(62) Tiga Hari Lagi

tiga-hari-lagi

Rara Winihan mengagumi Raden Rawan (karya herjaka HS)

Pada hari-hari yang masih tersisa, sikap Resi dan Nyai Hijrapa berubah 180 derajat terhadap Raden Rawan. Mereka ingin menebus kesalahan dalam mendampingi anak-anaknya. Raden Rawan telah menyadarkan kedua orang tuanya, bahwasannya mereka telah pilih kasih dalam memperlakukan ke tiga anaknya. Jika sebelumnya Resi Hijrapa lebih memperhatikan dan mencintai anak sulungnya, dan Nyai Hijrapa lebih dekat dengan anak bungsunya, sekarang mereka lebih memperhatikan Raden Rawan anak yang lahir nomor dua.

Sesungguhnya Raden Rawan merasa risih atas perlakuan kedua orang tuanya yang berlebih. Namun ia tidak akan mengungkapkannya kepada ke dua orang tuanya. Raden Rawan sendiri ingin mengisi hari-hari terakhirnya dengan kebaikan dan kedamaian. Beberapa hari sebelum ia siap mati untuk menjadi korban keganasan Prabu Dwaka, ia berpamitan kepada beberapa teman-temanya dan beberapa orang yang ia hormati, termasuk diantaranya Lurah Sagotra dan Rara Winihan.

Di mata Raden Rawan, Rara Winihan adalah pemimpin yang luar biasa. Ia mampu memberikan semangat dan keberanian untuk mengatasi ketertindasan dan memerangi ketidak adilan. Ia peduli terhadap warganya yang mengalami kesulitan. Beberapa hari yang lalu Rara Winihan mengutus dua bebahu desa menemui ayahnya, agar menolak menyediakan korban untuk Prabu Dwaka. Namun ayahnya menolak usulan itu dengan halus. Ia tidak berani melawan Prabu Dwaka.

Keteladanan Rara Winihan itulah yang membuat Raden Rawan berani menjadi korban dengan dada membusung dan muka tengadah. Apalagi ia juga mempunyai keyakinannya bahwa keberanian dan ketulusan akan dapat menghancurkan kesewenang-wenangan.

“Aku bangga, engkau jujur dan pemberani. Terlebih engkau mempunyai keyakinan yang kuat bahwa kesewenang-wenangan akan hancur oleh keberanian dan ketulusan. Maju terus Rawan aku dan para bebahu desa Kabayakan berada dibelakangmu.”

“Terimakasih Ibu Rara, aku mohon diri.”

Hari Anggara Jenar yang jatuh pada bulan pertama pada setiap tahunnya, tinggal tiga hari lagi, Rara Winihan memutar otak, mencari strategi yang tepat untuk menghadapi Prabu Dwaka, pada saat menghidangkan korban Raden Rawan.

Ketika malam menjelang, di Kobongan Senthong tengah, Rara Winihan mendapat pencerahan. Tiba-tiba ia teringat kepada Harjuna yang mempunyai jasa luar biasa pada kehidupan rumah tangganya. Ia ingin menghadap Harjuna yang bersama keluarganya berada di rumah Resi Hijrapa. Diajaknya Ki Lurah Sagotra untuk menemui ibu dan saudara-saudara Harjuna.

Ki Lurah Sagotra dan Rara Winihan ditemui oleh Ibunda Kunthi dan para Putra.

“Dhuh Ibu Kunthi dan para putra, saya beserta suami, sebagai yang dituakan, mewakili seluruh warga desa Kabayakan menyampaikan terimakasih. Kedatangan Ibu dan para putra membawa berkat yang melimpah kepada warga Desa Kabayakan dan Giripurwa. Saya bersama pasangan saya telah mendapatkan berkah kerukunan itu melalui Raden Harjuna. Demikian pula beberapa warga yang mengungsi juga telah mendapatkan berkah pertolongan melalui Raden Bima. Aku meyakini bahwa Hyang Maha Agung telah menuntun Ibunda Kunthi dan para putra untuk singgah di wilayah ini dan melimpahkan berkahnya bagi seluruh warga.”

