Raja Angga

Alun-alun kota Histanapura, Kerajaan Kurusetra penuh sesak oleh rakyat yang berkumpul menyaksikan pertunjukan ujian sekolah kerajaan. Resi Drona, guru kaum ksatriya memimpin langsung jalannya ujian tersebut. Alun-alun kota itu tampak berantakan. Batu-batu hancur, tembok keraton putih berlobang dan retak, debu-debu masih membumbung ke angkasa menggambarkan betapa hebat ujian yang baru saja diperagakan murid-murid Resi Drona. Dretarasta, Raja Kurusetra didampingi oleh permaisuri beserta para punggawa kerajaan dan Pendeta serta para Dewi, termasuk Dewi Kunti permaisuri Raja Pandudewanata terkagum-kagum menyaksikan kehebatan anak-anak mereka dari podium ksatrian.

Ditengah alun-alun limabelas anak muda terengah-engah berdiri diatas kuda-kuda yang tak lagi begitu kuat. Duryodana berdiri dengan kaki bergetar dan bertopang pada pedang besar yang ia tancapkan ke tanah. Dursasana, saudaranya berdiri tak jauh darinya juga dengan nafas yang tersengal-sengal dan memegangi dada yang berdenyut keras. Arjuna bersimpuh ksatria (satu kaki berlutut, satu kaki lagi ditekuk) dengan pakaian compang-camping. Tangan kirinya memegang busur panah dengan gemetar dan tangan kananya bersiap untuk meraih anak panah dipunggungya. Bimasena, berdiri kokoh dibantu gada besi yang ia jadikan penopang tubuhnya. Namun keringat mengucur deras dari tiap pori-pori tubuhnya, dadanya turun naik mengatur nafas. Yudhistira berdiri tegak, matanya terpejam nafasnya tenang namun dari sela-sela bibirnya merembes cairan merah yang kental bercampur keringat. Tak jauh dari mereka bertiga berdiri si kembar, Nakula dan Sadewa berdiri beradu punggung, masih dengan kuda-kuda yang kokoh. Namun dari pancaran mata mereka, mereka ingin mengatakan bahwa tenaga yang mereka miliki sudah mendekati batas terakhir. Sementara putra-putra ksatriya lainnya tidak jauh berbeda dengan keadaan mereka. Bahkan ada yang bersandar ditembok keraton putih dan ada juga yang terduduk layu. Keadaan mereka semua hampir sama, kumal, compang camping, kelelahan, kehabisan tenaga dan kekuatan. Semua kesaktian telah dikeluarkan untuk melalui tiap tahab ujian yang diberikan Resi Drona. Secara kasat mata, sulit sekali menentukan mana yang lebih unggul diantara kelimabelas putra ksatria itu. Namun Resi Drona tentu punya penilaian lain.

“Pertandingan terakhir!” suara Resi Drona membahana ke seantero alun-alun. Orang-orang yang menyaksikan pertunjukan ujian ini mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya. Sepertinya mereka tidak yakin bahwa kelimabelas putra ksatria itu mampu melanjutkan pertandingan. Namun diluar dugaan rakyat, kelimabelas putra kstaria itu dengan tangkas berkumpul di hadapan podium ksatrian, siap menerima titah dari sang guru.

“Siapkan busur dan anak panah kalian. Ujian terakhir ini adalah ujian memanah. Prajurit akan menembakan cakram kayu ke udara, tugas kalian adalah memanahnya.”

Para Putra ksatria segera menyiapkan busur dan anak panah di punggung mereka. Dan dengan sigap mereka telah kembali keposisi masing-masing bersiap untuk membidik sasaran yang akan dilepaskan dihadapan mereka.

Slung!

Terdengar bunyi keras dari arah podium ksatrian, bersama meluncurnya sebuah benda berbentuk piring yang terbuat dari kayu.

Set!

Set!

Set!

Lima belas anak panah meluncur ke udara, memburu cakram kayu itu.

Tep! Tep! Tep!

Namun hanya sebuah anak panah yang berhasil menancap tepat ditengah cakram itu. Yang lainnya hanya mampu menancap di pinggirannya saja. Seorang prajurit berlari kearah cakram yang telah jatuh ketanah dan menyerahkannya kepada Resi Drona. Dengan teliti Resi Drona membaca nama-nama yang tertoreh dengan huruf dewanagari dimasing-masing anak panah itu.

“Pemenangnya adalah Arjuna!” kata Resi Drona yang disambut sorakan meriah dari para rakyat yang menyaksikan adu tanding tersebut. Para ksatrian yang duduk di podium ksatrian juga bertepuk tangan mendengarkan siapa pemenang dari perlombaan terakhir itu. Namun berbeda dengan Duryodana dan Dursasana. Mereka tampak tidak senang dengan ucapan Resi Drona.

