Putra Surya

Dari atas sini semua tampak indah dan menawan. Pegunungan terhampar membiru seperti dinding kokoh yang memagari bumi Kurusetra. Sungai meliuk-liuk membelah rimba belantara menghantarkan airnya dari belahan gunung ke persawahan petani di kaki bukit. Kabut yang sebagian menutupi pegunungan dan lembah dibawah sana menambah keindahan bumi ini. Ditambah dengan nyanyian burung dan sinar matahari yang terhalang oleh awan tipis, membuat hati terasa enggan beranjak melewatkan ke-eksotisan bumi Kurusetra.

Namun keindahan ini seperti sama sekali tidak menyentuh hati Dewi Kunti. Ia duduk termenung dibalik jendela kamarnya sambil memandangi bumi Kurusetra. Sebuah kamar yang indah, penuh permadani dan intan permata pun sepertinya tak kan menggemingkan lamunannya.

Apa sebenarnya kesaktian ilmu Adityaredahya ini. Bisik Dewi Kunti dalam hati. Mengapa Resi Durwasa mewariskan kesaktian ini untuk ku hanya dengan alasan karena dia puas akan jamuanku yang ku suguhkan padanya kemarin. Apakah akan berguna bagiku atau sebaliknya? Dengan kesaktian ini aku bisa memanggil Dewa apa saja yang kuinginkan dan Dewa itu akan memberikan anugerah padaku. Jadi penasaran, anugerah apa yang akan diberikan padaku. Ah… barangkali jika aku memanggil Dewa Surya (Matahari) anugerah yang diberikan padaku akan hebat!

Dewi Kunti menatap matahari. Merapal mantera yang telah diberikan oleh Resi Durwasa. Sejenak Dewi Kunti terdiam, menunggu apa yang akan terjadi. Namun beberapa saat lamanya tidak ada tanda-tanda sesuatu akan terjadi. Rasa penasarannya semakin kuat. Kini dengan sungguh-sungguh ia menatap matahari dan kembali merapal mantera itu. Tetap. Tidak terjadi apa-apa.

Dalam hati Dewi Kunti mengumpat kesal. Apakah Resi Durwasa telah menipuku? Tidak mungkin, seorang Resi adalah orang yang suci. Tidak mungkin ia menipuku. Maka sekali lagi dengan niat yang sungguh-sungguh kembali Dewi Kunti menatap matahari dan merapal mantera. Sesaat angin, sungai, daun, pohon semuanya berhenti bergerak. Tidak ada suara yang terdengar. Tidak ada pergerakan yang terlihat. Waktu seolah berhenti. Dewi Kunti mulai ketakutan. Apa yang akan terjadi. Tanpa sadar ia memanjatkan doa kepada Sang Hyang Widi agar dirinya dilindungi dari segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Tiba-tiba cahaya matahari semakin terang memancar kearah Istana Kurusetra, ke arah jendela kamar Dewi Kunti. Terangnya menyilaukan mata. Dewi Kunti tak mampu lagi menatap matahari. Ia menutup matanya sambil merasakan terang yang menghangatkan seluruh tubuh dan ruangan kamar Istananya. Tak seberapa lama, terang itu mulai meredup. Dewi Kunti mulai berani membuka matanya.

Kini didepannya telah berdiri tegap sosok manusia yang seluruh tubuhnya bercahaya. Dewi Kunti berusaha menatap wajah sosok itu namun cahaya dari wajahnya sangat terang seperti pancaran sinar matahari. Maka sadarlah Dewi Kunti bahwa yang berdiri di depannya adalah Dewa Matahari. Hatinya berdebar, gembira sekaligus takut. Berdebar dengan apa yang telah dijanjikan oleh Resi Durwasa ternyata benar. Gembira bahwa Dewi Kunti pasti akan mendapat anugerah. Dan takut, anugerah apa yang akan di terimanya.

Segera Dewi Kunti berlutut menyembah Dewa Surya.

