(80) Pemuda Rupawan

kidung-malam-80

Sorak membahana ribuan manusia bergemuruh. Pohon-pohon beringin dan pohon-pohon Angsana di seputar alun-alun Cempalaradya tergetar karenanya. Beberapa daunnya berguguran, mengenai orang-orang yang berada di bawahnya. Bagaikan taburan bunga untuk menghormat pemuda rupawan yang telah berhasil melepaskan anak panahnya tepat ke titik sasaran.

“Tidak! Tidak! Aku tidak mau orang ini memenangkan sayemabara!” teriak Dewi Durpadi. Namun teriakan Dewi Durpadi tenggelam oleh gelombang suara gegap gempita. Tidak ada yang mendengar dan yang memperhatikan tingkah laku Durpadi. Yang menjadi pusat perhatian adalah pemuda rupawan yang dengan meyakinkan berhasil menarik busur pusaka dan melepaskan anak panahnya tepat ke sasaran.

Pemuda rupawan tersebut semakin jumawa menjadi pusat perhatian lautan manusia yang memenuhi alun-alun. Dengan tenang pemuda itu meninggalkan panggung kehormatan. Ia tidak memperdulikan penolakan Dewi Durpadi. Baginya dapat memenangkan sayembara merupakan kebanggaan tersendiri.

Dewi Durpadi yang sebelumnya menjadi satu-satunya pusat perhatian, kini tidak lagi. Satu-satunya pusat perhatian beralih kepada pemuda rupawan. Sejak melihat pertamakali, Dewi Durpadi tidak senang kepada orang sudra tersebut. Oleh karena ketika ia naik panggung kehormatan mengangkat dan menarik busur pusaka, Dewi Durpadi telah berteriak menolaknya. Namun pemuda rupawan tersebut sengaja tidak mendengarkan teriakan Dewi Durpadi. Anak panah tetap diluncurkan dari jemarinya yang halus. Dan hasilnya anak panah menancap tepat ke sasaran.

Suasana menjadi kacau. Orang-orang yang berada jauh dari panggung kehormatan menganggap bahwa sayembara telah selesai dan di menangkan oleh si pemuda rupawan. Namun bagi peserta sayembara yang berada di dekat panggung kehormatan mengetahui dengan jelas urut-urutan peristiwa. Bahwasannya Dewi Durpadi yang dijadikan hadiah sayembara sejak awal telah menolak pemuda rupawan untuk mengikuti sayembara. Namun pemuda rupawan itu nekat tetap menarik busurnya dan melepaskan anak panahnya ke sasaran yang telah disediakan. Oleh karenanya bidikan panah yang tepat mengenai sasaran tersebut dianggap tidak sah. Dalam situasi yang kacau tersebut Arjuna menghadang pemuda rupawan yang merasa tidak bersalah, pergi meninggalkan alun-alun Pancalaradya.

“Hei Ki Sanak berhentilah!” cegat Arjuna. Pemuda rupawan tersebut berhenti, dengan masih tetap menunjukkan ketenangannya. Orang banyak mengerumuninya. Arjuna mendekatinya dan berkata

“Engkau ini siapa? telah berani membuat kacau sayembara yang digelar oleh raja besar Cempalaradya.”

“Aku tidak membuat kacau. Aku mengikuti sayembara dan berhasil,” sanggah pemuda rupawan.

“Tetapi keberhasilanmu tidak sah, karena engkau tidak diperbolehkan ikut sayembara tetapi nekat.”

“Kenapa tidak boleh, itu tidak adil”

“Karena Sang Dewi Durpadi menolak orang sudra”

“ Aku tidak peduli apakah Dewi Durpadi mau menerimaku atau menolakku. Yang penting bagiku bahwa akulah satu-satunya orang di alun-alun ini yang dapat memenangkan sayembara.

Arjuna tidak dapat menerima kata-kata pemuda rupawan yang mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang dapat memenangkan sayembara. Karena sebelumnya Arjuna sangat optimis bahwa dirinyalah yang dapat memenangkan sayembara memanah. Karena semenjak wafatnya Ekalaya raja Paranggelung, satu-satunya orang yang dapat mengimbangi kemampuan Arjuna, tidak ada lagi orang yang dapat mengimbangi kesaktiannya dalam memanah. Apalagi Arjuna tahu bahwa busur pusaka negara Cempalaradya yang dibuat dari campuran besi dan tembaga tidak sembarang busur. Selain bobotnya ada kelebihan lain jika dibandingkan dengan busur-busur pusaka lainnya. Getaran enerjinya membuat orang yang mendekat tergetar hatinya. Oleh karenanya Arjuna berharap bahwa sebelum dirinya naik ke panggung sayembara belum ada orang yang mampu menarik busur pusaka. Namun perhitungan Arjuna meleset. Ada seorang pemuda rupawan yang dapat menggunakan busur pusaka dengan sempurna.

“Ki Sanak jangan dikira hanya engkaulah yang secara kebetulan mampu menarik busur pusaka dan memanahnya dengan tepat” kata Arjuna dengan nada ejekan”

Pemuda rupawan tersebut terbakar hatinya. Ia ingin menunjukkan bahwa kemampuan memanahnya tidak secara kebetulan. Maka dengan amat cepat ditarikanya busur yang ada di genggamannya mengarah ke langit.

Sebentar kemudian orang banyak yang mengerumuni tercengang dibuatnya. Ada ratusan burung sriti jatuh tertembus panah.

Arjuna yang masih muda panas hatinya, busur yang ada pada genggamannya ditarik kuat-kuat untuk kemudian dilepaskan. Orang-orang dialun-alun semakain takjub menyaksikan kehebatan panah Arjuna. Ribuan anak panah keluar dari busur Arjuna. Suaranya seperti kombang mengarah ke pohon angsana di pinggir alun-alun. Sebentar kemudian pohon itu gundul tinggal rantingnya. Sementara daunnya berguguran ke tanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s