Salyaparwa (9)

Salyaparwa adalah kitab kesembilan dari seluruh naskah wiracarita Mahabharata yang terdiri atas 18 parwa. Bagian ini bercerita tentang klimaks perang besar antara keluarga Pandawa melawan Korawa yang terjadi di Padang Kurukshetra. Perang ini dalam pewayangan terkenal dengan sebutan Baratayuda.

Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18. Pada hari itu juga, Salya gugur di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya, Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima.

Salyaparwa terdiri atas 65 bab. Kitab ini bercerita tentang pertempuran pada hari ke-18 di mana saat itu pihak Korawa telah kehilangan banyak pasukan. Kisah diawali dengan ratapan Duryodana atas kematian Karna, panglima andalannya pada hari sebelumnya. Ia kemudian mengangkat Salya sebagai panglima baru untuk melanjutkan peperangan.

Dalam pertempuran hari itu, Salya akhirnya gugur di tangan Yudistira, pemimpin para Pandawa. Namun kisah Salyaparwa tidak berakhir sampai di sini. Selanjutnya diceritakan bagaimana penasihat pihak Korawa yang licik, yaitu Sangkuni tewas di tangan Sahadewa, adik bungsu Yudistira.

Bagian akhir Salyaparwa mulai bab ke-32 diberi judul Gadayuddhaparwa, yang berkisah tentang perang tanding antara Duryodana melawan Bimasena. Perang ini merupakan klimaks dari seluruh rangkaian Baratayuda. Dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, Duryodana akhirnya roboh terkena hantaman gada milik Bima.

==========

Sesudah Karna gugur dalam perang Duryodhana dirundung kesedihan, Bhagavan Krpta memberi saran agar perang dihentikan untuk menghindari kehancuran lebih lanjut. Tapi duryodhana mengatakan itu semua sudah terlambat dan ingin melanjutkan pertemburan. Kemudian ia mengusulkan Salya menjadi seorang senopati, Salya menasehati Duryodhana agar berhenti berperang dan ia menyanggupi akan menjadi penengah dan penghubung antara Kurawa dan Pandawa. Aswatama yang memang dari awal tak suka dengan Salya sangat marah dan menghina Salya hingga terjadi perkelahian dikeduanya. Dan delerai oleh Duryodhana, karena merasa berhutang budi kepada Duryodhana Salyapun bersedia menjadi senopati.

Keesokan harinya yaitu pada perang yang ke delapan belas, Prabu Salya berhadapan dengan Arjuna dan Bima berhadapan dengan adik-adik Duryhodana yang hanya tinggal lima orang. Sebelum tengah hari Bima telah berhasil membunuh kelimanya. Bima sangat merasa puas karena dendamnya terhadap Korawa hampir dapat terlampiaskan hanya tinggal Duryodhana saja yang belum. Tetapi sebelum mencari Duryodhana ada seorang lagi yang diincarnya yaitu Sakuni. Saat dilihatnya Sakuni sedang berhadapan dengan Sahadewa. Dengan Teriakan yang nyaring Ia menyuruh Sahadewa untuk Mundur.

Melihat Bima datang, sakuni mulai takut. Ia berusaha melarikan diri, tetapi Bima berhasil mengejarnyadan menjambak rambutnya serta membantingnya. Sakuni berusaha bangun, entah untuk melawan atau larti lagi. Bima lalu mengeluarkan unek-uneknya, “Hai Sakuni, peperangan ini terjadi akibat mulutmu yang busuk. Aku telah bersumpah untuk merobek mulutmu yang busuk.”

Sakuni merasa bahwa tidak ada gunanya lagi Ia melarikan diri. Ia-pun langsung menyerang Bima. Namun dalam beberapa gerakan saja Ia telah jatuh tertunduk, serangannya mampu ditahan Bima. Bima kembali mencacinya, “Terlalu enak bagimu jika kau kubunuh dengan sekali pukul. Karena kaulah yang menjadi sumber segala bencana ini. Dengan akal busukmukau selalu berusaha mmelenyapkan Pandawa. Sekarang rasakan penderitaanmu.” Bima kembali menjambak rambut Sakuni sambil memakinya sepuas hati. Setelah itu tangannya dipatahkan, matanya dibutakan, dan akhirnya mulutnya dirobek sampai Ia menjerit melepas nyawa.

