(39) Kembali Kepangkuan Keabadian

kidung_malam391

Ekalaya dan Anggraeni

 

Sementara itu, Aswatama yang mengikuti kedua sahabatnya ke Paranggelung, ditempatkan di ruang tengah Baluwerti. Di sini Aswatama merasa lebih dihargai dibandingkan dengan di Sokalima atau di Hastinapura. Oleh Ekalaya ia diperkenalkan sebagai sahabat raja, sehingga tentu saja para pejabat negeri dan terlebih rakyat Paranggelung sangat menghormati Aswatama. Ada sebuah paradigma baru baginya, agar seorang raja tidak mabuk kuasa, tetapi penuh perhatian kepada rakyatnya, dan dengan tulus mencintai rakyatnya.

Kepergian Aswatama tanpa pamit ke Paranggelung adalah merupakan ungkapan sikap ketidaksetujuannya atas tindakan Drona bapaknya. Ada perasaan kecewa yang amat dalam, mengapa bapanya telah tega mencelakai Ekalaya. Karena dengan memotong ibu jari Ekalaya, artinya memotong harapan hidupnya. Lagi pula ia menilai bapanya adalah seorang guru yang pilih kasih. Lebih mengasihi Harjuna.

Di malam itu, entah apa yang menyebabkan Aswatama gelisah dan tidak dapat segera tidur. Perasaannya mendorong-ndorong untuk bangun dan melangkah ke luar Baluwerti. Inikah kegelisahan itu? Ketika Aswatama berada di regol halaman, dilihatnya Ekalaya dan Anggraeni berjalan dengan sangat ringan, seperti terbang ke arah luar kota raja. Aneh ya, ada apa dengan mereka berdua? Malam-malam begini, tanpa pengawalan, seorang raja dan prameswarinya meninggalkan keraton dengan diam-diam. Timbul rasa khawatir yang berlebihan, ketika tiba-tiba saja Ekalaya dan Anggraeni hilang di telan gelapnya malam. Tidak salahkah mataku memandangnya? Benarkah mereka Ekalaya dan Anggraeni? Aswatama penasaran, dengan hati-hati diikutinya bayangan keduanya yang sudah jauh memasuki pekatnya malam.

Kembali ke perbatasan, Harjuna termangu. Busur pusaka yang telah dipegangnya tidak juga segera ditarik. Tangan kanannya bergetar tak beraturan. Ia merasa bersalah setelah mengetahui bahwa ibu jari yang menempel ini adalah ibu jari Ekalaya, musuh utamanya. Jika pun dalam perang tanding kali ini Harjuna menang, apakah arti kemenangan itu? Gagahkah seorang kesatria dapat mengalahkan musuhnya dengan senjata hasil rampasan dari musuh yang bersangkutan?

“Harjuna, lepaskan segera panah itu. Jangan merasa bersalah bahwa engkau telah merampas pusakaku. Dan jangan ragu menggunakan pusaka Mustika Ampal untuk mengalahkan aku. Karena sesungguhnya hanya dengan Cincin Mustika Ampal itulah engkau dapat mengalahkan aku. Bukankah engkau sendiri mengakui bahwa sebagian besar ilmu-ilmu Sokalima yang engkau kuasai, tidak mampu mengalahkan aku? Maka segera tariklah Gandewa itu. Inilah kesempatan yang engkau miliki untuk memenangkan pertandingan.”

Apa yang dikatakan Ekalaya memang benar, tetapi hal tersebut membuat hati Harjuna panas. Ditambah lagi pada saat itu Harjuna sempat melirik Anggraeni, istri Ekalaya, yang kecantikannya sempurna, menyapa dengan penuh persahabatan orang yang baru datang, yaitu Aswatama. Entah apa yang muncul di hatinya, tetapi yang jelas Harjuna tidak senang melihat Anggraeni bergaul akrab dengan Aswatama. Jika mau berkata jujur, sejak pertama Harjuna melihat Anggraeni hatinya berdesir tidak karuan. Banyak wanita cantik yang telah dijumpai di dalam hidupnya, namun tidak seperti Anggraeni. Ia sungguh sangat menawan. Rasa terpana Harjuna ternyata berlanjut menjadi rasa cemburu, tatkala melihat bahwa kelebihan dan kesempurnaan Anggraeni sebagai wanita dan isteri hanya ditumpahkan kepada Ekalaya seorang. Huh! Mentang-mentang kau Ekalaya, sepertinya di dunia ini hanya engkau seorang yang laki-laki.

