Wanaparwa (3)

Wanaparwa adalah buku ke-3 Mahababharata dan merupakan terusan langsung buku ke 2; Sabhaparwa. Di dalam Wanaparwa diceritakan bagaimana para Pandawa dan dewi Dropadi harus hidup di hutan selama 12 tahun karena Yudistira kalah berjudi.

Cerita ini bermula ketika Yudhistira kalah bermain judi dengan para Kurawa, kemudian dia kalah dengan memepertaruhkan kerajaan dan negaranya. Tidak tanggung-tanggung para Kurawa memberi beban kepada para Pandhawa untuk melakukan masa pembuangan. Di dalam pembuangan itu para pandhawa melakukan penyamaran. Di dalam masyarakat jawa sendiri ini biasa disebut dengan istilah “Kodrat Wiradat” yaitu takdir Tuhan tidak bersifat mutlak. Seseorang mengatakan kegagalan suatu usaha karena alasan adalah takdir. Boleh jadi kegagalan yang kita peroleh itu karena sifat sembrono, urakan, ugal-ugalan, dan kelalaian manusia sendiri. Nasib ini lantas jangan menjadikan kecil hati, bagi mereka yang cukup gigih dan kreatif tentu akan optimis dalam menghadapi masa depan. Andaikan Yudhistira tidak suka berjudi dan tidak terpancing dengan emosi sesaatnya mungkin hal ini tidak akan terjadi. Setelah para Pandhawa pergi meninggalkan istana dmuan menuju hutan Kamyaka.

Saat di hutan, para pandhawa bertemu dengan Rsi Byasa, seorang guru rohani yang mengajarkan agama hindu kepada pandhawa dan Dropadi, istri mereka. Atas saran Rsi Byasa maka Arjuna melakukan tapa di gunung Himalaya agar memperoleh senjata sakti yang kelak digunakan dalam perang Bharatayudha. Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.

Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu.

Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma’af kepada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama “Pasupati”. Karena Arjuna Lila legawa dapat diterjemahkan dengan rela dan ikhlas. Yakni sikap seseorang yang lapang dada, terbuka hati, berani kehilangan, dan tidak mau menyesali kerugian atas dirinya. Bencana, kesulitan dan cobaan dari mana pun datangnya dianggab seolah-olah tidak pernah terjadi. Dalam tembang Jawa ada pesan lila lamun kelangan nora gegetun, ‘rela bila kehilangan tidak menyesali, diterima dengan hati ikhlas’. Kerugian yang terjadi karena orang lain hatinya memaafkan. Kerugian karena lingkungan, hatinya menganggap sesuatu yang alamiah. Kerugian karena bencana mendadak, hatinya menganggap sudah menjadi kehendak Tuhan. Orang yang lila legawa tidak pernah ada beban dalam pikirannya. Sikap inilah yang dilakukan Arjuna, dia ikhlas dalam melakukan perbuatannya. Jika Arjuna tidak memiliki sikap seperti ini maka dia tidak akan memiliki senjata yang sangat kuat seperti panah Pasupati pemberian dewa Siwa yang takjub akan tapa yang dilakukan Arjuna dan sikap lilanya demi sebuah cita-cita yang mulia.

Suatu ketika para Korawa datang ke dalam hutan untuk berpesta demi menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka justru berselisih dengan kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam peristiwa itu Duryodana tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi, Yudistira justru mengirim Bima dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia mengancam akan berangkat sendiri apabila kedua adiknya itu menolak perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu berhasil membebaskan Duryodana. Niat Duryodana datang ke hutan untuk menyiksa perasaan para Pandawa justru berakhir dengan rasa malu luar biasa yang ia rasakan. Inilah yang dimaksud dengan Becik ketitik, ala ketara. Duryudana yang tadinya berniat jahat malah kena akibat jahat, sedangkan pandhawa yang mempunyai sifat baik rela menolong. Sifat seperti inilah yang mesti ditumbuh kembangkan dikehidupan masyarakat luas.

Pada waktu di hutan pernah terdapat kejadian Peristiwa lain yang terjadi adalah penculikan Dropadi oleh Jayadrata, adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna berhasil menangkap Jayadrata dan hampir saja membunuhnya. Yudistira muncul dan memaafkan raja kerajaan Sindu tersebut. Sifat pemaaf merupakan sikap asor yang tak bisa lepas dari sifat pandhawa. Setiap orang tidak aka nada yang sempurna, walaupun para pandhawa ini kuat dan suka menolong tetapi mereka juga memiliki sikap buruk seperti Yudhistira yang suka main judi, janaka yang suka bermain judi dan sebagainya.

Peristiwa lainnya, adalah ketika Droupadi menemukan bunga yang sangat harum dan meminta Bhima untuk mencarikan bunga tersebut untuk ditanam. Bhima pergi mencari hingga sampailah ia di kaki suatu gunung dan ia melihat seekor kera besar bersinar-sinar berbaring tidur menghalangi jalannya. Ia coba mengusirnya dengan berteriak-teriak agar mahluk itu takut. Mahluk itu hanya membuka sebelah matanya dengan malasnya dan berkata, ‘aku lagi kurang nyaman makanya aku tidur disini mengapa engkau membangunkanku, Engkau adalah manusia bijaksana dan aku hanya binatang, seharusnya manusia yang rasional berbelas kasih pada bnatang sepertiku. Aku khawatir engkau ini tidak mengindahkan mana kebenaran dan kejahatan. Siapa kamu? Ngga mungkin engkau melanjutkan perjalanan lebih lanjut lagi, karena ini merupakan jalan dewa2, manusia ngga boleh melewati batas ini. Makan saja buah2 yang ada disini sesukamu dan pergilah dengan damai.