Sementara itu, pertempuran antara Salya dengan Arjuna berlangsung sengit. Lama kelamaan Salya makin terdesak, Salyapun langsung mengeluarkan Aji Candra Bhairawa. Tubuh Salya mengeluarkan raksasa yang langsung menyerang Arjuna. Raksasa itu langsung dipanah oleh Arjuna tepat mengenai perutnya. Raksasa itu tidak mati, bahkan Raksasa itu mengeluarkan darah dan darahnya berubah menjadi Raksasa lagi. Sehingga Arjuna diserang oleh dua Raksasa. Arjuna hendak memanahnya lagi namun dilarang oleh Krisna dan Ia meminta Arjuna untuk mundur.

Bima yang melihat adiknya didesak oleh dua Raksasa mulai menghadang raksasa tersebut. Dengan Gadanya ia memukuli Raksasa-raksasa tadi. Tetapi Raksasa yang dipukul tadi menjadi banyak Raksasa karena tiap darah yang keluar berubah menjadi raksasa baru. Dengan demikian Bima direbut oleh banyak raksasa. Dan raksasa itu pula menyerang seluruh prajurit Pandawa.

Pada saat itu, hari telah menjelang tengah hari, Krisnha lalu mendekati Yudhistira dan menyuruh Yudhistirauntuk melawan Salya. Yudhistirapun maju dengan senjata Kalimasada. Tepat tengah hari Kalimasada dilemparkan dan tepat mengenai kepala Salya. Dan akhirnya Salya gugur, dengan itu raksasa-raksasa Candra Bairawapun lenyap dengan seketika. Gugurnya Salya dan lenyapnya para raksasa disambut dengan gembira oleh pasukan Pandawa, sebaliknya prajurit Korawa menjadi putus asa. Mereka kehilangan semangat untuk bertempur, mengingat para pemimpin mereka sudah gugur. Mereka berlari menyelamatkan diri. Sedangkan Duryodhana melarikan diri setelah mengetahui gugurnya Salya dan kehancuran prajurutnya serta tak seorangpun yang bisa diandalkannya lagi. Duryodhana bersembunyi di sebuah telaga. Sementara itu para Pandawa mencari Duryodhana di medan perang, namun tidak ditemukan.

Setelah mengetahui Prabu Salya gugur, salah seorang prajuritnya meninggalkan medan pertempuran dan melapor pada Dewi Setyawati. Mendapatkan laporan tentang suaminya yang gugur Ia kemudian pingsan. Setelah siuman Ia kemudian berpesan kepada dayang-dayangnya bahwa Ia akan mencari jenazah suaminya tersebut serta akan melakukan satya. Sugandika yang menjadi dayangnya ikut dengan Setyawati, setelah membersihkan diri dan berpakain serba putih mereka berjalan menuju bekas arena pertempuran. Disana Ia menemukan banyak jenazah dan belum menemukan jenazah suaminya, hingga Ia hampir putus asa, akhirnya ada petunjuk dari lagit tentang keberadaan jenazah Salya. Akhirnya Setyawati dan Sugandika melakukan satya.

Atas petunjuk Krisna, Pandawa menemukan keberadaan Duryodhana bersembunyi. Duryodhana pada saat itu sedang berendam disebuah telaga. Bima lalu berkata “Hai Duryodhana, ternyata kamu sudah tidak ksatriya lagi. Kamu meninggalkan medan perang karena takut mati. Kamu melarikan diri dan bersembunyi disini. Kamu kira aku tak akan bisa menemukanmu. Kemanapun kamu bersembunyi akan tetap aku kejar. Sekarang tunjukkanlah sikap kesatryamu. Ayolah kita bertempur sebagai kesatrya.” Mendengar tantangan Bima seperti itu akhirnya Duryodhana berkata, “Hai Bima dan kamu Pandawa semua, aku berendam disini bukan karena takut, tapi badanku terasa panas. Sekarang majulah kalian berlima serta seluruh prajuritmu rebutlah aku. Aku tidak takut menghadapi kalian semua seorang diri.” Mendengar kata-kata Duryodhana yang demikian congkak, Krisnapun berkata, “Hai Duryodhana, Pandawa tetap menjunjung tinggi sifat-sifat kesatrya. Pandawa menjadi tidak kesatrya bila mengeroyokmu. Oleh karena itu kamu boleh memilih salah satu dari mereka untuk bertempur denganmu.” Mendengar penjelasan Krisna, Duryodhana menjawab, “ Kalau begitu baiklah, aku akan memilih salah satu. Aku tidak memilih Nakula atau Sahadewa karena bagiku mereka masih terlalu kanak-kanak. Aku juga tidak memilih Arjuna karena Ia bersifat banci. Aku juga tidak mau bertempur dengan Yudhistira yang seperti pendeta. Satu-satunya yang cocok berhadapan denganku adalah Bima. Disamping antara aku dan Bima cukup seimbang, kebetulan sekali kami sama-sama bersenjatakan gada.