“Terimalah sembah hamba, Dewa Surya.”

“Kuterima sembahmu, Kunti. Terimakasih telah memanggilku. Sudah lama aku ingin mengutus puteraku untuk menjelajahi bumi ini. Baru sekarang aku mendapatkan kesempatan itu.”

“Maaf Dewa Surya, hamba tidak mengerti maksud kata-kata Dewa Surya.”

“Kunti, kunti. Engkau tahu, bahwa dengan merapal mantera itu dan menatap matahari artinya engkau telah memintaku untuk menanamkan janin anakku ke dalam rahimmu. Itulah anugerahku yang akan kuberikan padamu”

“Maaf Dewa Surya. Hamba tadi hanya penasaran saja ingin membuktikan ucapan Resi Durwasa. Hamba sama sekali tidak menyangka bahwa benar anugerah itu adalah seorang anak yang harus hamba kandung. Jika boleh, sudilah kiranya Dewa membatalkan anugerah itu. Lagi pula hamba masih perawan dan belum bersuami, apa kata rakyat Kurusetra jika melihat hamba ini hamil”

“Dewi Kunti. Anugerahku ini tidak ada seorangpun yang boleh menolak. Apalagi engkau Puteri Kurusetra. Jangan kuatir aku akan membantumu segera melahirkan anakku dan aku akan memulihkan keperawananmu setelah melahirkan anakku. Bersiaplah”

Belum lagi Dewi Kunti menarik nafas, setelah berucap kata yang terakhir, dari tubuh dewa surya kemudian keluar sinar putih keemasan yang bergulung dan masuk ke dalam perut Dewi Kunti. Dewi Kunti terkejut. Namun tak bisa berbuat apa-apa hingga gulungan cahaya putih keemasan itu hilang meresap di perutnya. Dia bingung. Sejenak dia tidak bisa berfikir dan memahami apa yang baru saja terjadi. Namun sesaat kemudian ada gejolak dari dalam perutnya, dari dalam rahimnya. Perlahan tapi pasti ia rasakan perutnya membesar dan ia bisa merasakan makhluk hidup dalam rahimnya. Ia mengandung bayi! Dan .. sebentar saja, Dewi Kunti merasakan kesakitan yang luar biasa.

“Aaaah… Sakit!”

Sosok tubuh Dewa Surya bergerak mendekati Dewi Kunti yang terbaring kesakitan di permadani lantai kamarnya. Ia memegang tangan Dewi Kunti dan tangan satu lagi memegang perut Dewi Kunti yang telah terlihat besar. Aneh. Rasa sakit itu hilang. Perlahan-lahan Dewi Kunti bisa merasakan makhluk hidup dari dalam rahimnya keluar. Penasaran ia mengangkat mukanya dan melihat makhluk hidup apa yang keluar dari dalam dirinya. Bayi! Benar seorang bayi laki-laki! Bayi yang sehat, gemuk, bersih dan kulitnya putih keemasan. Belum hilang keheranan Dewi Kunti, dari tangan Dewa Surya keluar sinar tipis yang perlahan merambat menuju pangkal pahanya. Apalagi ini? Bisik Dewi Kunti dalam hati. Ia merasakan ada pergerakan perlahan di kemaluannya. Dewi Kunti mulai takut.

“Jangan Panik, Kunti. Aku memulihkan keperawananmu. Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu.”

Dewi Kuntipun lega. Dia menghela nafas panjang. Semua telah selesai. Kini di depannya tergolek sosok bayi mungil yang bergerak-gerak lincah. Ia ingin sekali menggendong dan memeluknya. Namun ia heran, bayi ini telah bersih dari noda darah. Darah yang tadi berceceran di permadaninya juga sudah bersih seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Yang membuktikan bahwa yang baru saja telah ia alami adalah keberadaan bayi itu.

Dewa Surya! Kemana dia. Dia juga telah menghilang!

