Hinaan dan Perjuangan

Sejak kejadian itu, Adirata semakin yakin dengan kemampuan anaknya. Ia yakin anaknya memang benar-benar tidak mempan senjata. Ia yakin anaknya akan mampu menjadi ksatria sakti mandraguna di bumi Kurusetra ini dan tentu saja mampu mengangkat harkat dan martabatnya di istana. Hal inilah yang memotivasinya untuk berani mendaftarkan Basusena, anaknya berguru pada Resi Drona. Meskipun ia tahu, hal itu tidak mungkin. Karena ia bukan dari kaum ksatria.

Namun demi melihat kelebihan yang dimiliki anaknya, hari itu ia membawa Basusena menuju Kaputren Kurusetra. Ia yakin dapat meyakinkan Resi Drona agar bersedia menerima Basusena menjadi muridnya.

Alun-alun Kaputren.

Seperti biasa alun-alun ini selalu dipenuh anak-anak seusia Basusena. Mereka sedang melakukan latihan ilmu kanuragan. Memasang kuda-kuda. Belajar memukul. Menendang. Dan bahkan ada yang mencoba meloncat. Terbang! Basusena terkagum-kagum dengan kemampuan mereka. Dalam permainan tempur yang biasa ia mainkan dengan teman-temannya, ia tidak pernah bisa terbang. Teman-temannya pun tidak. Basusena semakin bersemangat untuk berguru di Kaputren itu. Ia berlari kecil mendahului Ayahandanya dan berdiri di depan barisan anak-anak yang sedang berlatih. Tidak terlalu banyak anak-anak disini. Hanya… kurang lebih sepuluh orang. Basusena memperhatikan anak-anak yang sedang berlatih satu per satu. Yang paling menarik perhatiannya adalah seorang anak bertubuh gempal dan tinggi besar. Ia tidak gemuk tetapi tubuhnya memang besar. Sepertinya ia cocok dijadikan teman bermain tempur. Enak sekali menghantam tubuhnya yang gempal dan besar itu. Ada dua anak lagi yang menarik perhatiannya. Dua anak itu kembar. Mereka tampak lebih pendiam dibanding dengan anak gempal dan seorang anak lagi disamping sigempal itu. Basusena semakin tak sabar ingin ikut berlatih dengan mereka. Ia ingin memperlihatkan bagaimana ia dapat mengalahkan mereka. Seperti ia mengalahkan teman-teman bermainnya.

“Basusena. Kemari, nak!!” ayahnya memanggil.

Basusena cepat menoleh kearah datannya suara dan berlari kecil mendapatkan ayahnya sedang berbicara dengan Resi Drona. Resi Drona adalah salah seorang guru Ilmu Kanuragan yang terhebat di Kurusetra.

“Ini Basusena, anak hamba, Resi.” Kata Adirata sambil membungkuk.

“Wah, sepertinya engkau sudah yakin bahwa aku akan menerima anakmu Adirata. Sehingga engkau mengenakan pakaian perang padanya”

Adirata tidak menjawab. Ia hanya mengangguk.

“Adirata. Engkau tahu aturan, bukan? Di perguruanku ini hanya anak-anak Ksatria yang boleh berguru. Lainnya. Tidak! Sedangkan engkau Adirata, hanya abdi dalem dari kaum rendahan. Engkau cuma kusir. Maaf Adirata, aku tidak bisa menerima anak kusir ini.” Jawab Resi Drona disambut gelak tawa anak-anak yang berbaris di depan mereka.

“Anak kusir nggak boleh disini. Lebih baik dia memandikan kuda kami untuk jalan-jalan.” Sahut seorang anak dari arah belakang Basusena.

Basusena menoleh kearah datangnya suara. Disana seorang anak berdiri dengan sombong menyilangkan tangannya didepan dada dengan sebuah senyum yang mengejek. Disampingnya anak yang berbadan gempal juga juga memandanginya dengan senyum yang tak kalah menyakitkan. Hati Basusena sangat panas. Disebut anak kusir. Disebut bukan anak ksatria.