Setelah dialog tersebut disiapkan arena untuk perang tanding antara Bima dan Duryodhana. Sebelum perang dimulai, kebetulan Baladewa datang ke tempat itu. Semua yang ada disana memberi hormat atas kedatangannya. Duryodhana sangat senang atas kedatangan Baladewa begitu juga dengan Bima. Baladewa merupakan guru mereka dalam penggunaan senjata gada, kemudian mereka meminta restu untuk memulai pertempuran. Dan juga Baladewa diminta untuk menjadi saksi.

Perang antara Duryodhana dan Bima sangat seru. Setelah beberapa lama Krisna berteriak-teriak memberi semangat. Bima yang sedang bertempur tertarik mendengar teriakan Krisna lalu menoleh ke arah Krisna. Saat Bima menoleh Krisna menepuk pahanya dan mematahkan sepotong ranting. Melihat hal itu Bima lalu teringat akan sumpahnya bahwa Ia akan mematahkan paha Duryodhana. Oleh karena itu Ia mengusahaakan untuk hal itu, seketika Duryodhana melompat Ia memukil pahanya. Seketika itu Duryodhana roboh ke tanah dengan paha yang remuk. Bima lalu menginjak-injak kepalanya dan memakinya, “Hai Duryodhana, rasakan sekarang hasil perbuatanmu. Inilah balasanku atas segala kejahatanmu terhadap Pandawa.”

Baladewa yang meihat hai itu jadi sangat marah. Ia lalu menegur Bima, “hai Bima mengapa kamu menyalahi aturan perang gada. Bukankah kamu tahu, dalam perang gada tidak boleh memukul dibawah perut. Kenapa kamu memukul paha, disamping itru perbuatanmu mencaci musuh dan menginjak kepala musuh yang tek berdaya sudah bukan merupakan sifat kesatrya. Atas dosamu aku akan menghukummu, bersiaplah menerima pukulan gadaku.”

Krisna segera berlari menghalangi maksud Baladewa dengan memberikan penjelasan. “Kanda Baladewa, jangan dulu marah. Bima sengaja memukul paha Duryodhana karena ada alasannya. Pertama, Duryodhana telah banyak sekali berbuat dosa dan menyebabkan pihak Pandawa menderita. Kedua, karena Bima telah bersumpah akan mematahkan paha Duryodhana atas perlakuannya yang tidak senonoh terhadap Drupadi. Ketiga, Duryodhana telah terkena kutuk dari Maharsi Metrya, agar pahanya dipatahkan oleh nusuh karena penghinaannya terhadap Rsi tersebut. Atas tiga hal tersebut harap Kanda menjadi Maklum.” Setelah mendengar penjelasan tersebut, Baladewapun menjadi maklum dan meninggalkan tempat tersebut.

Setelah Baladewa pergi, Krisnapun mengajak para pendawa untuk meninggalkan tempat tersebut. Tetapi sebelum mereka pergi jauh Duryodhana yang tak berdaya masih bisa mengomeli Krisna yang telah memberi syarat pada Bima untuk menghantap pahanya, Ia juga menuduh Krisna telah menyebabkan kematian Bhisma dengan menyuruh Srikandi menghadapi Bhisma. Begitu pula kematiasn Drona, dengan menyuruh Yudhistira untuk berbohong. Jiga kematian Karna yang menyuruh Arjuna memanah Karna yang sedang memperbaiki kereta. Juga kematian Raja Sindu dengan membuat Kurusetra menjadi gelap

Terhadap omelan Duryodhana tersebut Krisna menjawab bahwa itu adalah akibat dari dosa-dosa Duryodhana sendiri, seperti meracuni Bima, membakar Pandawa dirumah Gala-gala, permainan judi yang curang serta mempermalukan Drupadi. Setelah memberi penjelasan tersebut Krisna dan Pandawa beranjak dari tempat itu, para prajurit langsung disuruh ke kemah sementara para Pandawa diajak bertirtayatra untuk penyucian diri lahir batin. Yaitu di telaga Pancaka Tirta, letaknya di tengah hutan dekat dengan medan Kuru Setra. Telaga ini dibuat oleh Bhagawan Parasu Rama pada zaman dahulu.