Resi Drona memberi isyarat kepada para muridnya untuk berkumpul. Dengan cepat para putra ksatria itu berkumpul di depan podium ksatrian.

“Saudara-saudara rakyat Histanapura. Hari ini, saya Resi Drona, guru para putra ksatria, dengan bangga mengumumkan bahwa, kelimabelas putra ksatria lulus dari perguruan Istana Kurusetra!”

“Hore…!”

“Hidup Raja… Hidup Permaisuri… Hidup Ksatria…” terdengar sorak sorai rakyat diiringi deru tepuk tangan yang meriah.

“Dan saat ini, dengan bangga saya umumkan bahwa murid terbaik perguruan Istana Kurusetra saat ini adalah, Raden Arjuna!”

“Horeee… hidup Raden Arjuna” sorak sorai rakyat terdengar lebih meriah demi mendengar dan melihat ksatria pujaannya merupakan murid terbaik kerajaan. Dimata Rakyat Raden Arjuna memang seorang Ksatria berhati lembut dan baik terhadap rakyat.

“Rupanya hanya seperti itu ujian di Istana?!”

Tiba-tiba terdengar suara yang lebih membahana dibanding suara Resi Drona. Semua orang saling pandang dan bertanya siapa yang berani bersuara seperti itu. Ke limabelas Putra Ksatria bersiaga ditempatnya. Sedang raja, permaisuri, dewi dan pendeta di podium ksatrian saling pandang, keheranan. Rakyat Kurusetra terdiam dan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Sudah tentu, orang yang berani lancang berbicara seperti itu akan dihukum mati. Hal ini membuat rakyat berkidik.

“Siapa? Harap tampakkan diri anda, jika anda seorang ksatria” jawab Resi Drona.

Tidak ada suara yang menjawab kata-kata Resi Drona. Namun tiba-tiba dari arah penonton, pasir dan debu beterbangan tergulung angin. Berputar-putar menuju kearah para putra ksatria berdiri. Tentu saja hal itu disambut oleh para putra ksatria dengan serangan yang tak kalah dahsyat. Serangan para putra ksatria yang menyambut gumpalan debu dan pasir, mempu menerbangkan bongkahan batu yang hancur dan tergulung dalam angin menghadang gumpalan debu dan pasir.

Bum!!!

Ledakan dahsyat terdengar begitu keras seolah mengguncangkan bumi dan merobohkan tembok keraton dan podium ksatrian. Debu dan pasir beterbangan menutupi pandangan mata. Butuh beberapa menit untuk menunggu udara kembali bersih. Ditengah-tengah alun-alun tak jauh dari kelimabelas putra ksatria bediri seorang pemuda. Ia tampan, dengan rambut terurai panjang sebahu tak beraturan yang berkibaran dipermainkan angin. Pemuda itu mengenakan pakaian zirah perang putih keemasan dengan anting-anting perang yang menambah ketampanan dan kegagahannya. Ia memegang busur panah berwarna hitam dan menyandang beberapa anak panah di punggungnya. Sementara itu, ke limabelas putra ksatrian terkejut melihat kenyataan bahwa serangan gabungan mereka tidak berpengaruh apa-apa terhadap orang yang menyerang mereka. Boleh jadi karena para putra ksatria tersebut telah kelelahan.

“Kisanak. Siapa dirimu? Dan apa maksudmu berbicara seperti itu?” Resi Drona bertanya.

“Hahahaha…. Resi Drona. Ternyata pengalamanmu di dalam istana megah ini tidak juga membuka matamu. Aku ingin bertanding dengan Arjuna!” jawab sang pemuda.

Semua orang terkejut. Apalagi Arjuna. Melihat kenyataan bahwa dia ditantang mentah-mentah oleh orang asing yang sama sekali tidak dia kenal. Arjuna melangkah ke depan barisan putra ksatria, mendekati sang penantangnya. Paras Arjuna dan sang penantang tidak jauh berbeda. Hanya saja, Arjuna terlihat lebih rapih dan bersih.

“Tunggu! Anak muda. Untuk bertanding ditempat ini, engkau harus memperkenalkan dirimu.” Sahut Resi Krepa, Pendeta Istana Raja.

“Baik. Dengar baik-baik. Namaku, Karna.” Jawab sang pemuda.

“Dari kaum manakah engkau? Apakah engkau dari kaum ksatria? Karena untuk menantang Raden Arjuna, hanya boleh orang yang berasal dari kaum ksatria.”