Mungkin itulah yang menyebabkan Harjuna berambisi untuk mengalahkan Ekalaya. Sebagai penyandang gelar lelananging jagad, Harjuna tidak suka lelanang atau lelaki lain yang berada di atasnya, baik dari kesaktian maupun dari daya tariknya kepada wanita. Oleh karena itu selagi ada kesempatan untuk mengalahkan saingannya yang memang sukar dikalahkan dari segalanya, Harjuna ingin memanfatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Padahal akhirnya secara tidak langsung Harjuna mengiyakan kata-kata Ekalaya musuhnya, “Harjuna lepaskan segera panah itu. Jangan merasa bersalah bahwa engkau telah merampas pusakaku. Dan jangan ragu menggunakan pusaka Mustika Ampal untuk mengalahkan aku. Karena sesungguhnya hanya dengan Cincin Mustika Ampal itulah engkau dapat mengalahkan aku.”

Maka kemudian Harjuna telah benar-benar menarik busurnya. Sungguh luar biasa daya cincin Mustika Ampal yang sudah berpindah tuan tersebut. Dari mata anak panah yang telah lepas dari busurnya itu munculah bola api berwarna kebiru-biruan. Bola api itu semakin besar sehingga mengakibatkan tanaman perdu yang ada di sekitarnya layu terbakar. Dengan cepat bagai kilat dan gesit laksana petir api yang berwarna biru itu telah menggulung Ekalaya. Bersamaan dengan kejadian itu nampak bayangan berkelebat masuk kedalam api tersebut dibarengi dengan teriakan Aswatama, “Anggraeni!!!”

Dalam sekejap api yang berwarna kebiru-biruan itu berubah menjadi kehijau-hijauan, kekuning-kuningan dan jadilah cahaya putih yang terang benderang. Dari cahaya putih bak salju itu nampaklah Ekalaya dan Anggraeni dikelilingi para dewa-dewi yang menyambutnya tersenyum bahagia. Rangkaian peristiwa amat menakjubkan itu hanya disaksikan oleh Aswatama dan Harjuna. Keduanya tersadar ketika suasana kembali seperti sebelumnya. Sisa malam itu masih menampakkan kegelapannya. Dengan cahaya bintang keduanya mampu menatap untuk saling mengatakan bahwa baru saja keduanya mengalami mimpi yang sama, peristiwa yang tidak bisa diceritakan keindahannya yang baru sekali ini muncul dalam hidupnya.

Namun bagi Aswatama peristiwa yang mencengangkan itu menyisakan duka yang amat dalam Kedua sahabat yang telah mengangkat harga dirinya, memulihkan rasa percaya dirinya itu kini telah pergi untuk selamanya. Aswatama kecewa kepada Durna bapanya dan juga Harjuna yang telah bersekongkol untuk melenyapkan Ekalaya sahabatnya yang berbudi luhur itu. Apalagi jika mengingat Anggraeni yang telah memulas hidupnya sehingga menjadi indah dan menyenangkan, penyesalan Aswatama menjadi sangat berat menimpa pundaknya.

“Gombal!”

Secepat kidang Aswatama lari dari tempat tersebut sambil meninggalkan teriakan sebagai katup pembuka kesesakan hati yang menghimpitnya. Tinggallah Harjuna termangu sendirian. Ada sedikit kelegaan karena telah berhasil memenangkan pertandingan dengan musuh yang sukar dikalahkan. Jika pun ada penyesalan tentunya bukan karena lenyapnya Ekalaya, melainkan karena Dewi Anggraeni, si cantik sempurnya telah ikut lenyap.

Semilir angin yang semakin basah menandakan bahwa pagi segera tiba. Bersamaan dengan itu terdengarlah suara kumrosak mengiringi datangnya para prajurit dan rakyat Paranggelung yang menelusur arah sang Raja yang dicintai pergi. Harjuna memutuskan untuk meninggalkan mereka. Ia tidak mau lagi berurusan dengan rakyat Paranggelung. Maka dengan kesaktiannya Harjuna telah jauh meninggalkan tempat lenyapnya Ekalaya dan Anggraeni tanpa diketahui oleh mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s