Di Hastinapura, Dhrstaarastha menanyakan bagaimana kematian Duryodhana yang pahanya remuk dipukul dan apa kata terakhir yang muncul dari mulutnya. Sanjaya menceritakan rintihan-rintihan Duryodhana kepada Dhrstarastha, juga pesannya kepada krpa, Krtavarma dan Asvatama serta menginformasikan perintahnya kepada Carvaka tentang saat terakhir yang sangat menyakitkan. Utusan Duryodhana tiba di perkemahan Asvatama dan menyampaikan pesan dari Duryodhana. Krpa, Krttavarma dan Aswathama tiba di medan pertempuran dan melihat pertempuran sudah selesai. Asvathama sangat sedih hatinya melihat runtuhnya kerajaan besar dibawah pimpinan Duryodhana dan akan memenuhi janji yang diminta Duryodhana. Sumpah Asvatama dan permintaan Duryodhana untuk menjadikan Krpa sebagai panglima perang, selanjutnya perpisahan perpisahan ketiga pahlawan itu dan berakhir dengan kematian Duryodhana.

==========

Kitab Salyaparwa merupakan kitab kesembilan dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah diangkatnya Salya sebagai panglima perang pasukan Korawa, menggantikan Karna yang telah gugur. di tangan Arjuna pada hari ke-17, Salya pun diangkat sebagai panglima baru pihak Korawa. Salya hanya memimpin selama setengah hari, karena pada hari itu juga Salya gugur di tangan Yudistira. Salya adalah kakak ipar Pandu yang terpaksa membantu Korawa karena tipu daya mereka.

Pada hari ke-18, ia diangkat sebagai panglima oleh Duryodana. Akhirnya ia pun tewas terkena tombak Yudistira.

Naskah Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuno mengisahkan bahwa Salya memakai senjata bernama Rudrarohastra, sedangkan Yudistira memakai senjata bernama Kalimahosaddha. Pusaka Yudistira yang berupa kitab itu dilemparkannya dan tiba-tiba berubah menjadi tombak menembus dada Salya.

Kematian Salya diuraikan pula dalam Kakawin Bharatayuddha. Ketika ia diangkat sebagai panglima, Aswatama yang menjadi saksi kematian Karna mengajukan keberatan karena Salya telah berkhianat, yaitu diam-diam membantu Arjuna. Namun, Duryodana justru menuduh Aswatama bersikap lancang dan segera mengusirnya.

Salya maju perang menggunakan senjata Rudrarohastra. Muncul raksasa-raksasa kerdil namun sangat ganas yang jika dilukai justru bertambah banyak. Kresna mengutus Nakula supaya meminta dibunuh Salya saat itu juga. Nakula pun berangkat dan akhirnya tiba di hadapan Salya. Tentu saja Salya tidak tega membunuh keponakannya tersebut. Ia sadar kalau itu semua hanyalah siasat Kresna. Salya pun dengan jujur mengatakan, Rudrarohastra hanya bisa ditaklukkan dengan jiwa yang suci.

Kresna pun meminta Yudistira yang terkenal berhati suci untuk maju menghadapi Salya. Rudrarohastra berhasil dilumpuhkannya. Ia kemudian melepaskan pusaka Kalimahosaddha ke arah Salya. Pusaka berupa kitab itu kemudian berubah menjadi tombak yang melesat menembus dada Salya.

Sementara itu menurut versi pewayangan Jawa, Rudrarohastra disebut dengan nama Candabirawa. Salya mengerahkan ilmu Candabirawa berupa raksasa kerdil mengerikan, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Puntadewa maju mengheningkan cipta. Candabirawa lumpuh seketika karena Puntadewa telah dirasuki arwah Resi Bagaspati, yaitu pemilik asli ilmu tersebut. Bahkan, sejak itu Candabirawa justru berbalik mengabdi kepada Yudistira. Selanjutnya, Puntadewa melepaskan Jamus Kalimasada yang melesat menghantam dada Salya. Salya pun tewas seketika.