Dewi Kunti beranjak dari tempat duduk nya dan hendak meraih bayi mungil itu. Namun sebuah sinar perak keputihan tiba-tiba menyelimuti tubuh bayinya. Dan tak seberapa lama kemudian sinar itu perlahan menghilang, meresap ke dalam tubuh bayinya dan berubah menjadi sebuah pakaian yang menutupi bayi itu, juga anting-anting melekat di telinganya.

“Terimakasih Kunti, engkau telah membantuku mengutus putraku ke bumi Kurusetra. Jangan khawatir. Engkau tidak perlu repot mengurus dan melindungi putraku. Karena pakaian yang ku kenakan padanya akan mengurus dan melindunginya. Tidak akan ada senjata apapun yang dapat menembus kulitnya.” Terdengar suara Dewa Surya di telinga Dewi Kunti. Dewi Kunti hanya menunduk menyembah ke arah matahari.

Dewi Kunti berdiri menatap keluar jendela sambil menggendong erat putra Surya yang baru ia lahirkan. Segalanya telah menjadi normal sekarang. Sungai mengalir. Burung bernyanyi. Angin bergerak membawa daun-daun kering yang jatuh dari pohonnya. Dewi Kunti menarik nafas lega. Namun yang menjadi pikirannya adalah, bagaimana menyembunyikan bayi ini agar tidak diketahui oleh Ayah maupun Ibunya. Apalagi rakyatnya.

****

Angin dingin malam itu benar-benar menusuk hingga ke tulang. Apalagi usai hujan sore tadi menambah udara dingin pegunungan bumi Kurusetra menjadi basah. Suasana seperti ini menyebabkan orang malas keluar rumah. Terang saja, disegala penjuru bumi Kurusetra terlihat sepi. Kecuali prajurit-prajurit istana yang tegab berdiri di tempatnya masing-masing, memastikan keamanana Kurusetra tetap terjaga.

Dibalik kegelapan. Diantara pohon-pohon sesosok bayangan berlari cepat. Seluruh tubuhnya terbungkus kain hitam, termasuk mukanya. Ditangannya ia memeluk gendongan yang cukup besar. Seperti sudah mengenal hutan itu, ia terus berkelebat berlari dengan cepat. Menghindari kayu yang melintang. Melompat menghindari lubang serigala dan terkadang ia melompat dari pohon ke pohon lain. Ia menuju tengah hutan! Kecepatan larinya luar biasa. Tak seberapa lama, jarak yang biasa ditempuh sehari perjalanan itu dapat dijangkaunya. Ia tiba disebuah sungai besar di tengah hutan.

Sejenak sosok hitam itu melihat ke kanan, ke kiri, ke depan dan kebelakang. Memastikan tidak ada yang melihat atau yang mengikutinya. Ia mulai membuka kain penutup mukanya, juga gendongan di tangannya.

Dewi Kunti! Dan… bayinya.

Dewi Kunti melepaskan gendongannya dan mengambil bayi dari keranjang kecil yang tadi digendongnya. Ia memeluk bayi itu dan menciuminya sambil meneteskan air mata.

“Maafkan Ibu Radhea. Maafkan Ibu”

Dewi Kunti kemudian kembali memasukkan bayinya, Radhea ke dalam bungkusan kain hangat lalu memasukkannya kembali ke dalam keranjang. Dan bayi di dalam keranjang itu ia lepaskan kesungai besar tengah hutan Kurusetra. Perlahan tapi pasti, keranjang yang membaya Radhea hanyut mengikuti arus aliran sungai. Tidak ada suara dari dalam keranjang. Tangisan atau apapun. Seolah bayi itu sudah sangat paham apa yang dirasakan Ibunya. Tiba-tiba kilat menyambar dan disusul dengan suara halilintar yang menggelegar menggema ke seluruh hutan.

Dewi Kunti terkejut dan buru-buru menutup mukanya dengan kain hitam dan kembali melesat diantara pepohonan hutan Kurusetra.

Bersambung

One Response to Putra Surya

  1. Edy says:

    Lanjutannya dong gan please…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s