“Aku….” Karna tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia tertunduk. Apa yang harus ia katakan. Jika ia mengatakan dari kaum ksatria, ia tidak tahu dari silsilah keluarga ksatria mana ia berasal. Sedang kenyataannya ia adalah anak seorang kusir saja. Ia tidak ingin berbohong, walaupun harus mengorbankan harga diri.

“Hahaha… kenapa diam? Apakah engkau bukan dari kaum ksatria?” kata Arjuna.

Karna tetap diam. Ia hanya memandang melalui sela-sela rambut yang hampir menutup matanya. Orang itu yang telah menanamkan dendam di hati sejak ia kecil. Sekarang ia harus menelan kepahitan di depan orang yang lebih banyak lagi, menerima hinaan dari Arjuna, orang yang mirip dengannya.

“Jika engkau bukan dari kaum ksatria, silahkan menyingkir dari perlombaan ini. Carilah rumput untuk ternak mu atau kuda-kuda kami. Mungkin hidupmu lebih beruntung.” Kata Arjuna lagi.

Hinaan yang sama dengan lima tahun lalu, kini ia terima lagi. Kali ini di depan rakyat Kurusetra. Rasa malunya tidak tertahan. Apalagi ketika ia mulai mendengar sayup-sayup orang tertawa. Makin lama makin terdengar orang-orang dibelakangnya menertawakan dirinya. Karna tertunduk, semakin tertunduk.

“Mohon bicara, Ayahanda Prabu”

Tiba-tiba terdengar suara Duryodana. Karna melihat sosok tinggi besar bersenjata pedang dipinggangnya sedang bersimpuh hormat dihadapan Raja.

“Ada apa Duryodana?” jawab Raja.

“Ayahanda Prabu, menurutku keberanian dan kehebatan tidak hanya dimiliki oleh kaum ksatria saja. Kaum sudrapun memiliki banyak keberanian dan kesaktian. Bahkan, jangan-jangan mereka lebih berani dan hebat dibanding dengan kaum ksatria. Ijinkahlah anak muda itu ikut bertanding.”

Mendengar itu, hati Karna bagai tersiram air sejuk. Luka hati dan perasaan malunya berangsur-angsur pulih. Ia berani mengangkat mukanya dan memandang kepada raja, Resi Krepa, Resi Drona dan Arjuna. Siapa gerangan orang itu yang rela membelaku. Aku akan sangat berterimakasih padanya. Bisik Karna dalam hati.

“Anakku, aku mengerti. Tetapi itulah aturan yang kita jalankan di dunia ini. Jika Arjuna yang dari kaum Ksatria melawan anak muda itu dari Kaum Sudra maka hasilnya tidak akan seimbang dan tidak akan adil. Jika Arjuna menang, itu adalah hal yang wajar karena Arjuna memang seorang ksatria, namun jika Arjuna kalah, hal itu akan memalukan kaun ksatria yang lain. Dalam hal ini, menang atau kalah kaun ksatria tetap dirugikan. Apa engkau mengerti Duryodana, putraku?”

“Jika memang harus begitu, Ayahanda. Kabulkanlah permintaan putramu ini.”

“Apa permintaanmu, putraku? Singgasana inipun akan kuberikan padamu.”

“Ayahanda. Angkatlah anak muda itu menjadi Raja di wilayah Anggapura.”

Mendengar permintaan Duryodana, Raja tersentak kaget. Begitu juga dengan para Pendeta, Resi, Ksatria, Dewi dan segenap rakyat Histanapura. Karna tertegun atas pembelaan yang diberikan Duryodana. Ia belum mengenal Duryodana, tetapi mengapa ia begitu membelanya. Dalam hidup baru pertama kali ia dibela oleh orang lain. Hal ini kembali menumbuhkan semangat juangnya. Angin sejuk mulai merambah dihatinya, memberikan ketenangan dan harapan.

“Karna, kemarilah” titah Prabu Dretarasta.

Karna mendongakkan kepalanya. Semua orang mentapnya. Termasuk para putra ksatrian. Perlahan Karna melangkah menuju podium ksatrian. Langkah demi langkah ia pijakkan di setiap titian tangga menuju singgasana raja. Disana Pendeta Istana, Resi Krepa telah memegang sebuah mahkota raja wilayah.

“Dengarlah rakyat Histanapura, rakyat Kurusetra. Dengan ini, saya menobatkan Karna menjadi Raja Wilayah Anggapura, dengan gelar Adipati Karna, Raja Angga”

Penobatan yang sangat tiba-tiba itu mendapat sambutan dari rakyat dengan penuh tanda tanya. Namun demikian, rakyat perlahan tapi pasti bertepuk tangan meriah. Dan meneriakkan nama Adipati Karna.

“Hidup Adipati Karna.. Hidup Adipati Karna!”