Baik versi Bharatayuddha ataupun versi pewayangan Jawa mengisahkan setelah Salya tewas, istrinya yaitu Setyawati datang menyusul ke medan pertempuran untuk melakukan bela pati. Setyawati dan pembantunya yang bernama Sugandika kemudian bunuh diri menggunakan keris.

Pada hari ke-18 ini juga Sangkuni bertempur melawan Sahadewa. Dengan mengandalkan ilmu sihirnya, Sangkuni menciptakan banjir besar melanda dataran Kurukshetra. Sadewa dengan susah payah akhirnya berhasil mangalahkan Sangkuni. Tokoh licik itu tewas terkena pedang Sadewa. Menurut versi MahaBharata bagian kedelapan atau Salyaparwa, Sangkuni tewas di tangan Sahadewa, yaitu Pandawa nomor lima. Pertempuran habis-habisan antara keduanya terjadi pada hari ke-18. Sangkuni mengerahkan ilmu sihirnya sehingga tercipta banjir besar yang menyapu daratan Kurukshetra, tempat perang berlangsung. Dengan penuh perjuangan, Sahadewa akhirnya berhasil memenggal kepala Sangkuni. Riwayat tokoh licik itu pun berakhir.

Versi Jawa

Menurut Kakawin Bharatayuddha yang ditulis pada zaman Kerajaan Kadiri tahun 1157, Sangkuni bukan mati di tangan Sahadewa, melainkan di tangan Bimasena, Pandawa nomor dua. Sangkuni dikisahkan mati remuk oleh pukulan gada Bima. Tidak hanya itu, Bima kemudian memotong-motong tubuh Sangkuni menjadi beberapa bagian.

Pada hari terakhir Baratayuda, Sangkuni bertempur melawan Bima. Kulitnya yang kebal karena pengaruh Minyak Tala bahkan sempat membuat Bima merasa putus asa.

Penasihat Pandawa selain Kresna, yaitu Semar muncul memberi tahu Bima bahwa kelemahan Sangkuni berada di bagian dubur, karena bagian tersebut dulunya pasti tidak terkena Minyak Tala. Bima pun maju kembali. Sangkuni ditangkap dan disobek duburnya menggunakan Kuku Pancanaka yang tumbuh di ujung jari Bima.

Ilmu kebal Sangkuni pun musnah. Dengan beringas, Bima menyobek dan menguliti Sangkuni tanpa ampun. Meskipun demikian, Sangkuni hanya sekarat tetapi tidak mati.

Pada sore harinya Bima berhasil mengalahkan Duryudana, raja para Korawa. Dalam keadaan sekarat, Duryudana menyatakan bahwa dirinya bersedia mati jika ditemani pasangan hidupnya, yaitu istrinya yang bernama Banowati. Atas nasihat Kresna, Bima pun mengambil Sangkuni yang masih sekarat untuk diserahkan kepada Duryudana. Duryudana yang sudah kehilangan penglihatannya akibat luka parah segera menggigit leher Sangkuni yang dikiranya Banowati.

Akibat gigitan itu, Sangkuni pun tewas seketika, begitu pula dengan Duryudana. Ini membuktikan bahwa pasangan sejati Duryudana sesungguhnya bukan istrinya, melainkan pamannya yaitu Sangkuni yang senantiasa berjuang dengan berbagai cara untuk membahagiakan para Korawa.

Diceritakan Duryodana yang ditinggal mati saudara dan sekutunya dan kini hanya ia sendirian sebagai Korawa yang menyerang Pandawa. Semenjak seluruh saudaranya gugur demi memihak dirinya, Duryodana menyesali segala perbuatannya dan berencana untuk menghentikan peperangan.

Setelah kehabisan pasukan, Duryodhana bersembunyi di dasar telaga. Kelima Pandawa didampingi Kresna berhasil menemukan tempat itu. Ia pun bersedia untuk menyerahkan kerajaannya kepada para Pandawa agar mampu meninggalkan dunia fana dengan tenang. Sikap Duryodana tersebut menjadi ejekan bagi para Pandawa. Duryodana pun naik ke darat siap menghadapi kelima Pandawa sekaligus, sikap itu ditunjukan karena Ia tahu bahwa Pandawa tidak akan mungkin secara bersama-sama mengeroyoknya.