Basusena mengepalkan genggaman tangannya. Ia sedang menahan gejolak emosi didalam dadanya. Ingin rasanya ia melumat mulut anak yang baru saja menghinanya. Namun tangan Ayahandanya memegang pundak memberi tanda agar bersabar.

“Resi. Tolong dengarkan saya. Resi memang benar. Saya hanyalah abdi dalem rendahan. Seorang Kusir Istana. Tapi saya berani jamin, anak saya memiliki potensi besar yang tidak akan mengecewakan Resi.” Adirata memohon. Kali ini ia bersimpuh di depan Resi Drona. Basusena terkejut melihat Ayahanda yang dicintai dan dihormatinya itu bersimpuh di depan orang yang menghinanya.

“Adirata. Setiap orang pasti membanggakan anaknya dan mengatakan bahwa anaknya memiliki potensi yang luar biasa. Tapi peraturan tetaplah peraturan Adirata. Aku tidak bisa menerima anakmu. Pergilah. Aku harus kembali bekerja. Lihat, anak-anak itu sedang menungguku.”

Merasa usahanya tidak mungkin lagi berhasil. Adirata akhirnya bangkit berdiri dan menarik nafas panjang. Ia membungkuk sebentar yang dibalas dengan bungkukan lemah dari Resi Drona. Kemudia Adirata mundur beberapa langkah dan berbalik pergi dari alun-alun kaputren diikuti oleh Basusena.

“Apa yang kau lakukan disini, wahai anak kusir?! Pergilah cari makan untuk kuda-kuda kami!”

Masih anak yang tadi yang bersuara. Basusena melirik tajam kearah anak yang berdiri dengan sombongnya. Akan kubalas, suatu saat. Bisik Basusena dalam hati.

“Arjuna! Hentikan kata-katamu!” Resi Drona bersuara.

Arjuna. Arjuna… ya, arjuna. Akan kuingat namamu. Arjuna. Bisik Basusena dalam hati sambil meninggalkan langkah terakhir di halaman Kaputren mengikuti langkah ayahandanya.

Dalam hati Adirata menangis. Ia tahu, anaknya pasti kecewa. Kecewa karena gagal masuk perguruan itu. Juga kecewa karena ayahnya hanyalah seorang kusir istana.

****

Hari demi hari berlalu sedemikian cepat. Kedamaian tetap melindungi negeri Kurusetra. Meskipun terjadi beberapa kesenjangan social tapi hal itu tidak menimbulkan hal yang dapat merusak tatanan Negara. Barangkali memang demikianlah sudah diatur dari politik dan management kenegaraan Kurusetra.

Sejak kejadian di alun-alun kaputren itu. Basusena memperlihatkan sedikit perubahan pada tingkah lakunya. Ia menjadi anak yang sombong dan ankuh terhadap teman-temannya. Namun juga menjadi anak yang sangat berhati lembut yang suka memberi dan membantu kesulitan teman-temannya. Ia angkuh dan sombong dan menyebut dirinya sebagai pemimpin dari anak-anak kusir. Ia juga berhati lembut yang sangat dermawan, ia suka memberi makan pengemis dan anak-anak yang kurang bernasip baik meskipun dirinya sendiri belum makan. Ia rela memberikan mainan kesayangan satu-satunya kepada teman yang lebih membutuhkan. Pernah suatu hari seluruh anggota keluarganya tidak makan oleh karena semua makanan yang dimasak Ibundanya ia berikan kepada para pengemis di Ibu kota. Ia tidak tega melihat mereka kelaparan di jalan-jalan. Begitu katanya ketika ditanya oleh ayahandanya mengapa ia melakukan itu semua.

Kini ada sebuah kebiasaan Basusena yang membuat heran Ibundanya. Setiap pagi ia permisi pergi dan baru pulang ketika matahari hendak terbenam. Malam harinya setelah makan malam Basusena latihan di belakang rumah. Ia melakukan gerakan-gerakan teknik menendang, teknik memukul teknik menghindar dan lain sebagainya.

Suatu pagi.

“Bunda, Basusena mohon pamit.” Sambil memeluk Ibundanya.