Bhima yang tidak biasa dianggap enteng menjadi marah dan berteriak,’Lho kamu ini siapa, kamu ini hanyalah kera namun sok berbicara tinggi, aku adalah Ksatriya, pahlawan keturuna Kuru dan anak dari Kunti. Aku adalah anak dari Deva Vayu, Ayo menyingkir!’. Mendengar ini, kera itu hanya tertawa dan berkata ‘Saya ini hanya kera, namun engkau akan mengalami kehancuran apabila memaksa jalan terus’. Bima berkata,’ itu bukan urusanmu, menyingkirlah atau aku singkirkan engkau!’. Kera itu berkata,’Aku tidak punya kekuatan untuk berdiri, jika engkau bersikeras untuk terus untuk pergi, lompati saja aku’ Bima berkata,’Ya itu sih mudah, namun kitab suci melarang iu, kecuali aku melompatimu dan gunung dalam satu lompatan seperti yang dilakukan Hanuman menyebrangi lautan. Kera itu berkata,’ Siapa Hanuman yang menyebrangi Lautan itu, ceritakanlah cerita itu padaku’.

Bima berkata ‘Belum pernah dengar Hanuman? Ia adalah kakak ku, yang dengan loncatanya menyebrangi lautan untuk mencari Sita istri Rama, Aku setara dengannya dalam hal kekuatan dan Kegagahan. Ah sudah cukup berbicara, ayo menyingkirlah dan memberi jalan, jangan memprovokasiku untuk menyakitimu. Kera itu berkata,’ Ah orang gagah, bersabarlah, lembutlah karena engkau kuat, berbelas kasihlah pada yang lemah dan tua. Aku tak berkekuatan untuk berdiri, karena kitab mu melarang untuk melompatiku, ya sudah singkirkan saja ekorku ini agar engkau dapat melanjutkan perjalanan’.

Bangga dengan kekuatannya, Ia pikir dapat dengan mudahnya menarik ekor Kera itu ke sisi jalan, namun ternyata hingga ia menggunakan seluruh kekuatannya ekor itu tidak bergerak sama sekali kemudian dengan malu ia berkata,’Maafkan aku, Apakah engkau adalah orang sakti, Gandharva atau Dewa?’ Hanuman berkata,’ Oh Pandava, Aku adalah kakakmu yang engkau sebut tadi, jika engkau melewati jalan yang merupakan jalan menuju dunia fana dimana Yaksha dan raksasa tinggal, engkau akan menghadapi bahaya dan itulah sebabnya aku menghalangimu. Tidak ada manusia yang dapat melewati jalan ini dan tetap hidup, namun di bawah sana ada aliran sungai dimana engkau akan temukan bunga saugandhika yang engkau cari itu’. Jangan sampai melihat dari luarnya, dalam istilah jawa terdapat istilah “Bathok Bolu Isi Madu” jangan melihat sesuatu dari luarnya, tapi perhatikan dan resapi baik-baik apa yang dapat kita peroleh nantinya bisa jadi yang kita peroleh adalah contoh suri tauladan yang memberikan kebaikan kepada kita dan orang banyak. Seperti di dalam kiksah diatas, sang Bima belum mengetahui siapa kera yang besar itu, dia terlalu cepat marah karena merasa diremehkan, sang Bima juga terlalu mengagungkan kekuatannya sendiri dan itu malah membuatnya sombong sehingga  dia merasa malu karena kera tersebut lebih kuat dari dirinya. Hanya mengangkat ekornya saja sang Bima tidak sanggup.

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan 12 tahun, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.

Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Muncul seorang raksasa yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan sang raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang Raksasa untuk bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Raksasa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.

Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan raksasa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.

Sifat keadilan merupakan sifat luhur, yang mana setiap orang belum tentu memiliki sikap seperti ini. Sikap adil akan menghasilkan kebaikan untuk semuanya, seperti kisah diatas karena keadilan sang Yudhistira maka diapun bisa melihat saudaranya-saudaranya kembali hidup. Andaikan Yudhistira tidak memiliki sikap seperti ini bisa dikatakan Yudhistira tidak akan melihat saudaranya hidup kembali. Kemudian sikap sabar yang dimiliki Yudhistira juga menghasilkan kebaikan untuk dirinya dan orang banyak. Walaupun banyak hambatan tetapi tetap sabar, dan bersedia menerima hal tersebut lila legawa.

Buku Wanaparwa merupakan dasar inspirasi karya sastra Jawa Kuna; kakawin Arjunawiwaha karangan empu Kanwa.

About Bombo Unyil

Anak dirantau, sendiri , disini , di Dunia Maya
This entry was posted in Mahabharata and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s