Yudistira menolak tantangan Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat pengecut dengan cara main keroyok, sebagaimana para Korawa ketika membunuh Abimanyu pada hari ke-13. Yudistira mengajukan tawaran, bahwa ia harus bertarung dengan salah satu Pandawa, dan jika Pandawa itu dikalahkan, maka Yudistira akan menyerahkan kerajaan kepada Duryodana.

Bima terkejut mendengar keputusan Yudistira yang seolah-olah memberi kesempatan Duryodana untuk berkuasa lagi, padahal kemenangan Pandawa tinggal selangkah saja. Dalam hal ini Yudistira justru menyalahkan Bima yang dianggap kurang percaya diri. Duryodana malu mendengarkan pembicaraan kakak dan adik ini. Ia menyadari nasi sudah menjadi bubur dan sekarang saatnya untuk mengakhriri. Meskipun bersifat angkara murka namun ia juga seorang pemberani.

Duryodana memilih bertarung dengan senjata gada melawan Bima. Kedua-duanya memiliki kemampuan yang setara dalam memainkan senjata gada karena mereka berdua menuntut ilmu kepada guru yang sama, yaitu Baladewa. Pertarungan terjadi dengan sengit, keduanya sama-sama kuat dan sama-sama ahli bergulat dan bertarung dengan senjata gada. Khasiat mata sang Ibunda Gandari memanglah hebat tidak ada satupun badan dari Duryodana dapat dilukai Bima. Bima walaupun bertenaga sangat kuat namun ia tidak kunjung dapat melukai Duryodana, Bima mulai kehilangan kepercayaan diri dan kelelahan sementara Duryodana justu semakin meningkat kepercayaan dirinya dan mulai berusaha untuk membunuh Bima. Bima mulai mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya, Ia semakin melemah sedangkan hari mendekati senja. Kontras dengan Bima, justru Duryodana semakin bersemangat.

Baladewa hadir juga menyaksikan pertempuran itu sehingga tidak leluasa bagi Krisna untuk memberikan petunjuk secara langsung kepada Bima. Satu kesalahan saja, akan membuat Baladewa memihak Duryodana. Akhirnya Kresna mengingatkan Bima akan sumpahnya (bahwa ia akan mematahkan paha Duryodana karena perbuatannya yang melecehkan Dropadi). Atas petunjuk Kresna, Bima menjadi ingat perbuatan keji Duryodana terhadap Droupadi dan mengingat sumpahnya kembali. Kemarahannya meningkat walaupun ia tidak yakin mampu melukai Duryodana Ia langsung mengarahkan gadanya ke paha Duryodana. Setelah pahanya dipukul dengan keras, Duryodana tersungkur dan roboh. Ia mulai mengerang kesakitan, sebab itulah bagian tubuhnya yang tidak kebal telah dipukul oleh Bima. Keadaan itu terjadi ketika Gandari meminta Duryodana telanjang dihadapannya, namun krisna waktu itu mengejeknya tidak tahu tahu sopan santun karena menghadap ibunda dengan posisi telanjang. Ia kemudian memakai penutup pinggang hingga ke paha.

Saat Bima ingin mengakhiri riwayat Duryodana, Baladewa datang untuk mencegahnya dan mengancam bahwa ia akan membunuh Bima. Baladewa juga memarahi Bima yang telah memukul paha Duryodana, karena sangat dilarang untuk memukul bagian itu dalam pertempuran dengan senjata gada.

Kresna kemudian menyadarkan Baladewa, bahwa sudah menjadi kewajiban bagi Bima untuk menunaikan sumpahnya. Kresna juga membeberkan kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh Duryodana. Duryodana lebih banyak melanggar aturan-aturan perang daripada Bima. Ia melakukan penyerangan secara curang untuk membunuh Abimanyu. Ia juga telah melakukan berbagai perbuatan curang agar Indraprastha jatuh ke tangannya.

Duryodana gugur dengan perlahan-lahan pada pertempuran di hari kedelapan belas. Hanya tiga ksatria yang bertahan hidup dan masih berada di pihaknya, yaitu Aswatama, Krepa, dan Kretawarma. Sebelum ia meninggal, Aswatama yang masih hidup diangkat menjadi panglima perang.

About Bombo Unyil

Anak dirantau, sendiri , disini , di Dunia Maya
This entry was posted in Mahabharata and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s