“Basusena, sebenarnya kamu pergi kemana setiap hari? Apa kamu berguru pada seseorang?” tanya Radha penasaran.

“Tidak, Bunda. Basusena tidak berguru. Basusena hanya meniru.”

“Maksudmu?”

“Maaf Bunda. Anak Kusir seperti Basusena tidak boleh berguru di Istana. Oleh karena itu, Basusena hanya bisa melihat mereka latihan dan mengingat-ingat setiap gerakan yang diberikan oleh Resi Drona dan beru bisa mempraktekannya di rumah” ujar Basusena.

Mendengar itu Redha terharu. Ia memeluk anaknya erat.

“Maafkan Ibunda dan Ayahanda ya, nak.”

“Ibunda dan Ayahanda tidak bersalah. Memang sudah beginilah takdir yang harus kita jalani. Tenang saja Bunda, Basusena akan menjadi seorang ksatria.” Kata Basusena mantap.

Radha hanya bisa menganggukan kepala dan mengecup kening anaknya. Setelah itu Basusena membungkuk hormat dihadapan Ibunya dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya.

Ia menyusuri jalan keraton menuju alun-alun. Setibanya dialun-alun ia mulai berjalan perlahan dan menuju sebuah pohon beringin yang pendek dan lebat di sudut tembok istana. Dari sana ia bisa mengawasi jalannya latihan tanpa sepengetahuan siapapun. Segala gerakan dan setiap kata-kata dari Resi Drona ia catat dan ingat baik-baik dalam pikirannya. Tidak satu katapun ia lupakan. Tidak satu gerakanpun ia lupakan. Semua tersimpan rapih dalam ingatannya.

Namun hari ini ada yang beda dengan latihannya. Kali ini mereka membawa.. busur dan anak panah!

“Setiap lengan yang memegang busur panah harus kuat, tidak boleh kendor sedikit pun!” kata Resi Drona.

“Setelah anak panah disangkutkan pada busur, tarik kuat ke belakang. Pusatkan pikiran dan pandangan kalian pada satu titik sasaran. Usahakan jangan tangan yang memegang busur jangan bergerak saat kalian melepas anak panah”

“Lepaskan!”

Wus..!

Wus..!

Wus..!

Kurang lebih sepuluh anak panah melesat kesasaran masing-masing. Sebuah papan bulat yang ditengah-tengahnya berwarna merah, bulat.

Tep!

Tep!

Tep!

Suara anak panah menancap di papan sasaran. Ada yang dipinggir papan. Ada yang tidak mengenai papan. Ada yang mengenai pinggiran warna merah. Dan ada juga yang mengenai tepat ditengah bulatan warna merah. Hal itu mengejutkan hati Basusena. Ia terkagum dengan kamampuan anak itu. Aku tidak boleh kalah. Bisiknya dalam hati.

“Bagus Arjuna. Bidikanmu tepat sasaran.!”

Semua anak bertepuk tangan.

“Kita mulai lagi!” kata Resi Drona.

Sehari itu Basusena memperhatikan anak-anak itu berlatih memanah. Rata-rata mereka sudah bisa memanah, Arjuna memiliki keterampilan yang lebih. Ia jauh lebih pandai dari yang lainnya. Ya, Arjuna. Anak yang telah menghinanya. Anak yang telah merendahkannya. Suatu saat pasti kubalas hinaanmu itu Arjuna. Bisiknya dalam hati.

Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba Arjuna melemparkan pandangannya ke arah beringin pendek tempat ia bersembunyi. Jantungnya berdegub keras. Celaka, aku ketahuan! Bisiknya dalam hati. Dan benar, Arjuna segera mengarahkan busur dan anak panahnya ke arah Basusena. Basusena yang masih duduk dibalik pohon beringin menunggu apa yang akan terjadi dengan hati berdebar kencang.

Melihat Arjuna mengarahkan panahnya ke sasaran lain, anak-anak dan Resi Drona memandang kea rah Arjuna dan memperhatikan apa yang dilakukan anak itu.

Anak panah melesat cepat ke arah Basusena. Memotong beberapa daun beringin besar ditengah alun-alun yang terjuntai kebawah.

