Karna

Sejak kejadian itu, Basusena tidak pernah lagi muncul di Alun-alun Kaputren. Ia juga jarang keluar rumah dengan teman-temannya sesama anak Kusir. Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk berlatih dibelakang rumah atau di hutang di luar kota.

Suatu hari Adirata mendapatkan libur dari Prabu Dretarasta. Ia mengajak Basusena untuk berburu ke hutan di luar kota. Hutan yang memang sudah dikenal baik oleh Basusena. Ditepi hutan mereka mempersiapkan semuanya. Mereka mulai bergerak memasuki hutan dan mencari setiap binatang yang ada. Basusena berjalan dibelakang Adirata yang telah mempersiapkan anak panah di busurnya. Kira-kira ditengah hutan, mereka melihat kawanan rusa tengah minum ditepi aliran sungai kecil. Adirata memberi tanda pada Basusena untuk berdiam diri sementara dirinya membidikkan anak panah ke seekor rusa. Dan

Seet!

Anak panah Adirata melesat tepat mengenai tubuh rusa betina. Namun Adirata terkejut karena ada dua ekor rusa tergeletak. Mati. Ia melihat ke arah Basusena yang tersenyum di belakangnya.

“Anakku, dengan apa kau bunuh rusa itu?”

Basusena tersenyum dan memperlihatkan sebuah kerikil di tangannya. Adirasa heran bercampur kagum pada kehebatan anaknya.

“Apa kamu bisa menggunakan panah?”

Basusena tersenyum dan mengangguk. Adirasa memberikan busur dan sebuah anak panah pada putranya.

“Apa sasaranku, Ayahanda?”

Adirasa menoleh ke kanan dan kekiri. Ia berhenti pada aliran sungai kecil. Disana terlihat seekor ikan besar sedang berenang tenang ditengah sungai.

“Ikan itu sasaranmu, putraku.”

“Baiklah, Ayahanda. Apa imbalannya jika aku mampu memanah ikan itu?”

“Namamu, Karna.”

“Hahah… Ayahanda, apa bagusnya nama itu?”

“Karna artinya, Hebat, Terampil atau Mahir. Jika  kau berhasil membidik ikan itu. Engkau orang termahir yang ku kenal di Kurusetra”

“Hebat juga.”

Setelah selesai berucap, tanpa membidik lama Basusena melepas anak panahnya mengarah ke ikan di tengah aliran sungai kecil. Dan

Crep!

Ikan besar itu mengapung mati mengikuti aliran sungai. Basusena segera melesat menyambar ikan yang telah ditembus anak panahnya. Dan kembali mendarat di tepi sungai. Tempat dua ekor rusa menjadi mayat. Adirasa hanya termangu melihat kehebatan yang dipamerkan putranya.

Dan sejak itu. Nama Basusena seperti ditelan bumi, digantikan oleh nama Karna. Tidak ada yang mengenal nama itu. Kecuali Ayah dan Ibunya sendiri. Hingga bertahun-tahun kemudian dimana awal dari perseteruan itu dimulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s