(13) Merendam Dendam

Tak tak. tak tak. jleng. Tak gentak gentung, jleng!

Bagaikan orang gila aku masuk keluar dusun.
Tidak mudah mendapatkan keterangan keberadaan Pertapaan Saptaarga.
Karena orang pada takut berdekatan denganku.
Tanah Jawa sangat luas.

Aku tersesat di Negara Pancalaradya. Dari cerita ‘mbok bakul sinambi wara’ bahwa Raja yang bertahta bernama Prabu Durpada. Yang menarik perhatianku bahwa sang raja adalah salah satu murid Begawan Abiyasa yang berasal dari negeri seberang. Ada dorongan yang sangat kuat untuk bertemu kepada Prabu Durpada. Apapun yang terjadi aku ingin menghadap raja.

Niatku dihalangi oleh pengawal perbatasan.

Aku memaksakan kehendak, mereka bukan tandinganku. Dalam sekejap para pengawal perbatasan aku kalahkan dan aku masuk ke kota raja Pancalaradya. Di tengah kotaraja, aku dan anakku Aswatama dikepung prajurit. Rupanya khabar dari perbatasan telah sampai di sini.

Aku tidak gentar. Aku mengamuk setiap prajurit yang menghalangi aku robohkan. “Ayah!” aku berhenti mengamuk, ketika mendengar jerit anakku.

Aswatama disandera. Aku menjadi lemas seketika, dan menyerah, agar Aswatama tidak dilukai. Segera setelah aku berhenti melawan, ada utusan raja yang memerintahkan agar aku beserta Aswatama dibawa masuk menghadap raja. Utusan raja dan pengawal mengirid kami masuk menuju ke Bangsal Kencana, tempat Prabu Durpada menunggu. Berdebar hatiku melihat dari jauh Raja Pancalaradya. Ketika semakin dekat, benar yang aku duga, ia adalah adikku. Aku berteriak keras-keras. Sucitra! sembari mendekap erat-erat penuh sukacita.

Prabu Durpada terkejut. Ia hampir jatuh di lantai karena menahan dorongan tenagaku yang kegirangan.

Gandamana adik Durpada, kuatir keselamatan raja.

Dengan marah ia menyeret dan menghajarku.

Aku sengaja tidak melawan. Harapanku agar Sucitra keluar menghentikan perbuatan Gandamana, kemudian mengajakku dan anakku memasuki Kedaton untuk saling melepas rindu.

Sampai badanku remuk dihajar habis-habisan, Sucitra tidak keluar juga.

Aswatama menagis keras sekali, melihat aku dihajar Gandamana.

Setelah aku tak berdaya, Gandamana dan para Prajurit mengusir kami.

Sembari menagis sepanjang jalan, Aswatama yang biasanya aku gendong, berusaha menuntunku.

Di sepanjang jalan kami tidak berjumpa orang. Mungkin mereka menyingkir ketakutan, karena menganggap aku penjahat yang di hukum raja.

Sesampainya di sebuah sendang, Aswatama membantu aku membersihkan darah disekujur badanku yang mulai mengering.

Wajahku rusak, lengan kananku remuk.

Sucitra, Sucitra, mengapa engkau sengaja membiarkan aku dihajar oleh adikmu?

Mungkinkah engkau tidak ingat lagi wajahku, suaraku, kakakmu si Kumbayana.?

Mustahil! Ataukah engkau sengaja melupakan aku, mengubur masa lalulumu?

Dhuh Dewa, apakah dosaku, benarkah aku kuwalat dengan orang tua? hinga aku mengalami nasib seperti ini?

Aswatama memandangku penuh kesedihan.

Ia tidak menangis lagi, air matanya telah habis.

Hatinya menderita.

Aku lebih menderita, bukan karena penderitaanku, melainkan karena melihat penderitaan anakku, satu-satunya harapan hidupku.

Oh ngger, bocah bagus, Aswatama.

Bersabarlah. Nanti jika saatnya tiba, akan kutunjukan didepanmu. Pembalasanku kepada Sucitra dan Gandamana.

Siang malam kami berjalan, menggendong dendam, menyusuri jalan penderitaan, memilih tempat terpencil jauh dari keramaian.

Akhirnya kami temukan tempat yang cocok sebagai tempat tinggal.

Untuk menyembuhkan luka-lukaku.

Aku memeperdalam ilmu dan mengajarkannya kepada Aswatama.

Satu, dua orang perantau yang nyasar ketempatku, tertarik untuk berguru.

Jadilah tempat tinggalku sebagai padepokan kecil, aku namakan Soka Lima.

Diantara cantrik-cantrikku, belum kutemukan bakat menonjol, untuk kuajari ilmu-ilmu andalan. Agar dapat membalaskan dendamku.

Rata-rata mereka berkemampuan sedang, termasuk Aswatama.

Aku mendambakan murid yang pandai, bahkan teramat pandai.

Jika aku tunggu mungkin terlalu lama.

Maka saya putuskan untuk menyisihkan waktu, mencari di pusat pusat kota.

Pada akhirnya kalian tahu sendiri, kita dipertemukan pada saat para Kurawa ingin mengambil cupu lenga tala di sumur tua itu., demikian Durna mengakhiri ceritanya.

Aku merasa lega mendapat murid kalian berlima.

Dibenakku telah tergambarkan, kalianlah yang mampu mengobati sakit hatiku, dengan membalaskan dendamku kepada Durpada dan Gandamana.

Maka mulai sekarang belajarlah penuh semangat dan ketekunan.

Akan aku ajarkan ilmu-ilmu terbaik yang aku miliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s