan Kunthi dan Madrim, mereka sepakat untuk meninggalkan tahta Hastinapura dan menitipkan kepada Destarastra yang waktu itu menjadi Adipati di Gajahoya.

Pandhudewanata dengan didampingi oleh kedua isterinya, memutuskan untuk bertapa di Girisarangan, kompleks pertapaan Saptarengga, untuk mohon ampunan agar terhindar dari kutuk yang menimpanya. Namun sayang, walaupun akhirnya atas jasa Dewi Kunthi, Pandu mempunyai lima anak laki-laki yang dinamakan Pandawa, , toh kutuk Sang Resi tak pernah dapat dihindari. Di malam bulan purnama yang indah, Hyang Yama menjemput Pandu dan Madrim pada saat mereka sedang berpasihan.

Setelah Kini anak-anak Pandu sudah menginjak dewasa, tentunya Sang Prabu Destarastra akan segera mengembalikan tahta Hastinapura yang dititipkan Pandudewanata. Namun pada kenyataannya Destarastra tidak pernah berbicara masalah tahta kepada Kunti dan anak-anaknya. Bahkan ada usaha dari orang-orang terdekat raja untuk mengkukuhi tahta dan menyingkirkan Pandhawa.

Sejatinya Destarastra sendiri ikhas mengembalikan tahtanya kepada keponakannya, namun Dewi Gendari permasuri raja yang bekerjasama dengan Sengkuni, adik kandungnya yang menjabat Patih tidak rela kalau tahta diberikan kepada anak-anak Pandu, tetapi diberikan kepada anak-anak Destarastra. Alasannya adalah bahwa Destarastra merupakan pewaris yang sah, bukan Pandu. Karena Destarastra adalah anak sulung laki-laki dari raja sebelumnya Prabu Abiyasa.

Usaha untuk menyingkirkan Pandawa telah diawali ketika Kunthi dan Pandawa diusir secara halus dari kota raja Hastinapura dan dititipkan kepada Yamawidura pamannya di Panggombakan. Walaupun sudah tidak menjadi satu di kota raja, namun bagi Gendari dan Patih Sengkuni Pandawa masih menjadi ancaman nyata atas kelangsunga tahta Hastinapura. Terlebih lagi ketika Kurawa dan Pandawa berguru bersama di Sokalima, kemampuan Pandawa dalam menyerap Ilmu yang diberikan Pandita Durna berada di atas Kurawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s