Putra Kusir

Putra Kusir

Sepuluh Tahun kemudian.

Adirata, abdi Istana Kurusetra bekerja sebagai kusir Istana. Sudah menjadi tugasnya untuk mengantarkan semua kaum Ksatria di dalam Istana. Siang ini Adirata sedang istirahat di bilik rumahnya yang kecil dipinggiran Istana. Prabu Destarastra memang menempatkan Adirata di tempat itu supaya jika sewaktu-waktu diperlukan Adirata bisa cepat datang ke Istana. Sambil menikmati wedang jahe buatan Radha, istrinya, Adirata memperhatikan Basusena yang sedang bermain di pelataran rumahnya bersama anak-anak kusir lainnya. Seperti anak-anak lainnya, Basusena bermain permainan yang paling digemari oleh anak-anak Kurusetra. Permainan berperang. Dalam perhatiannya, Basusena selalu tampil sebagai anak yang tidak terkalahkan dalam permainan itu. Baik teknik berlari mengejar dan dikejar lawan maupun teknik melempar anak panah yang terbuat dari batang bunga alang-alang. Sejak Adirata menemukan anak itu di pinggir sungai Aswa, anak itu telah mengenakan pakaian perang, juga anting-anting ditelinganya. Dan yang membuat Adirata heran, pakaian itu tidak bisa dilepas dari tubuh Basusena. Namun demikian pakaian itu sepertinya bertumbuh mengikuti bentuk pertumbuhan tubuh Basusena. Banyak hal yang membuat Adirata terheran-heran melihat Basusena.

Pernah saat Basusena berumur dua tahun, Rada sedang menggendong Basusena sambil membuat wedang jahe dan ubi rebus. Tanpa sengaja wedang jahe yang baru mendidih itu mengenai tangan Basusena saat dituang ke dalam cangkir bambu. Namun yang ditakutkan kedua orang tua itu tidak terjadi. Tangan Basusena tidak mengalami cidera apapun. Basusena hanya menangis sebentar dan kemudian kembali diam dan tenang di pelukan Ibu (angkat)nya.

“Awas Basusena..!!”

Terdengar teriakan anak-anak, membuyarkan lamunan Adirata. Segera ia melihat kearah Basusena. Adirata masih sempat melihat sebuah anak panah  melesat cepat mengarah punggung Basusena. Basusena sendiri diam dengan mimik muka penuh tanda tanya kearah kawan-kawan bermainnya. Tak khayal lagi, anak panah itu tepat mengenai punggung Basusena. Adirata segera melompat dari tempat duduknya dan menghambur kearah Basusena.

Semua diam. Kawan-kawan sepermainan Basusena pun diam dengan mata melotot dan mulut sedikit terbuka. Termasuk Adirata. Panah yang mengenai punggung Basusena tergeletak ditanah, patah menjadi dua. Basusena meraba punggungya dan membalikkan badan. Ia memungut anak panah itu dan menghampiri Ayahnya dengan perlahan.

“Ayahanda, maafkan. Apakah Basusena melakukan kesalahan?” tanya Basusena sambil berjongkok ia menyerahkan anak panah kepada Ayahnya.

“Tidak anakku. Engkau tidak bersalah.” Sahut Adirata sambil memeluk anaknya. Kembali Adirata melihat sebuah keajaiban yang menimpa anaknya. Kali ini anak panah tidak bisa menembus kulitnya. Apa Basusena memang tidak bisa ditembus senjata? Ia jadi merinding membayangkan bagaimana jika anak panah tadi mengarah ke anak-anak yang lain. Tentu kejadiannya akan lain.

“Anak-anak. Untuk hari ini mainnya cukup ya. Ayo pulang ke rumah masing-masing!”

Anak-anak itu menuruti perkataan Adirata. Mereka takut, jangan-jangan ada anak panah lagi yang lain yang mungkin saja akan mengarah ke tubuh mereka.

“Ada apa kanda?” suara perempuan menyapa dari belakang Adirata.

“Ini Dina, ada anak panah yang nyasar. Mengenai tubuh anak kita. Tapi coba kamu lihat. Tidak terjadi apa-apa dengan Basusena.” Jawab Adirata sambil memperlihatkan anak panah yang telah menjadi dua kepada perempuan di belakangnya, Radha, Istrinya. Kemudian Radha memeluk Basusena dengan erat.

“Kamu gak apa-apa, nak?”

Basusena hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

“Anak panah dari mana itu, Kanda?”

“Sepertinya dari Kaputren. Lihat ukirannya. Ini adalah anak panah kerajaan yang biasa digunakan anak-anak Kurawa dan Pandawa berlatih memanah.”

“Itu bisa bahaya bagi anak-anak lain, Kanda. Kanda harus menemui Resi Drona, guru mereka. Beritahu agar berhati-hati berlatih. Karena anak panah mereka telah mengenai anak kita.”

Adirata tidak menjawab kata-kata Istrinya. Ia hanya membimbing Istri dan anaknya masuk ke dalam rumah.

“Kita ini hanya abdi rendahan, dinda. Mana mungkin kanda berani lancing dengan memberitahukan hal ini.”

“Tapi perbuatan mereka bisa membahayakan anak-anak yang tinggal disini, kanda.”

“Aku tahu. Aku akan coba bicara pada Resi Drona. Ia orang yang arif. Barangkali ia bisa mengerti.” Jawab Adirata sambil menghabiskan wedang jahe dibalai-balai rumahnya. Sedangkan Istrinya mengelus-elus kepala Basusena yang terdiam dan tampak berfikir sambil memandangi anak panah yang mengenainya.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s