“Rara Winihan, aku dan anak-anakku adalah orang orang yang numpang makan dan tidur di tempat ini. Seharusnya kamilah yang mengucapkan terimakasih kepada semua warga Desa Kabayakan dan Giripurwa, karena mereka telah memberikan tempat dan makanan dengan ramah dan ikhlas. Aku secara pribadi mohon maaf karena telah merepotkan banyak orang.”

“Kerendahan hati seorang permaisuri Raja sungguh menakjubkan. Dengan kerendahan hati seorang ibu sejati, aku berkeyakinan bahwa Ibunda Kunthi tidak tega melihat penderitaan putra-putrinya.”

“Benar katamu Rara Winihan, aku tidak tega ketika melihat anakku kembar kelaparan. Tetapi apa yang dapat kulakukan? Aku hanyalah seorang wanita yang lemah dan miskin.”

“Bukankah ibu tinggal memerintahkan putra-putranya yang perkasa?”

“Tetapi aku kecewa dengan Harjuna, ia hanya meminta-minta makanan kepadamu”

“Ampun Ibunda Kunthi, dua bungkus nasi bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan berkah yang ditinggalkan. Oleh karena kehadiran Raden Harjuna, aku dan suamiku boleh menikmati kebahagiaan suami isteri yang telah kami tunggu hampir setahun lamanya.”

“Jika yang terjadi adalah kebaikan, itu bukan karena Harjuna, melainkan karena kebaikan-Nya.”

“Iya Ibunda Kunthi, aku sependapat dengan Ibunda, termasuk juga berkat kebaikan-Nya yang akan dilimpahkan kepada semua warga Kabayakan dan Giripurwa melalui putra-putra Ibunda yang perkasa. Baru beberapa hari Ibunda Kunthi dan para putra tinggal di rumah ini, semakin banyak warga yang datang di tempat ini. Mereka yang telah mengetahui siapakah sesungguhnya Ibunda Kunthi dan putra-putranya, ingin meminta perlindungan atas kesewenang-wenangan Prabu Dwaka”

“Rara Winihan, aku telah mendengarnya dari keluarga Resi Hijrapa yang mendapat kewajiban mengorbankan salah satu anaknya kepada Prabu Dwaka. Aku tidak tega ketika Rawan akan dikorbankan. Aku telah membujuk anakku Bima untuk menolong keluarga Hijrapa, dengan menjadi silih korban. Namun Bima belum menyanggupi, dengan alasan karena Resi Hijrapa tidak memintanya.”

Kecerdasan dan kecekatan Rara Winihan telah menangkap sebuah peluang yang sangat penting untuk sebuah pengharapan yang membebaskan. Bermula dari rasa iba Ibunda Kunthi terhadap ketakutan dan penderitaan keluarga Resi Hijrapa, khususnya Raden Rawan yang akan dikorbankan. Ibu Kunthi membujuk Bima agar mau menolongnya. Bima mau menolongnya tetapi dengan syarat, agar Resi Hijrapa-lah yang meninginkan pertolongan tersebut. Ibunda Kunthi memakluminya kepada anak nomor dua ini. Orangnya sederhana dan jujur, tentunya kalau tidak diminta, ia sungkan untuk menawarkan kemampuannya, karena hal tersebut akan menggiring kepada kesombongan.

Rara Winihan tahu, tinggal satu hal lagi yang harus dikerjakan jika semuanya akan menjadi beres, yaitu Resi Hijrapa mau datang memohon belaskasihan kepada Kunthi untuk menolongnya.

“Ibunda Kunthi, jika Resi Hijrapa tahu siapakah sesungguhnya orang-orang yang menumpang di rumahnya, tentu tanpa diminta pun ia akan tergopoh-gopoh bersujud meminta perlindungan. Namun karena saat ini ia sedang mengalami tekanan yang luar biasa, Resi Hijrapa tidak memperhatikan orang-orang disekitarnya. Baginya Ibunda Kunthi dan para putra sebatas seorang penggembara yang numpang sementara di rumahnya. Sehingga Resi Hijrapa beranggapan bahwa Ibunda Kunthi dan para putra tidak dapat menolongnya. Oleh karenanya biarlah aku yang menghadap Resi Hijrapa untuk mengatakan hal ini.”

Tanpa menunggu jawaban Ibunda Kunthi, Rara Winihan undur diri, dan segera menemu Resi Hijrapa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s