Zep!!

Arjuna menatap pohon beringin kecil tanpa berkedip. Ia sendiri tidak tahu pasti panahnya mengenai sasaran atau tidak. Demikian juga anak-anak yang lain. Semua menanti dengan tatapan mata yang tidak lepas dari pohon beringin kecil itu dengan penuh tanda tanya.

Tiba-tiba Basusena berdiri dari balik beringin itu dengan anak panah di telapak tangannya. Dan tiba-tiba Basusena meleparkan anak panah itu ke arah Arjuna. Arjuna terkejut, ia hampir tidak bisa mengelak namun sebuah tangan bergerak cepat menangkap anak panah itu. Arjuna tidak menyangka orang itu bisa melemparkan anak penah sedemikian kuat dan cepat ke arahnya.

“Siapa anak itu? Sepertinya ia tidak asing”

“Dia putra Adirata.” Kata Resi Drona yang sambil mengembalikan anak panah yang ditangkapnya. Sedangkan Basusena telah pergi melarikan diri dari tempat persembunyiannya.

“Izinkan kami mengejarnya Guru,” kata anak yang berbadan gempal dan padat.

“Tidak. Jangan Bimasena. Biarkan dia pergi. Dia tidak melakukan kesalahan apapun, dia hanya memperhatikan kita latihan”

“Hari ini cukup disini, anak-anak. Besok kita lanjutkan lagi.” Kata Resi Drona yang disambut helaan nafas lega anak-anak. Mereka serempak membungkuk hormat yang dibalas dengan bungkukan pelan Sang Guru kemudian anak-anak itu membubarkan diri pergi ke tempat masing-masing.

Sementara itu, Basusena terus berlari meninggalkan Ibu kota dan terus keluar kota. Ia berusaha untuk meninggalkan tempat itu jauh-jauh sebelum mereka mengejar. Tiba diperbatasan kota ia berbelok ke kiri menuju sebuah hutan. Ditepian hutan Basusena menghentikan larinya. Ia terengah-engah dan menoleh kebelakang. Yakin tidak ada yang mengikuti, ia menghela nafas panjang dan duduk dibawah pohon rindang. Basusena mengatur nafasnya perlahan-lahan hingga mulai tenang. Belum lagi ketenangan dan tenaganya pulih, Basusena dikejutkan dengan mendaratnya sebuah anak panah berwarna hitam di depannya. Ia berdiri dan bersiaga. Memasang kuda-kuda seperti yang telah ia latih selama ini. Tiba-tiba beberapa bayangan berkelebat dari atas pohon dan mendarat di hadapannya, mengepungnya. Basusena terkejut bercampur takut. Tapi sebagai seorang laki-laki ia tidak boleh takut, apalagi memperlihatkan ketakutannya. Maka Basusena berdiri dengan sombongnya sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada.

“Raden, serahkan semua harta yang kau bawa!” teriak orang yang berdiri tepat didepan Basusena. Orang itu mengenakan pakaian seperti beberapa temannya. Serba hitam dan seluruh muka ditutupi dengan kain hitam juga, hanya mata saja yang kelihatan.

“Kalian maling, rampok atau apa? Aku tidak membawa perhiasan, harta atau apapun. Pergilah” jawab Basusena dengan nada sombong.

“Bocah, sudah bosan hidup ya? Tidak usah ngeyel, cepat serahkan anting-anting emasmu!” teriak yang disebelah kanan Basusena.

“Aku tidak bisa melepasnya.” Jawab Basusena dingin.

“Aaaah….!!!” Orang yang disebelah kiri Basusena berteriak berang dan menerjang. Basusena melirik ke arah kirinya, sebuah kaki besar melesat menuju kepalanya. Dan ..

Buk!

Basusena berdiri membelakangi orang yang menyerangnya, siku tangannya melesak ke perut orang yang menyerangnya. Mata orang itu melotot. Terdengar lenguhan panjang dari mulutnya yang bertengger di bahu kanan Basusena. Melihat hal itu, teman-teman perampok lainnya menjadi gentar.