Saat itulah, muncul Adirata karena mendengar anaknya dinobatkan menjadi Raja diwilayah Anggapura. Setelah karna turun dari podium ksatrian, Adirata memeluk dan mencium Karna.

“Anakku, terkabul sudah doa Ayah dan Ibumu nak. Akhirnya engkau bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga” kata Adirata.

“Ayah, tenanglah. Ini hanya kebetulan saja. Bahkan aku belum melakukan apa-apa untuk menjadi raja. Semua ini berkat Duryodana yang berhati baik padaku.” Jawab Karna.

Kemudian karna menghampiri Duryodana yang berdiri memandanginya di barisan putra ksatria.

“Duryodana. Terimakasih telah membelaku. Aku memang dari golongan suta, namun engkau telah tampil membelaku sehingga sekarang aku menjadi ksatria sama seperti kalian.” Kata Adipati Karna sambil hendak berlutut untuk menyembah Duryodana. Namun segera Duryodana menangkap bahu Adipati Karna dan memintanya untuk kembali berdiri.

“Karna. Aku hanya ingin engkau menjadi sahabatku.” Ujar Duryodana lirih. Karna mengangguk pelan.

“Mulai saat ini, Aku bersumpah, apapun yang terjadi aku akan tampil membelamu, sahabatku Duryodana!” kata Karna yang disambut sorak sorai rakyat dan para putra ksatria kecuali Para Pandawa.

“Hahahah… tidak usah bangga, Karna. Engkau ternyata hanya anak Kusir. Sekarang secara kebetulan engkau diangkat menjadi raja wilayah hanya dengan satu alasan, supaya engkau dapatkan gelar ksatria dan pantas bertanding melawan Arjuna. Hahahah…”

“Tutup mulutmu, Bimasena!” teriak Duryodana kearah Bimasena yang baru saja menghina Karna. Kembali Karna mendapat pembelaan dari sahabat barunya.

“Ada apa Duryodana? Apa kamu ingin menjadi kusir juga? Hahahah…” teriak Bimasena

“Kakang, sudahlah.” Bisik Arjuna sambil memegang lengan besar Bimasena.

“Jadi, Resi Drona, bisakah kami bertanding sekarang?” tanya Arjuna sambil berpaling ke arah Resi Drona yang tampaknya masih kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, di jajaran para dewi, Dewi Kunti yang telah mengenali pemuda asing yang menantang putranya, diam-diam meneteskan air mata. Karna adalah anak yang dulu ia buang ke sungai. Dan kini anak itu muncul di pihak yang berlawanan dengan para putranya. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi terhadap kedua anaknya tersebut. Ia pun pingsan di singgasananya. Saat itu, senja telah tiba dan sebentar lagi malam menjemput. Temaram dan tegangnya suarana sore itu membuat tidak ada seorangpun yang menyadari Dewi kunti telah pingsan di singgasananya.

“Arjuna, matahari telah terbenam. Waktu pertandingan ini telah habis. Jika kalian ingin bertanding, datanglah lagi dipertandingan tahun depan.” Sahut Resi Krepa. Arjuna hanya menganggukan kepala pertanda setuju. Ia memalingkan pandangannya ke arah Adipati Karna. Disana, disamping Duryodana, Adipati Karna tersenyum penuh kemenangan. Sementara rakyat telah membubarkan diri, para putra ksatria juga mulai membubarkan diri. Perlahan Raden Arjuna menghampiri Adipati Karna.

“Jangan bangga dulu, Adipati. Dimataku, engkau tetaplah anak kusir” bisik Arjuna didekat telinga Karna.

“Dihatiku, engkau adalah satu-satunya orang yang paling ingin ku singkirkan dari marcapada ini” balas Karna. Mereka berpisah dengan masing-masing meninggalkan senyuman sinis di sudut bibir. Para Arjuna pulang ke tempat kediaman mereka, dan para Kurawa juga meninggalkan tempat itu menuju kediaman mereka diikuti oleh Adipati baru, Adipati Karna.

Bersambung

3 Responses to Raja Angga

  1. Angga kemplo says:

    Jln Ceritany ad yg dbuat2,duryodana snjatany gada bkn pedang,dcerita ni pandawa karakternya sdikit sombong,trutama bima n arjuna..pandawa tu ksatria yg brjlan d arah kbenaran n keadilan.ga prnah mnghina org…cerita ni penuh karangan.

  2. saya rasa tidak,ini gaya penulisan yang satir kawan.. pandawa-korawa bukan sesedarhana baik-buruk,tpi soal dharma. dan karna itu tokoh yang luar biasa,bahkan saya lebih kagum ke dia dan bhisma dr semua tokoh pandawa termasuk kresna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s