“Siapa anak ini. Gerakannya cepat sekali” bisik-bisik diantara mereka.

Tidak hanya disitu. Basusena tiba-tiba memegang leher baju perampok dipundaknya dan dengan sekali sentakan, perampok itu berputar dan terbanting didepannya.

Buk!

Uuugh…

Melihat itu perampok di depannya mengarahkan busur panah dengan anak panah yang siap dilepaskan. Basusena bergetar. Ia takut jangan-jangan ia tak mampu menangkis atau menangkap anak panah itu atau bahkan menghindar mengingat jaraknya hanya beberapa langkah dihadapannya. Namun demikian, Basusena tetap bersikap tenang.

Wuszz..!

Anak panah melesat. Jauh lebih kuat dan cepat dibandingkan anak panah Arjuna tadi. Namun cahaya anak panah itu masih bisa ditangkap oleh mata Basusena. Ia hanya menggeser posisi berdirinya ke arah kanan. Dan anak panah itu berlalu tepat disebelah kiri kepalanya. Melihat hal itu, para perampok semakin berang. Semaua mencabut anak panah dan mengarahkannya ke Basusena. Empat anak panah sekaligus! Bisakah ia menghindarinya?

Wuzz!

Empat anak panah melesat bersamaan seolah ingin melalap tubuhnya mentah-mentah. Basusena dapat melihat empat cahaya melaju cepat ke arah beberapa bagian tubuhnya. Satu cahaya ke arah kepala, dua ke dada dan satu lagi ke perut. Dengan cepat Basusena memutar tubuhnya ke kanan, empat anak panah itu melesat tipis disisi sebelah kiri tubuhnya. Belum lagi Basusena mengambil nafas, sebuah kilatan cahaya kembali menderanya tepat dikepala. Ia merunduk menghindari anak panah yang tiba-tiba itu. Sedang ia merunduk, dari arah bawah ia sudah disambut oleh kilatan lain, refleks Basusena melentingkan tubuhnya kebelakang membuat gerakan salto kebelakang sehingga anak panah itu hanya lewat diatas perutnya. Ia segera membenahi kuda-kudanya dengan deguban jantung yang tak karuan. Tidak bisa seperti ini. Bisiknya dalam hati. Jika aku terus menghindar aku bisa celaka. Maka dengan cepat ia melesat ke arah pohon besar disampingnya dan menggunakan pohon besar itu sebagai pijakan pertama untuk penyerangannya ke kawanan perampok yang mengeroyokya. Para perampok yang tidak menyangka mendapat serangan balik itu tidak sempat memasang anak panah pada busurnya, dan..

Buk!

Perampo pertama ambruk dengan mukanya yang merembeskan darah dari mulut.

Buk!

Perampok kedua terpental beberapa meter dan membentur semak belukar dan pohon besar.

Buk!

Perampok ketiga melenguh panjang memegangi perut dan bersandar pada pohon dibelakangnya.

Buk!

Perampok ke empat terjungkal berkali-kali dan setelah itu tidak bergerak lagi.

Melihat apa yang telah dilakukannya, Basusena bertambah percaya diri. Ia tersenyum bangga. Kemudian ia mengambil busur dan anak panah milik salah satu perampok.

“Ampun.. maaf Raden. Jangan bunuh kami.” Mohon salah satu perampok.

“Tenang saja, paman. Aku tidak akan membunuh kalian. Malah aku berterimakasih karena telah membantuku mempraktikan semua yang kulatih.” Jawab Basusena sambil tersenyum sombong.

Basusena memandang keatas. Ke arah buah pohon besar disampingnya. Jauh diujung atas pohon terdapat sebuah buah yang menggantung bebas. Ia membidikan panahnya ke arah buah itu. Dan

Wusss!

Tep!

Anak panah Basusena tepat menembus buah itu yang menyebabkan buah itu terlepas dari tangkainya. Buah itu melayang jauh terbawa ke lintasan anak panah Basusena. Basusena tersenyum puas. Perampok yang melihat hal itu tambah ketakutan disamping kaki Basusena yang baru berumur Lima belas tahun.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s